Wah Bang Patrick.. kalau ditilik lebih seksama.. saya tuh sepaham dengan Anda. Harapan Bang Patrick harapan besar saya juga.. sungguh deh.
Perihal data-data yang saya berikan sama sekali bukan sebuah sikap yang pesimistis akan tetapi sebagai data dan fakta untuk kita semua bisa berstrategi. Strategi dalam "membuka" mata masyarakat.. baik itu pemirsa TV-nya, pembuat TV, KPI, atau siapa pun yang peduli dengan pertelevisian kita. Data itu anggap saja sebagai peta. Dimana kondisi di lapangan itu sudah nyaris mencapai titik jenuh. Variasi program TV sangat dibutuhkan. Kemunculan acara talkshow sejenis Empat Mata, lahir bukan dari analisa data yang canggih.. saya yakin acara itu lahir dengan konsep "kebetulan". Saya gak yakin kalau NGATINI dan NGATIYEM itu di casting khusus untuk "menimpali" Tukul. Begitupun format acaranya. Setahu saya format acara Empat Mata ini lebih ke acara esek-esek. Namun fakta pemirsa membuktikan hal lain. Mereka jenuh dengan format acara tersebut lantas perlahan2 bergeserkan format Empat Mata menjadi acara talkshow format ringan. Hal ini membuktikan langkah TV7 (sebelum menjadi Trans7) cukup berani menampilkan format acara lain. Semoga cara ini berani pula ditempuh TV lain untuk tidak "mengekor". Dengan demikian variasi acara2 pasti akan lebih beragam. Untuk iklan di TV kabel, justru salah kaprah nih Bang :D Harusnya yang namanya TV kabel itu tidak boleh beriklan (commercial break). Kalau mau beriklan di dalam acara. Seperti Tiger Beers di acara Liga Inggris, atau Sony di AXN. Jadi sponsor langsung mensponsori program. Ketika break iklan paling iklan program mereka sendiri aja. Mengapa? ya kan kita sudah bayar bulanan.. bedanya dengan TV terrestrial kan mereka tidak kena iuran (monthly fee) sementara TV kabel / berlangganan.. pemirsanya kena iuran. Artinya ada tidak ada iklan mereka akan tetap punya pemasukan tetap. (Ada pakar TV yang bisa menjelaskan ini lebih detil?) Mari Bang Patrick.. kita berdoa semoga TV lokal kita gak kalah menarik dengan TV kabel Motulz Patrick <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas Motul, Saya termasuk org yg awam dgn dunia pertelevisian. Tp saya sgt tertarik dgn perkembangan industri televisi di tanah air. Salah satunya adalah keberadaan televisi kabel/berlangganan yg semakin terjangkau harganya. Dan, saya juga optimis bahwa tren ini menjelma menjadi tren yg positif. Setidaknya, masyarakat (mungkin kelas menengah)pny alternatif lain. Saya juga memerhatikan bbrp iklan nasional/lokal sudah mulai menyelip masuk ke TV kabel, meskipun slotnya masih sedikit. Beberapa tahun lalu hal ini mungkin sulit kita temui di TV kabel. Walaupun "market share"-nya masih sedikit bila dibandingkan tv nasional, setdknya skrg saya lihat bbrp perubahan dlm program2 tv nasional, spt Trans TV, Trans-7, & Star-AN TV. Apakah perubahan itu berkaitan langsung dgn keberadaan TV Kabel yg semakin terjangkau harganya? Saya juga tidak tau pasti :) Apalg kalau KPI yg baru dilantik berhasil menegakkan pemberlakuan konsep televisi nasional yg berjaringan, bisa-bisa perkembangan industri televisi akan semakin menarik. Maaf yah Mas kalau saya kelewat optimis :) Salam hangat, Patrick Hutapea > --- "/\\/\\ o + u |_ z" wrote: > > > Saya ingin mencoba realistis melihat karakter > > penonton (pemirsa) TV. Dalam hal ini saya gak ingin > > kita semua terjebak pandangan sempit atas jumlah > > pemirsa TV kabel versus TV terrestrial (TV lokal) > > > > Menurut data nationmaster, tahun 2003 penonton TV > > Indonesia itu berjumlah 13,750,000. Sementara tahun > > 2006, menurut Warta Ekonomi jumlah TV di Indonesia > > sudah mencapai 30.000.000 unit! Sangat fantastis! > > > > Dari 200.000.000 penduduk Indonesia, hanya > > 30.000.000 penonton TV, dari 30.000.000 itu ternyata > > pelanggan TV kabel HANYA 1.500.000 pelanggan!! Ini > > peningkatan yang baik mengingat pada tahun 2002 cuma > > 100.000 pelanggan, kemudian 2005 sebanyak 400.000 > > pelanggan. (Data dari Ade Armando - KPI di Warta > > Ekonomi) > > > > Bayangkan jika 1,5jt dilawan dengan 28,5jt penonton > > TV non-kabel. Walaupun pertumbuhan hingga 100% pun > > (3 - 4 juta) tetap saja masih tidak berbanding. Dari > > 28juta penonton TV tersebut, saya yakin sekitar 90% > > adalah penonton kelas C dan D. Yang mana selera > > programnya masih sekitar : sinertron, infotainment, > > religi-mistik, dan kriminal. > > > > AC Nielsen (lembaga resmi angka rating) jelas > > menghitung rating program TV berdasarkan penonton > > aktif TV nasional, ya.. TV terrestrial lah yang jadi > > samplingnya. > > > > Jadi, harapan kita semua ttg program TV nasional > > yang bermutu nampaknya masih jauh. Semoga saya tidak > > pesimis tapi inilah kenyataan yang harus kita > > hadapi. > > > > Salah satu solusi yang mungkin bisa memberikan warna > > baru adalah dengan membuat TV program atas dana > > pemerintah yang ditayangkan di TV swasta > > (non-kabel). Jika dulu kita berfikir TVRI merupakan > > corong pemerintah, maka sudah saatnya pemerintah > > expand membuat production house yang cuma bikin > > program. > > > > Konsep ini sudah banyak contohnya, misalnya History > > Channel, PBS, Discovery Channel, National Geographic > > dlsb. Ya mereka memang bukan program TV pemerintah > > akan tetapi milik yayasan yang konsepnya membuat > > program tanpa perlu membuat station pemancar. > > Program bermutu yang banyak dibuat untuk ditayangkan > > di TV manapun. > > > > Salam Nonton TV > > Motulz > ===================================================== Pojok Milis FPK: 1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links --------------------------------- 8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time with theYahoo! Search movie showtime shortcut. [Non-text portions of this message have been removed]
