Hari ini sudah mulai diiklankan, wajib militer bagi rakyat umur 18 tahun, sifatnya masih voluntir, bagi yang berminat ikut, mendaftar di Koramil setempat, dapat gaji dari militer.
asyikkkk sekarang di pasar-pasar, di bar-bar, di tempat-tempat kumpul akan ada informan jaringan Koramil, jadi setiap saat bentuk- bentuk penyimpangan kiri atau kanan bisa langsung diketahui oleh Koramil. Setelah dibuat daftar, kelompok kiri, dan kelompok kanan. sewaktu-waktu daftar tersebut bisa digunakan, minimal, para Informan ini bisa melaporkan gerakan money politics diluar partai TNI, untuk bisa dibungkam sedini mungkin. pengangguran sekarang bisa dapat kerja menjadi informan. salam, GG Di Suara Pembaruan edisi Selasa sore ini saya membaca judul head line nya yi WNI 18 th KEATAS WAJIB LATIHAN MILITER. Mungkin besok Rabu Kompas juga akan memuat head line yang sama. Wah wah wah apalagi nih yang mau dilakukan pemerintah dalam hal ini Departemen Pertahanan Keamanan? Ya mungkin Dephan melihat ada hal hal yang perlu untuk menggolkan UU ini? Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya ketika memasuki suatu university negeri di Jakarta th 66 lalu, saat itu memang diwajibkan Wajib Militer bagi para mahasiswa baru. Untuk Universitas negeri dikenal dengan nama WALAWA (Wajib Latih Mahasiswa) dengan komando dibawah HANKAM dan untuk universitas swasta dikenal dengan nama MENWA dan untuk Jakarta dikenal dengan nama MAHADJAYA dibawah komando KODAM V DJAYA dan diwilayah lain dibawah komando KODAM masing masing. Istilah WALAWA pun juga bbrp tahun kemudian diganti (kalau tak salah) dengan istilah lain yang saya tidak ingat lagi. Setelah bbrp bulan mengikuti latihan kemiliteran kami diberi sertifikat dari DEP HANKAM dengan status TAMTAMA CADANGAN dan bagi yang setelah lulus dari program sarjana dapat melanjutkan ke pendidikan PERWIRA CADANGAN dan katanya bisa juga masuk jadi militer aktive. Saya tidak tahu berapa % mahasiswa yang lulus melanjutkan karirnya dibidang militer. Cuma yang saya ingat ekses dari pendidikan itu yi mereka yang memang berjiwa jagoan maka kesempatan menjalani pendidikan kemiliteran itu dimanfaatkan untuk menjadi, apa yang dikenal saat itu yi "militer kampus". Gaya mereka sangat menyerupai militer bahkan kadang kadang melebihi militer (over acting). Bagi mereka yang orang tuanya memang militer, mungkin karena bakat yang terpendam untuk menjadi militer tidak tersalurkan karena mungkin tidak diterima di AKABRI maka kesempatan menjadi militer kampus itu dimanfaatkan dengan seenaknya membawa pistol kekampus dan mereka membawanya dipinggang seperti militer asli. Lucunya ada juga yang membawa pistol didalam baju didada seperti intel atau spy dan agak ditonjol tonjolkan supaya semua orang tau bahwa dia bawa pistol. Bagi anda anda yang seumur dengan saya tentu ingat bahwa jika kita lewat markas mereka didalam kampus itu maka seakan akan kita lewat markas militer karena mereka menuntut penghormatan ala militer juga dari sesama rekannya sendiri. Pokoknya "keren abis" lah kalau pakai istilah jaman sekarang. Saya yang memang sebenarnya juga ingin masuk militer tapi karena saat itu AKABRI tidak bisa menerima siswa dari SMA SOS maka cukup lumayanlah pengalaman menjalani WAJIB MILITER seperti itu dimana kita bisa latihan menembak. Sayangnya karena orang tua saya bukan militer dan tidak ada kenalan yang bisa dipinjami pistol maka saya tidak bisa ikut nampang bawa psitol dipinggang atau didada seperti JAMES BOND. Jika ketentuan WAJIB MILITER ternyata dapat dijalankan lagi mari kita lihat ekses ekses apa saja yang akan terjadi dimasyarakat kita atau dikampus kampus? Akankah kejadian yang saya alami dith 1966 itu akan terulang lagi dengan porsi yang lebih besar hanya waktu saja yang bisa menjawabnya. Wassalam Hardjo MANTAN TAMTAMA CADANGAN YANG TERUS JADI CADANGAN SAMPAI AKHIR HAYAT.
