Quote: Namun, upaya penerapan CSR sendiri bukannya tanpa hambatan. Dari kalangan ekonom sendiri juga muncul reaksi sinis. Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain. End of quote.
Kopitalisme: Dalam implementasinya, penerapannya (CSR) ½dikawal½ oleh beberapa background (Misalnya, ekonom berbasis ekologi, lawyer berbasis gender equality, komponen-komponen local civil society, dll. sesuai karakteristik bisang usaha dan dimana lokasi proyeknya) Dilain pihak Sang Pengusaha bisa saja tetap dengan missi bisnisnya: Profit. (ini juga bukan masalah) Jadi semacam ´konsorsium´ gitu. Jadi kalau pengusaha (ini misalkan saja) ngotot mau bangun lapangan terbang mini utk mendukung kelancaran transportasi bisnisnya disebuah lokasi yang terpencil. Namun lokasi tsb tidak memungkinkan (menurut standard-standard ekologis dan keinginan common ground di lokasi tsb) maka sang ekologist ´baku pukul mejalah´ dengan sang Pengusaha. Dan apakah lapangan terbang tersebut bisa terlaksana atau tidak, beberapa aspek legal-formal tetap harus ´tunduk´ pada rekomendasi-rekomendasi yg dibuat dalam survey oleh team dalam ´konsorsium´ itu... Demikian halnya, misalkan sebuah proyek akan didukung secara finansial, mempersyaratkan keterlibatan wanita disebuah lokasi proyek. (umumnya proyek-proyek yang diback-up oleh CIDA mempersyaratkan hal itu) Maka, dianalisis dulu apakah -secara kultural- wanita di lokasi tersebut memang ´wajar´ untuk terlibat dalam proses (jalannya proyek itu)? Sebagai misal, ada sebuah lokasi rencana pengembangan pengalengan ikan sekaligus dengan proses penangkapannya (nelayan/fishing) Akan tetapi secara ´kultural´ wanita di daerah tersebut tidak mau (atau tidak pernah) terlibat dalam proses penangkapan ikan (menjadi nelayan), nah disitu peran ´aktifis/lawyer/ngo´ kesetaraan gender terlibat memberi rekomendasi-rekomendasi yang paling dekat dengan realitas lapangan... Demikian sharing saya Bung Satrio... Mas FUN be with you... Kopitalisme http://kopitalisme.tk http://kopitalisme.blogspot.com Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Membangun CSR di Tengah Resistensi Publik Oleh Satrio Arismunandar Kita tidak dapat membangun suatu masyarakat yang makmur, tanpa bisnis yang menguntungkan. Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa menumbuhkan suatu ekonomi yang kompetitif di lahan sosial yang gersang. Hmm, kedengarannya puitis, bukan? Namun, pernyataan di atas bukanlah sekadar retorika atau ucapan pemanis mulut. Ungkapan itu sebenarnya ingin menggarisbawahi perlunya tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (corporate social responsibility), di tengah lingkungan sosial dan publik, yang kini semakin kritis menyoroti berbagai praktik bisnis yang dilakukan perusahaan. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di Indonesia, perusahaan pertambangan Freeport di Papua kerap dikecam dengan tuduhan perusakan lingkungan. Sedangkan, perusahaan sepatu Nike sering dituduh menggunakan buruh anak-anak, di pabrik-pabriknya yang berlokasi di negara berkembang. Masih ada segudang contoh lagi, yang tak perlu kita sebut satu-persatu. Citra perusahaan yang buruk, yang sering dimunculkan di media massa, jelas tidak mendukung kelancaran operasional perusahaan dan bersifat kontra-produktif terhadap upaya peningkatan produktivitas dan keuntungan. Kini semakin diakui bahwa perusahaan, sebagai pelaku bisnis, tidak akan bisa terus berkembang, jika menutup mata atau tak mau tahu dengan situasi dan kondisi lingkungan sosial tempat ia hidup. Dalam kaitan itulah, penerapan CSR dipandang sebagai sebuah keharusan. CSR bukan saja sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebuah kewajiban. CSR adalah suatu peran bisnis dan harus menjadi bagian dari kebijakan bisnis. Maka, bisnis tidak hanya mengurus permasalahan laba, tapi juga sebagai sebuah institusi pembelajaran. Bisnis harus mengandung kesadaran sosial terhadap lingkungan sekitar. Enam Kecenderungan Utama Tetapi makhluk apakah sebenarnya CSR itu? Sebetulnya tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang CSR. Namun, rumusan yang diberikan oleh Holme dan Watts dari The World Business Council for Sustainable Development tampak cukup membantu kita dalam memahami CSR. Mereka menyatakan, CSR adalah komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk berperilaku secara etis dan memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya (CSR: Meeting Changing Expectations, 1999). Ada enam kecenderungan utama, yang semakin menegaskan arti penting CSR. Yaitu: meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin; posisi negara yang semakin berjarak pada rakyatnya; makin mengemukanya arti kesinambungan; makin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan yang bersifat anti-perusahaan; tren ke arah transparansi; dan harapan-harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi pada era milenium baru. Tak heran, CSR telah menjadi isu bisnis yang terus menguat. Isu ini sering diperdebatkan dengan pendekatan nilai-nilai etika, dan memberi tekanan yang semakin besar pada kalangan bisnis untuk berperan dalam masalah-masalah sosial, yang akan terus tumbuh. Isu CSR sendiri juga sering diangkat oleh kalangan bisnis, manakala pemerintahan nasional di berbagai negara telah gagal menawarkan solusi terhadap berbagai masalah kemasyarakatan. Tantangan terhadap CSR Namun, upaya penerapan CSR sendiri bukannya tanpa hambatan. Dari kalangan ekonom sendiri juga muncul reaksi sinis. Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain. Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial di baliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan di mata publik ataupun pemerintah. Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main. Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan. CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya. *** Satrio Arismunandar Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com "If you know how to die, you know how to live..."
