Salam
Marilah kita lihat komitmen awal arah ke depan diplomasi kita. Kita ingin lebih
mempunyai peran dalam penyelesaian masalah2 global tetap dengan mengacu
politik bebas aktif kita. Menjadi anggota tidak tetap DK PBB adalah langkah awal
ke arah itu. Saya kira ini bukan masalah menjadi pahlawan.
Ini juga jelas bukan masalah tentang Islam atau non Islam. Permasalahannya
adalah upaya negara berkembang untuk mengembangkan energi nuklir dan ini
dilihat AS sebagai ancaman kepada kepentingan AS. Sama seperti kasus
"privatisasi" di negara2 Amerika Latin yang juga mengancam hegemoni AS.
Pengembangan energi nuklir di semua negara tunduk pada IAEA, dimana pada
kasus Iran rekomendasinya adalah belum cukup data apakah pengembangan
nuklir Iran untuk damai atau persenjataan. Namun dengan model diplomasinya
AS berhasil memaksa PBB mengeluarkan resolusi. Hal ini yang tidak dicover
oleh penjelasan Dino.
Tentu saja kita tidak rugi mendukung resolusi tersebut. Hanya kita melihat
komitmen diplomasi kita dengan riilnya saja pasti deh diketawain oleh
publik. Soal efektif tidaknya resolusi tersebut, bisa dilihat dari sejak
resolusi
tersebut keluar, pasukan AS dekat dengan perbatasan Iran, telah melakukan
"warming up". Ntar kalo sudah terjadi Irak part II, nambah deh daftar malu kita
di bidang diplomasi. (Ambalat dsb ). Apa sih yang dapat kita banggakan sekarang
ini ?
Maaf jika opini saya salah
Wasallam
From: Maulana Raja Aisyana
Date: 03/29/2007 11:14:27 AM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RI, DK PBB, dan Nuklir Iran
Ga usa jadi pahlawan kesiangan. Bahwa dengan membela Iran berarti melawan
hegemoni Amerika. Ini logika biner yang menempatkan dunia ini hanya pada dua
kekuatan, yaitu Iran (sebagai tertindas) dan selebihnya adalah sekutu Amerika
(penindas). Sungguh pikiran yang naif dan simplistis.
Penjelasan Dino sangat masuk akal. Reaksi DPR dan beberapa elit ormas Islam
yang mempertanyakan dukungan RI atas resolusi sebenarnya terjawab dengan jelas
dari tulisan Dino.
Masalah Iran tidak ada urusannya dengan Islam. Ini masalah politik. Dan sekali
lagi tak ada ruginya dengan mendukung resolusi tersebut. Kita buktikan nanti,
apakah resolusi ini efektif atau justru meningkatkan tensi ketegangan global.