Menurut saya ini suatu pilihan yang bijak berdasarkan situasi dan kondisi
yang ada. Apa yang kita pilih tidak selalu harus mencerminkan apa yang kita
mau. Ini hanya sebuah babak dari permainan yang panjang. Toh resolusi ini
tidak membuat Iran besok jadi kiamat.
Kepentingan 250 juta penduduk harus selalu jadi pertimbangan jangan sampai
bertindak ceroboh karena memaksakan diri sehingga terjerumus kepada situasi
bangsa yang lebih keruh dan keruh dan keruh.

Yang kedua, kedepan memang PBB harus dimerdekakan supaya jangan menyusu
terus kepada USA dkk. Sesuatu yang memang berat atau agak mustahil untuk
sementara waktu tapi itulah tugas generasi penerus masyarakat dunia untuk
bisa merealisasikannya demi melihat dunia yang lebih adil. Kalau tidak punya
cita-cita kearah situ, selamanya dunia secara politik akan kekal dibagi atas
kasta-kasta dan yang sekarang berkasta tinggi akan terus berusaha
menciptakan suasana kekastaan dengan cara apapun demi kepentingan sendiri.

Saya kira Iran sudah paham dan siap dengan apa yang terjadi karena ini sudah
difikirkannya.

SH

On 28 Mar 2007 01:36:33 -0700, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>   Oleh Dino Patti Djalal
> Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara
> Presiden
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/28/opini/3413957.htm
> ================================
>
> Mengapa Indonesia mendukung Resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai
> Iran? Bukankah Indonesia selama ini mendukung posisi Iran, yang
> merupakan negara Islam? Apakah Indonesia ditekan oleh negara-negara
> Barat? Apakah Indonesia tidak melenceng dari politik bebas aktif?
>
> Pertanyaan-pertanyaan ini banyak dilontarkan dewasa ini setelah Dewan
> Keamanan (DK) PBB mengeluarkan Resolusi 1747 (24 Maret 2007) mengenai
> Iran yang didukung secara aklamasi oleh 15 negara anggota DK PBB,
> termasuk Indonesia. Sebelumnya, DK PBB mengeluarkan Resolusi 1737 (23
> Desember 2006) yang memberikan sanksi terbatas terhadap Iran, tetapi
> pada waktu itu Indonesia belum menjadi anggota DK PBB.
>
> Untuk memahami posisi Indonesia terhadap Resolusi 1747, perlu
> dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
>
> Tidak berubah
>
> Pertama, dengan mendukung resolusi ini, posisi prinsip Indonesia
> tetap tidak berubah, yakni mendukung hak Iran untuk mengembangkan
> energi nuklir selama untuk tujuan damai dan kepentingan sipil, bukan
> militer. Sayangnya, kepercayaan masyarakat internasional terhadap
> program nuklir Iran sangat lemah. Betapapun kita memercayai niat
> Iran, selama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)—badan
> internasional yang paling berkompetensi untuk urusan energi nuklir
> damai—belum dapat memberikan jaminan resmi bahwa program nuklir Iran
> adalah hanya untuk tujuan damai, sulit bagi Indonesia untuk mendukung
> Iran sepenuhnya.
>
> Faktanya, sampai sekarang Direktur Jenderal IAEA Mohammed El Baradei,
> pemenang Nobel yang kompetensi teknis dan kredibilitas moralnya
> sangat tinggi, menyatakan bahwa ia masih belum bisa mengambil
> kesimpulan yang pasti terhadap program nuklir Iran karena
> kurangnya "transparansi dan kerja sama" dari Iran.
>
> Kedua, Resolusi 1747 juga didukung oleh Qatar sebagai anggota tidak
> tetap Dewan Keamanan PBB yang mewakili kawasan Timur Tengah. Dalam
> kenyataannya, banyak negara Islam di Timur Tengah yang, karena
> berbagai faktor, juga prihatin terhadap program nuklir Iran. Dengan
> kata lain, ini bukan masalah membela negara Islam karena pada
> kenyataannya negara Islam lainnya juga mendukung Resolusi 1747.
> Bahkan, sederetan negara Islam dan Arab mengharapkan Indonesia
> mendukung resolusi ini.
>
> Ketiga, apa pun posisi Indonesia, Resolusi 1747 sejak awal dipastikan
> akan gol; apakah melalui keputusan konsensus ataupun pemungutan
> suara, karena suara lima anggota tetap DK PBB yang mempunyai hak veto
> (AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan China) sudah bulat memajukan
> rancangan resolusi tersebut.
>
> Karena itu, Indonesia mempunyai dua pilihan: 1) abstain, dengan
> risiko bahwa resolusi tersebut akan jalan terus tanpa Indonesia mampu
> memengaruhinya; atau 2) ikut proses merancang resolusi sehingga
> Indonesia bisa memasukkan unsur-unsur politis dan strategis yang bisa
> memodifikasi resolusi tersebut, dengan membuatnya lebih konstruktif,
> lebih berimbang, serta tetap membuka peluang bagi Iran untuk kembali
> ke meja perundingan.
>
> Terhadap kedua pilihan ini, Indonesia memilih opsi kedua yang
> memungkinkan Indonesia berperan di dalam (ketimbang tertinggal di
> luar).
>
> Setelah mengadakan konsultasi yang sengit dengan negara-negara
> anggota tetap, akhirnya masukan-masukan Indonesia dan Afrika Selatan
> dimasukkan dalam resolusi. Sebagian dari masukan-masukan ini
> sebenarnya juga mencerminkan aspirasi Iran, misalnya mengenai
> perlunya perundingan kembali dilakukan dengan itikad baik (selama ini
> kecurigaan Iran terhadap negara-negara Barat juga sangat tinggi),
> serta jaminan pengembangan nuklir untuk tujuan damai.
>
> Bahkan, masukan Indonesia dalam resolusi justru dihargai oleh negara-
> negara Arab karena dengan mengajukan konsep kawasan bebas senjata
> pemusnah massal di Timur Tengah, DK PBB didorong untuk konsekuen dan
> tak diskriminatif terhadap Iran karena implikasinya konsep tersebut
> berlaku bagi semua negara di Timur Tengah, termasuk Israel yang
> disinyalir memiliki senjata nuklir.
>
> Dalam saat-saat terakhir, Presiden Yudhoyono sendiri turut aktif
> mengupayakan jalan tengah dengan menelepon Presiden Afrika Selatan
> dan Presiden Iran. Sebelumnya, dalam pembicaraan dengan Presiden
> George W Bush, Presiden SBY juga menekankan hak Iran untuk
> mengembangkan nuklir selama untuk tujuan damai. Namun sayangnya,
> terlepas dari segala upaya tersebut, tetap tidak ada gejala kompromi
> dari Iran.
>
> Keempat, posisi Indonesia terhadap Resolusi 1747 justru mencerminkan
> politik luar negeri yang bebas aktif. Pada prinsipnya, Indonesia
> tidak tunduk pada anggota tetap DK PBB mana pun, tetapi kita juga
> tidak serta-merta bertuan kepada Iran. Indonesia hanya dipertuan oleh
> kepentingan dan pertimbangannya sendiri. Yang menjadi aset diplomasi
> kita justru adalah hubungan baik Indonesia dengan seluruh negara
> besar dan juga dengan Iran, yang sering kali menempatkan Indonesia
> dalam posisi untuk menjembatani berbagai perbenturan. Karena itu,
> dalam menjalankan diplomasi bebas aktif, Indonesia tidak dapat dengan
> gelap mata menuruti kehendak negara lain, besar atau kecil, timur
> atau barat. Hal ini perlu dimengerti oleh sahabat internasional kita
> dan juga oleh elite politik dan masyarakat kita, terutama karena
> dalam dua tahun ke depan Indonesia akan menghadapi banyak sekali
> masalah yang rumit di DK PBB yang menuntut kejernihan berpikir dan
> ketegasan bersikap kita.
>
> Lebih berimbang
>
> Dalam DK PBB, Indonesia telah berperan memengaruhi negara-negara
> anggota tetap DK untuk menghasilkan resolusi yang lebih berimbang.
> Kini Indonesia, sebagai negara sahabat Iran, juga perlu meyakinkan
> Iran agar dapat mencerna Resolusi 1747 dengan kepala dingin, tidak
> konfrontatif, dan dengan secara jeli membaca peluang-peluang dan
> memanfaatkan sejumlah insentif yang ada dalam resolusi. Iran juga
> harus berupaya keras menggandeng dan meyakinkan IAEA sebagai cara
> paling ampuh untuk menjaga kredibilitas program nuklirnya.
>
> Situasi nuklir Iran masih belum mencapai titik krisis dan ruang gerak
> untuk penyelesaian damai dan bermartabat masih besar. Lihat saja di
> Korea Utara, di mana setelah perang urat saraf dan tarik- menarik
> yang sangat alot, proses perundingan enam pihak (Korea Utara, Korea
> Selatan, China, Jepang, AS, dan Rusia) akhirnya dapat menghasilkan
> kesepakatan yang diterima semua pihak, padahal Korea Utara telah
> secara terbuka menyatakan niatnya membangun senjata nuklir dan bahkan
> telah keluar dari Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).
>
> Dalam dunia diplomasi, memang mencari solusi jauh lebih sulit
> daripada membentengi diri. Namun, saya yakin dengan diplomasi yang
> kreatif, sikap yang open minded DK PBB, serta respons yang akomodatif
> dari Iran, masalah nuklir Iran kelak akan mencapai titik temu.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



=====================================================
Pojok Milis FPK:

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke