Dear Rekan Forum Pembaca Kompas,

Selama kemiskinan terbangun sebagai obyek bagi
politisi (retorika dalam pidato2), bagi masyarakat
sendiri (narsisme masyarakat dan dependensi pada pihak
di luar dirinya), dan bahkan bagi kaum rohaniwan (yang
sadar atau pun tidak menghidupi dualisme agama dalam
tatanan praksis dan penghayatan), maka menjadi
sempurnalah benteng perlindungan kemiskinan, kaum
miskin dan upaya mendorongnya keluar dari keadaan
fatalisme itu. Nasihat Karl Marx cacat dalam hal
tujuan akhir kerja manusia, tetapi ia berada dalam
baris terdepan pembebasan sosial dari keadaan
fatalistis itu.   

Keburu dianggap GERAK (Gerakan Anti Komunis) sebagai
bangkitnya komunisme, deskripsi padat-konstruktif
dalam executive briefing ini dicerna dan direnung.


EQUAL, no.2: Pengentasan Kemiskinan di Daerah

PENGENTASAN KEMISKINAN DI DAERAH 

Keterbatasan keahlian dan keuangan dapat menghambat
pengadaan jasa-jasa sosial seperti pendidikan,
kesehatan, air bersih, sanitasi, listrik, di
negara-negara berkembang selama ini. (Rehman Sobhan,
National Level Social Policies in Developing
Countries, 1997.) Kondisi ini mungkin dialami oleh
sejumlah daerah di Indoensia setelah pemberlakukan UU
No. 34 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Peraturan
Pemerintah (PP) No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah
Otonomi, UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah. Keterbatasan dana dan
keahlian menyebabkan upaya mengentaskan kemiskinan
terhambat. Apa jalan keluarnya?

Ada pelajaran penting dari pengalaman RRC dan Vietnam
mengatasi kendala tersebut. Kedua negara ini selama
kira-kira 50 tahun terakhir termasuk negara yang
mencatat tingkat buta huruf sangat tinggi, kematian
bayi sangat tinggi, pendidikan dan usia harapan hidup
sangat rendah. Kemudian pemerintah kedua negara
mengubah arah kebijakan ke arah kebijakan sosial.
Program riilnya antara lain perbaikan dan peningkatan
jasa-jasa layanan utama bagi rakyat seperti
pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan,
pelestarian lingkungan, dan kesetaraan gender. Saat
ini, program-program semacam ini menjelaskan kisah
sukses kedua negara.


Komitmen pemerintah di bidang program sosial
dilegalkan. Pengalaman kedua negara tersebut di atas
menunjukkan keuangan, keahlian, pertumbuhan ekonomi
bukan faktor sangat menentukan. Sebab, justeru
komitmen negara dan pemerintah jauh lebih menentukan
program-program sosial, pendidikan, kesehatan,
sanitasi dasar, kesetaraan gender, lingkungan,
remunerasi, ketenagakerjaan, dan keahlian. Pengalaman
serupa juga diterapkan oleh negara lain. Cile, RRC,
Costa Rica, Kuba, Kerala, dan Sri Lanka memiliki
pendidikan dasar. Di sana tidak ada diskriminasi
gender. Rata-rata fertilitas di Kerala berkisar 1,8,
dan Kuba 1,7 lebih rendah dari beberapa negara maju.
Masing-masing dari negara ini memperlihatkan tingginya
indeks kesetaraan gender. Bahkan perempuan
memperlihatkan indikator-indikator sosial lebih tinggi
dari pria. Status sosial-ekonomi perempuan ternyata
memiliki korelasi positif dengan kinerja
sosial-ekonomi negara secara keseluruhan. Hal ini
antara lain karena sejumlah program sosial terutama
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
perempuan. (Dharam Ghai, "Social Development and
Public Policies: Lessons from Successful Experiences",
UNSRID, 1997.)

Servas Pandur



 
____________________________________________________________________________________
TV dinner still cooling? 
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/

Kirim email ke