Penelitian Terbaru: Jakarta Terancam Tenggelam  
  

Jakarta–Sebagian wilayah Jawa Barat, Banten dan hampir seluruh DKI Jakarta akan 
tenggelam. Demikian salah satu kesimpulan penelitian yang memetakan kemungkinan 
akibat naiknya permukaan laut dan badai siklon. Penelitian yang juga 
mengidentifikasi populasi yang terancam itu akan diterbitkan 14 April mendatang 
di jurnal Environment and Urbanization. 

  Laporan itu disusun oleh Gordon McGranahan dari International Institute for 
Environment and Development (Britania) bersama rekannya Deborah Balk dan 
Bridget Anderson dari City University of New York dan dari Columbia University.

  Penelitian memperlihatkan sepersepuluh penduduk bumi, atau 634 juta orang 
tinggal hanya pada berjarak 10 meter dari pinggir laut. Mereka semua terancam 
tenggelam jika es kutub bumi mencair, di antaranya sebagian wilayah Jawa Barat, 
Banten dan hampir seluruh DKI Jakarta akan terendam.
Laporan itu juga mengajak untuk melakukan tindakan menghadapi pemanasan global 
yang diperkirakan memicu kenaikan permukaan laut dan timbulnya cuaca ekstrem. 
Tindakan yang dibutuhkan menyangkut penegakan peraturan dan insentif ekonomi, 
yang keduanya sangat bergantung pada kemauan politik, pendanaan dan sumber daya 
manusia.

  “Pembangunan perkotaan di zona pesisir mengakibatkan dampak berbagai risiko,” 
kata McGranahan kepada pers di Jenewa, Rabu (28/3). “Orang jadi terancam dari 
arah laut berupa badai, banjir dan siklon serta merusak ekosistem yang rentan 
di antaranya hutan bakau yang melindungi pesisir.”
Perkiraan kenaikan permukaan laut dan makin seringnya badai dilakukan oleh 
badan antar pemerintah bulan lalu, yakni Panel on Climate Change’s (IPCC). 
Perkiraan mereka permukaan akan naik puluhan sentimeter pada akhir abad ini.

  Deborah Balk, salah seorang peneliti laporan terbaru ini, menjelaskan IPCC 
tidak mengkaitkan urbanisasi dengan keharusan kawasan ini beradaptasi terhadap 
perubahan iklim. Studi ini mengangkat pentingnya apa yang mereka sebut 3M, 
yakni mitigasi, migrasi, dan modifikasi. 
  
“Sudah terlambat untuk hanya mengandalkan pada pengurangan emisi gas rumah kaca 
sebagai mitgasi terhadap perubahan iklim, walau ini memang keharusan,” jelas 
McGranahan. 
Ia menambahkan bahwa mitigasi dengan melakukan migrasi bagi mereka yang masuk 
ke zona bahaya akan menjadi keharusan dan sukar dilaksanakan serta biayanya 
sangat tinggi.
Bridget Anderson peneliti lain juga mengungkapkan kota-kota terbesar dunia, 
dengan penduduk di atas 5 juta, seperlimanya berada di zona pesisir. 

Ini artinya kota seperti Jakarta harus mempersiapkan diri terhadap ancaman yang 
dipetakan ketiga peneliti.
Pembuatan peta ini dilakukan dengan analisis basis data GRUMP (Global 
Rural-Urban Mapping Project) dalam skala perinci disertai data ketinggian 
permukaan berasal dari NASA melalui Satellite Radar Topography Mission, dan 
juga digunakan data Bank Dunia mengenai pendapatan negara-negara.
Hasil peta penyebaran dan ekonomi ini menunjukkan bahwa banyak negara dengan 
zona 0 sampai 10 meter dari pesisir kebanyakan berada di Asia. Dari 180 negara 
dengan daratan rendah di zona pesisir 130 di antaranya memiliki daerah urban 
besar di zona itu. Negara-negara berkembang yang lebih banyak terancam oleh 
perkiraan ini. Sebanyak 21 persen populasi urban berada di negara berkembang 
dan masuk di zona berbahaya. (adiseno)



 
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke