> > > Kasino Baru di Singapura > > Hari ini Kompas memuat iklan setengah halaman hal The Marina Bay > Sands. Kompleks perjudian- plus-plus ini dimodali oleh cukong judi > dari Las Vegas kelompok The Sands. Uang yang dikucurkan itu besarnya 5 > trilyun dollar Singapura. Kalau dikurs pakai rupiah maka angka > digitnya 14 dan nolnya berjumlah 13. Kompleks perjudian ini nomor > urut ketiga dibangun setelah Macao dan Genting Highlandsnya Tan Sri > Liem Go Tong. Ini bakalan menjadi saingan terberat untuk menyedot duit > panas para penjudi kelas kakap Asia -- termasuk dari Indonesia. > (Indonesia dengan filosofi legalis-puritannya cuma bisa gigit jari > menyaksikan duit para penjudi kakapnya dibuang ke sana). > > Selain pusat perjudian maka TMBS juga akan menjadi pusat perbelanjaan > dan hiburan di samping fasilitas bussines, teater dan convention hall. > Juga ada museum kesenian dan sains dalam gedung yang berbentuk bunga > teratai pada ujung paling kiri. Di atas 3 gedung berlantai 50 dan > berbentuk kontur gelombang yang didesain arsitek kondang Moshe Safdie > dkk dari Kanada, disambung menjadi satu dengan suatu "sky garden" yang > luasnya sekitar 1 hektar. Bayangkan suatu hutan seluas 1 hektar di > atas puncak gedung pencakar langit. > > Tulisan ini bukan untuk ikut promosi kompleks spektakuler dan terbesar > di negeri jiran itu yang akan rampung pada tahun 2010. Melainkan > untuk mengingatkan elit bangsa ini akan kelangsungan penyelundupan > illegal pasir dari kepulauan Riau. Saat transit di Singapura beberapa > waktu yang lalu kami mendapat kabar bahwa pembangunan kompleks > kebanggaan bangsa Singapura ini menjadi sangat terhambat karena > larangan ekspor pasir oleh pemerintah Indonesia. (Bagus itu !) > Akibatnya biaya pembangunan proyek membengkak menjadi dua kali lipat > (a.l. karena 'delay cost'). Ekspor pasir dari Thailand dan Cina memang > memungkinkan tetapi merupakan alternatif buruk karena biayanya jauh > lebih mahal. Sedangkan import illegal dari Indonesia paling murah > karena selain dekat juga harga dapat ditekan terus antara > pesaing-pesaing yang rakus dan yang modal bonek. > > Dengan kekuatan dana 5 trilyun Sing dollar -- berapa kali APBN > Indonesia ya? - sungguh tidak ada siapapun bakal ragu akan terjadi KKN > soal urusan impor pasir illegal ini baik dengan satu atau lain cara. > Mengapa? Karena proyek ini dibangun dengan mentalitas judi yang > bersedia mempertaruhkan segala-galanya. "No matter what" proyek ini > pasti akan dan harus diselesaikan, bagaimanapun caranya. Raja-raja > judi dunia kok dilawan ! Apalagi kalau hanya soal kecil suap menyuap > soal pasir. Soal illegal logging dari Ketapang ke Serawak saja hampir > dapat dikatakan semi bebas hanya karena retribusi 40 RM per kubik. > Maka semuanya tutup mata tuli telinga sekalipun sudah ditayangkan > lewat Metro Realitas bagi publik dan elit politik negara ini. Negara > jiran ini memang keterlaluan karena apa sukarnya melakukan negosiasi > G-to-G untuk mengimpor pasir secara legal dari Indonesia dengan harga > yang pantas? Bukankah lewat duit judi dan arus wisata segalanya bakal > kembali modal dengan cepat? Saat sarapan pagi di Gentin Highlands > ramainya sudah seperti pasar malam sehingga nafsu makan merosot sampai > titik nadir. Betapa banyaknya manusia yang bermental judi sungguh > mengerikan. Belum lagi ironinya masuk casino harus berpakaian resmi > dan bersepatu. Weleh weleh yang masuk gereja saja banyak yang pakai > sendal... Manakah yang disebut bener dan mana yang pener? > > Bila pulau Nipah sampai akhirnya harus direklamasi oleh Pemerintah > dengan biaya APBD maka sungguh ironis konstelasi permasalahannya. > Negeri jiran memperluas daerah pantainya menjorok lebih dari 6 KM ke > arah negara kita dengan pasir dari pulau yang harus direklamasi atas > biaya negara kita. Apa nggak lucu dan ironis bahwa pembangunan pusat > judi yang bakal juga menyedot duit orang kaya negeri kita dibiayai > oleh APBD? Pikirlah baik-baik bila kita masih mampu berpikir jernih > dan mempunyai hati nurani serta sedikit saja jiwa nasionalisme. > > > Jakarta, 30 Maret 2007. > > Mang Iyus >
[Non-text portions of this message have been removed]
