Saya setuju dengan pernyataan Pak Loekyh mengenai perbedaan agama. IMHO, memang mungkin akan lebih enak apabila satu keluarga mempunyai keyakinan yang sama, tetapi apabila kebetulan berbeda, saya pikir hal itu tidak perlu dipaksakan supaya sama. Agama itu adalah keyakinan pribadi masing-masing. Setiap orang mempertanggungjawabkan kelakuannya kepada TUHANnya. Dalam kata lain saya tidak bisa menggendong anak dan istri saya ke surga. Jadi setiap orang harus memperjuangkan keselamatannya sendiri-sendiri. Salam.
--- loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Komentar thd pengaitan agama oleh anda dengan > masalah gay/lesbian > sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya: bisa > berpotensi > menciptakan konflik sektarian. FYI, istri saya > pemeluk agama Katolik > yang sangat taat. Walaupu ajaran agama saya dan > ajaran agama istri > sangat beda jauuh sekali, kalau bukan sering > berlawanan, kita satu > sama lain tak pernah mengungkit-ungkit (apalagi > bertengkar) > ttg 'kesalahan/ kesesatan' ajaran agama yang dianut > pasangan kita. > > Bagi saya, agama/ keyakinan adalah keyakinan untuk > pribadi dan tak > ada gunanya keyakinan tsb 'diajarkan' ke orang lain, > termasuk ke > istri sendiri, apalagi ke anggota2 milis. Yang perlu > diamalkan demi > kebaikan orang lain dan kebaikan dunia adalah > prakteknya, bukan isi > ayat-ayat ajaran kita :-) > "To those leaning on the sustaining infinite, to-day is big with blessings."
