Dear All, 

Saya ingin perluas diskusi Lesbian dengan cara
induktif, maka saya membuka wilayah diskusi dari
Forum-Pembaca-Kompas ke wilayah lebih luas. Yg bukan
dari FORUM, silahkan mebaca lebih dulu diskusi yang
ujungnya hanya tampak dalam komentar Loekyh di bawah.

Isu yang tampak hanya dibahas beberapa orang dari
sekian banyak peserta (FORUM PEMBACA KOMPAS) baiklah
diberikan beberapa catatan, sekedar dapat membuat
refleksi kritis-historis atas perdebatan LESBI (dan
HOMO) untuk berkonteks sejarah peradaban manusia (baca
juga Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Refleksi
Budaya - Kanisius, Yogya, 1992).

1. Lesbi/homo ada sejak peradaban manusia dikenal,
atau lahir sejak manusia ada. Agama dan Negara masih
hanya merupakan "janin" ketika homo/lesbi telah
menjadi "perilaku".

2. "Tabu" (Taboo) adalah "pilihan sikap diam"
(self-norm-protected) terhadap suatu obyek kepercayaan
pribadi/sekelompok orang yang muncul karena sesuatu
adat-kebiasaan/norma itu dianggap "belum dapat"
dijadikan sikap-perilaku sosial. Sikap diam (taboo)
itu muncul karena pelbagai alasan: bahwa, sesuatu yang
ditabu-kan itu suci dan 'kudus', maka diproteksi
(tetap dijaga) hanya sebagai sebagai keyakinan pribadi
atau sekelompok orang/keyakinan. Taboo dapat
berkembang dari adat-kebiasaan, norma, hukum bahkan
DOGMA, dari kelompok orang atau keyakinan tertentu.

Misalnya: Si A (dan kelompoknya A) memegang teguh
sebuah bentuk taboo bahwa "obyek X" merupakan sesuatu
yang harus disucikan (ditabookan), selanjutnya dapat
berkembang menjadi adat-sikap/norma, lalu dapat
menjadi hukum (sosial/positip) atau berakhir sebagai
DOGMA (hukum agama) yang mutlak diyakini karena
berasal dari Tuhan sendiri. Proses yang dapat diikuti
Si B (dan kelompok B) untuk memegang teguh sebuah
bentuk taboo "obyek Y" yang berujung menjadi hukum
sosial atau hukum Agama (DOGMA). Sampai di sini, tidak
akan ada masalah.

3. Lesbi/Homo adalah taboo atau tidak? Sesuai Norma
Masyarakat atau Tidak? Norma Agama atau Tidak? 

Persoalan baru muncul, misalnya terhadap "Obyek Q",
misalnya LESBI/homo, Si A (dengan kelompoknya) dan Si
B (dengan kelompoknya) membuat penilaian yang berbeda,
keyakinan berbeda, dan menghendaki hukum positif yang
berbeda (atau bahkan mengeluarkan larangan/anjuran
keyakinan religi yang berbeda) atas sesuatu "Obyek Q",
"lesbi/homo itu".

Dengan histori dan refleksi dasar seperti di atas,
diskusi/diskursus (istilah Jurgen Habermas) untuk
menemukan "sikap adil" terhadap "obyek Q"
(lesbianisme/homo - lebih spesifik lagi Legalisasi
Hukum Positif Lesbi/Homo), ditarik ke sejarah dan
peradaban fundamental bangsa manusia.

Lalu, di mana letak masalah "legalisasi perkawinan
lesbianisme/homosex"? Kelompok ke-agama-an sering
memberi alasan yang tidak cukup untuk dapat diterima
"common-sense". Demikian pula sebaliknya, mereka yang
mendukung legalisasi perkawinan lesbianisme/homosex
tidak dapat memberikan alasan2 yang rasional dan
mengikuti fundamen berpikir historisitas peradaban
manusia. Letak masalah, MENURUT HEMAT SAYA, berada
dalam kita sebagai pribadi maupun kelompok, yang
sering TIDAK DAPAT membedakan wilayah PRIVAT dan
PUBLIK.

4. Saya ingin HANYA SAMPAI DI SINI untuk membiarkan
kita berpikir dalam common-sense berpikir, lepas bebas
dari keyakinan-keyakinan privat-kelompok tradisionalis
(tanpa sikap kritis).

Selamat Merayakan MAULID Nabi Muhammad SAW. Dan
Merayakan Minggu Palem, persiapan Wafat Isa Al-Masih

Salam,

berthy b rahawarin


--- loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> --- In [email protected],
> "goenardjoadi" 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Begini lho Mbak Nata,
>  
> > saya akan jelaskan dari sisi alam ya, terlepas
> dari masalah agama,
> > atau kejiwaan.
>  
> > Tuhan MENCIPTAKAN alam ini berpasangan, mengapa?
> 
> L: Ini contoh argumentasi anda yang mengklaim TIDAK
> berlandaskan/ 
> TERLEPAS DARI ajaran agama, tetapi jelas isi
> argumentasi anda 
> berlandaskan agama sebab anda percaya TUHAN
> MENCIPTAKAN. 
> 
> Sadarkah rekan Goen bahwa anda hampir selalu
> menggunakan argumentasi 
> ajaran (dogma) agama sendiri sebagai alat pembenaran
> pendapat anda 
> sendiri? Bisa saja orang lain berpendapat negatif
> thd komentar di 
> atas, misalnya orang yang menganggap anda terkesan
> begitu 
> merendahkan kekuasaan Tuhan sebab anda memandang
> Tuhan sangat 
> terbatas kemampuannya, yaitu Tuhan disamakan dengan
> tukang cipta/ 
> tukang bikin sesuatu yang masih harus bekerja
> sendiri (tanpa bantuan 
> alat atau pihak lain atau tanpa bantuan 'komputer')
> ketika 
> menciptakan sesuatu tersebut.
> 
> Bagaimana dengan ajaran agama lain yang barangkali
> membolehkan 
> umatnya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah campur
> tangan lagi 
> dengan urusan dunia, termasuk urusan MENCIPTAKAN
> manusia berpasang-
> pasangan? Umat agama ini mungkin saja yakin bahwa
> hukum2 alam ini 
> sudah secara otomatis DICIPTAKAN, dirumuskan dan
> dijalankan 
> oleh 'super komputer' buatan Tuhan yang tak pernah
> tidur sedangkan 
> Tuhan sekarang sudah bisa 'tidur nyenyak melupakan
> urusan manusia 
> dan alam' :-) dan Tuhan tak perlu lagi teken2 tombol
> 'super 
> komputer' yang sudah diprogram untuk menjalankan
> jagad raya secara 
> otomatis terus-menerus sepanjang waktu :-)
> 
> Btw, ada species binatang yang bisa berganti
> kelamin.
> 
> > mengapa sebuah perkawinan dari diikat secara
> Ilahi?
> > 
> > mengapa?
> > 
> > karena pada sebuah pernikahan akan tercipta
> makhluk hidup baru, dan
> > lebih baik kita bertanggung jawab dengan makhluk
> hidup baru
> > tersebut, bila tidak maka akan BERURUSAN dengan
> tuhan.
> 
> L: Ini contoh yang lain bagaimana keyakinan anda
> digunakan sebagai 
> PEMBENARAN pendapat anda. Di sini anda percaya pada
> keyakinan bahwa 
> kita kelak BERURUSAN dengan Tuhan padahal mungkin
> saja ada ajaran 
> agama lain yang mengajarkan terbentuknya amal/dosa
> secara otomatis 
> (= sebagai bagian dari hukum alam yang diprogram
> oleh 'super 
> komputer' di atas), tak ada lagi sangkut-pautnya
> dengan atau tak 
> perlu lagi berurusan dengan Tuhan. Padahal ada
> ajaran lain yang 
> mengajarkan 'hidup' itu bisa berkali-kali (tanpa
> perlu hidup kembali 
> ke dunia yang sama) dan kehidupan yad ini ditentukan
> oleh kehidupan 
> sebelumnya.
> 
> > anak pertama bapaknya A
> > anak kedua bapaknya B
> > anak ketiga bapaknya C
> > 
> > repot bukan?
> 
> L: Terasa repot bagi orang2 seperti saya atau anda
> atau bapak2 yang 
> punya cara pandang primitif hanya bisa mengasihi dan
> membuat sehat 
> anak kandung sendiri (bukan anak tiri), tak bisa
> peduli pada anak 
> kandung orang lain. Padahal ada ajaran agama yang
> menyadari 
> kesalahan cara pandang primitif ini dengan meminta
> orang2 yang MAMPU 
> MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN-IKATAN DUNIA, TERMASUK
> MAMPU MELEPASKAN 
> DIRI IKATAN KELUARGA untuk hidup di dunia hanya
> untuk beramal dan 
> berbakti kepada semua orang secara adil (bukan
> beramal cuma untuk 
> keluarga dan teman2 sendiri doang).
> 
> Tanpa perlu menjadi pastor, bhiku, dsb, saya
> beberapa kali melihat 
> contoh2 orang2 yang sudah mampu mencintai orang
> lain, tanpa hubungan 
> darah, tanpa hubungan ras, dsb, dengan tulus,
> walaupun orang2 ini 
> bukan anak kandung sendiri. 
> 
> Mis. saya melihat sendiri satu keluarga di Amerika
> dan di Eropah 
> yang bisa mengasihi beberapa anak BUKAN anak
> kandungnya. Misalnya 
> saya melihat satu keluarga bule yang terlihat begitu
> menyayangi dua 
> orang anak kulit hitam yang diadopsinya bak
> menyayangi anak 
> kandungnya sendiri. Saya juga kenal dengan seorang
> mahasiswa Belanda 
> turunan Indonesia yang begitu disayangi oleh kedua
> orangtuanya yang 
> Belanda totok.
> 
> Tak perlu saya teruskan komentar2 saya karena dalam
> kalimat2 
> berikutnya, anda pun menggunakan ajaran agama
> sendiri anda untuk 
> membenarkan pendapat anda sendiri.
> 
> Salam

Kirim email ke