Re: Lesbian: Begitu Tabunya? Halo Mas,
tanggapan saya di bawah ya... --- In [email protected], "goenardjoadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Begini lho Mbak Nata, > saya akan jelaskan dari sisi alam ya, terlepas dari masalah agama, > atau kejiwaan. > Tuhan MENCIPTAKAN alam ini berpasangan, mengapa? L: Ini contoh argumentasi anda yang mengklaim TIDAK berlandaskan/ TERLEPAS DARI ajaran agama, tetapi jelas isi argumentasi anda berlandaskan agama sebab anda percaya TUHAN MENCIPTAKAN. G: Oke sudah ganti saja kata Tuhan dengan Dia. Sang Pencipta. Kalau saya ngomong agama itu pedomannya Tri Pitaka, atau Al Quran mas, ini mengenai esensi kemanusiaan hakiki. L: Sadarkah rekan Goen bahwa anda hampir selalu menggunakan argumentasi ajaran (dogma) agama sendiri sebagai alat pembenaran pendapat anda sendiri? Bisa saja orang lain berpendapat negatif thd komentar di atas, misalnya orang yang menganggap anda terkesan begitu merendahkan kekuasaan Tuhan sebab anda memandang Tuhan sangat terbatas kemampuannya, yaitu Tuhan disamakan dengan tukang cipta/ tukang bikin sesuatu yang masih harus bekerja sendiri (tanpa bantuan alat atau pihak lain atau tanpa bantuan 'komputer') ketika menciptakan sesuatu tersebut. Bagaimana dengan ajaran agama lain yang barangkali membolehkan umatnya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah campur tangan lagi dengan urusan dunia, termasuk urusan MENCIPTAKAN manusia berpasang- pasangan? Umat agama ini mungkin saja yakin bahwa hukum2 alam ini sudah secara otomatis DICIPTAKAN, dirumuskan dan dijalankan oleh 'super komputer' buatan Tuhan yang tak pernah tidur sedangkan Tuhan sekarang sudah bisa 'tidur nyenyak melupakan urusan manusia dan alam' :-) dan Tuhan tak perlu lagi teken2 tombol 'super komputer' yang sudah diprogram untuk menjalankan jagad raya secara otomatis terus-menerus sepanjang waktu :-) G: Lho.... kalau tidak ada Sang Pencipta, terus siapa yang Maha Kuasa? Yang Maha Esa? Tukul Arwana? piye Mas. Kita ini mengenal Ketuhanan Yang Maha Esa, menyebut Tuhan kok gak boleh? Apa diganti saja, Kexxxxxxan Yang Maha Esa? L: Btw, ada species binatang yang bisa berganti kelamin. G: ini ngomongin kemanusiaan apa kebinatangan pak? > mengapa sebuah perkawinan dari diikat secara Ilahi? > > mengapa? > > karena pada sebuah pernikahan akan tercipta makhluk hidup baru, dan > lebih baik kita bertanggung jawab dengan makhluk hidup baru > tersebut, bila tidak maka akan BERURUSAN dengan tuhan. L: Ini contoh yang lain bagaimana keyakinan anda digunakan sebagai PEMBENARAN pendapat anda. Di sini anda percaya pada keyakinan bahwa kita kelak BERURUSAN dengan Tuhan padahal mungkin saja ada ajaran agama lain yang mengajarkan terbentuknya amal/dosa secara otomatis (= sebagai bagian dari hukum alam yang diprogram oleh 'super komputer' di atas), tak ada lagi sangkut-pautnya dengan atau tak perlu lagi berurusan dengan Tuhan. Padahal ada ajaran lain yang mengajarkan 'hidup' itu bisa berkali-kali (tanpa perlu hidup kembali ke dunia yang sama) dan kehidupan yad ini ditentukan oleh kehidupan sebelumnya. G: pembahasan anda mengenai Tuhan, ya kita bahas nanti, terpisah, pak. ini masalah istri kita suka sama cewek, cinta sama cewek, terus anak-anak mau dikemanakan? kasih sama tetangga? atau minta sama tetangga? > anak pertama bapaknya A > anak kedua bapaknya B > anak ketiga bapaknya C > > repot bukan? L: Terasa repot bagi orang2 seperti saya atau anda atau bapak2 yang punya cara pandang primitif hanya bisa mengasihi dan membuat sehat anak kandung sendiri (bukan anak tiri), tak bisa peduli pada anak kandung orang lain. Padahal ada ajaran agama yang menyadari kesalahan cara pandang primitif ini dengan meminta orang2 yang MAMPU MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN-IKATAN DUNIA, TERMASUK MAMPU MELEPASKAN DIRI IKATAN KELUARGA untuk hidup di dunia hanya untuk beramal dan berbakti kepada semua orang secara adil (bukan beramal cuma untuk keluarga dan teman2 sendiri doang). G: ini bukan masalah anak tiri, anak yatim diangkat anak itu bagus. Ini masalah cewek cinta sama cewek, sex orgasme, anaknya darimana? begitu lho... Tentu anaknya dari kawin suntik, bukan? apa bisa pakai sex toys? lalu anda pikir gak usah punya anak, lho.... anda punya anak tidak? untuk apa anda punya anak? bagaimana kalau anak anda tidak mau punya anak karena dia cinta sama boneka? L: Tanpa perlu menjadi pastor, bhiku, dsb, saya beberapa kali melihat contoh2 orang2 yang sudah mampu mencintai orang lain, tanpa hubungan darah, tanpa hubungan ras, dsb, dengan tulus, walaupun orang2 ini bukan anak kandung sendiri. Mis. saya melihat sendiri satu keluarga di Amerika dan di Eropah yang bisa mengasihi beberapa anak BUKAN anak kandungnya. Misalnya saya melihat satu keluarga bule yang terlihat begitu menyayangi dua orang anak kulit hitam yang diadopsinya bak menyayangi anak kandungnya sendiri. Saya juga kenal dengan seorang mahasiswa Belanda turunan Indonesia yang begitu disayangi oleh kedua orangtuanya yang Belanda totok. G: Ini pembahasan soal anak yatim, itu yang diajarkan AA Gym, tolonglah anak yatim, bukan berarti anda boleh sex dengan anak kecil [pedofili] sex dengan binatang, atau sex dengan boneka, dengan sesama jenis, pak. salam, GG Tak perlu saya teruskan komentar2 saya karena dalam kalimat2 berikutnya, anda pun menggunakan ajaran agama sendiri anda untuk membenarkan pendapat anda sendiri. Salam --- In [email protected], "loekyh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], "goenardjoadi" > <goenardjoadi@> wrote: > > > Begini lho Mbak Nata, > > > saya akan jelaskan dari sisi alam ya, terlepas dari masalah agama, > > atau kejiwaan. > > > Tuhan MENCIPTAKAN alam ini berpasangan, mengapa? > > L: Ini contoh argumentasi anda yang mengklaim TIDAK berlandaskan/ > TERLEPAS DARI ajaran agama, tetapi jelas isi argumentasi anda > berlandaskan agama sebab anda percaya TUHAN MENCIPTAKAN. > > Sadarkah rekan Goen bahwa anda hampir selalu menggunakan argumentasi > ajaran (dogma) agama sendiri sebagai alat pembenaran pendapat anda > sendiri? Bisa saja orang lain berpendapat negatif thd komentar di > atas, misalnya orang yang menganggap anda terkesan begitu > merendahkan kekuasaan Tuhan sebab anda memandang Tuhan sangat > terbatas kemampuannya, yaitu Tuhan disamakan dengan tukang cipta/ > tukang bikin sesuatu yang masih harus bekerja sendiri (tanpa bantuan > alat atau pihak lain atau tanpa bantuan 'komputer') ketika > menciptakan sesuatu tersebut. > > Bagaimana dengan ajaran agama lain yang barangkali membolehkan > umatnya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah campur tangan lagi > dengan urusan dunia, termasuk urusan MENCIPTAKAN manusia berpasang- > pasangan? Umat agama ini mungkin saja yakin bahwa hukum2 alam ini > sudah secara otomatis DICIPTAKAN, dirumuskan dan dijalankan > oleh 'super komputer' buatan Tuhan yang tak pernah tidur sedangkan > Tuhan sekarang sudah bisa 'tidur nyenyak melupakan urusan manusia > dan alam' :-) dan Tuhan tak perlu lagi teken2 tombol 'super > komputer' yang sudah diprogram untuk menjalankan jagad raya secara > otomatis terus-menerus sepanjang waktu :-) > > Btw, ada species binatang yang bisa berganti kelamin. > > > mengapa sebuah perkawinan dari diikat secara Ilahi? > > > > mengapa? > > > > karena pada sebuah pernikahan akan tercipta makhluk hidup baru, dan > > lebih baik kita bertanggung jawab dengan makhluk hidup baru > > tersebut, bila tidak maka akan BERURUSAN dengan tuhan. > > L: Ini contoh yang lain bagaimana keyakinan anda digunakan sebagai > PEMBENARAN pendapat anda. Di sini anda percaya pada keyakinan bahwa > kita kelak BERURUSAN dengan Tuhan padahal mungkin saja ada ajaran > agama lain yang mengajarkan terbentuknya amal/dosa secara otomatis > (= sebagai bagian dari hukum alam yang diprogram oleh 'super > komputer' di atas), tak ada lagi sangkut-pautnya dengan atau tak > perlu lagi berurusan dengan Tuhan. Padahal ada ajaran lain yang > mengajarkan 'hidup' itu bisa berkali-kali (tanpa perlu hidup kembali > ke dunia yang sama) dan kehidupan yad ini ditentukan oleh kehidupan > sebelumnya. > > > anak pertama bapaknya A > > anak kedua bapaknya B > > anak ketiga bapaknya C > > > > repot bukan? > > L: Terasa repot bagi orang2 seperti saya atau anda atau bapak2 yang > punya cara pandang primitif hanya bisa mengasihi dan membuat sehat > anak kandung sendiri (bukan anak tiri), tak bisa peduli pada anak > kandung orang lain. Padahal ada ajaran agama yang menyadari > kesalahan cara pandang primitif ini dengan meminta orang2 yang MAMPU > MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN-IKATAN DUNIA, TERMASUK MAMPU MELEPASKAN > DIRI IKATAN KELUARGA untuk hidup di dunia hanya untuk beramal dan > berbakti kepada semua orang secara adil (bukan beramal cuma untuk > keluarga dan teman2 sendiri doang). > > Tanpa perlu menjadi pastor, bhiku, dsb, saya beberapa kali melihat > contoh2 orang2 yang sudah mampu mencintai orang lain, tanpa hubungan > darah, tanpa hubungan ras, dsb, dengan tulus, walaupun orang2 ini > bukan anak kandung sendiri. > > Mis. saya melihat sendiri satu keluarga di Amerika dan di Eropah > yang bisa mengasihi beberapa anak BUKAN anak kandungnya. Misalnya > saya melihat satu keluarga bule yang terlihat begitu menyayangi dua > orang anak kulit hitam yang diadopsinya bak menyayangi anak > kandungnya sendiri. Saya juga kenal dengan seorang mahasiswa Belanda > turunan Indonesia yang begitu disayangi oleh kedua orangtuanya yang > Belanda totok. > > Tak perlu saya teruskan komentar2 saya karena dalam kalimat2 > berikutnya, anda pun menggunakan ajaran agama sendiri anda untuk > membenarkan pendapat anda sendiri. > > Salam >
