Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org 
           
                  SADAR 

                  Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
                  Edisi: 34 Tahun III - 2007
                  Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
                 

--------------------------------------------------------------
                 


                  NEGERI HOROR

                  Oleh: FX. Rudy Gunawan[1]



                  Dunia perfilman Indonesia dikepung film horor. Hampir semua 
film horor yang dirilis sejak akhir tahun 2006, sukses meraup jumlah penonton 
lebih banyak dibanding film drama percintaan remaja yang sebelumnya sempat 
berjaya. Penonton film Indonesia yang mayoritas remaja usia 17-an sampai 20-an, 
nampaknya tergila-gila nonton film horor tanpa mempedulikan buruknya kualitas 
film horor kita. Sebenarnya, indikasi trend horor ini sudah dimulai sejak film 
Jelangkung garapan Rizal Mantovani yang berkolaborasi dengan Jose Purnomo 
beberapa tahun lalu (mungkin sekitar 5-6 tahun lalu, saya tidak ingat 
persisnya) yang meledak di luar dugaan tapi kembali tenggelam setelah 
sequelnya, Tusuk Jelangkung dirilis dan tidak sesukses Jelangkung. Periode 
berikutnya, tahun 2002-2003 diisi oleh kejayaan film drama remaja seperti Ada 
Apa Dengan Cinta, Eiffel I am in Love, sampai dengan Virgin yang kualitasnya 
jauh lebih buruk dibandingkan Ada Apa Dengan Cinta. 

                  Dan terhitung sejak 2005, film-film horor kembali menjadi 
primadona. Sebut misalnya Bangsal 13, Mirror, 12 AM, Panggil Namaku 3 x, Rumah 
Pondok Indah, Hantu Bangku Kosong, Hantu Jeruk Purut, Pocong, Terowongan 
Casablanca, Roh, Leak, dan puluhan judul lainnya yang mencoba meraup untung 
dari film horor. Lalu mengapa horor? Mengapa penonton kita, yang sekali lagi, 
notabene adalah remaja perkotaan yang modern dan rasional, tergila-gila pada 
film horor? Tidak perlu penelitian untuk menjawab pertanyaan ini, tapi jika ada 
peneliti antropologi sosial, sosiologi perkotaan, atau pop culture, mau 
menelitinya secara serius, tentulah kita harus mendukungnya seratus ribu 
persen. Bagi saya, jawabannya mudah saja. Film horor sukses dan disukai 
penonton karena negeri kita adalah negeri horor!

                  Ya, kita hidup di negeri horor. Indonesia adalah negeri 
horor. Ini istilah paling pas dan mutakhir dibandingkan dengan istilah lain 
yang pernah muncul seperti negeri bencana, negeri lupa, republik mimpi, 
republik tempe, atau apapun. Mengapa begitu? Coba simak petikan feature 
berjudul Susi, Pejabat Arogan, Politikus Busuk, Wartawan Penipu, dan Nyawa 
Fahmi, berikut ini:



                  Dia berjuang melawan radang otak. Ada tipu dan janji-janji.


                  Di pinggir lintasan lari Istana Olah Raga Bung Karno, 
Senayan, Jakarta Selatan, Susi Susanti duduk bersimpuh menggendong Fahmi 
Fitroni. Berbekal alas koran dan payung kecil pelindung dari terik mentari, 
setiap Minggu Susi dan anak keduanya itu duduk di sana.

                  Di atas koran itu berjejer dokumen dari rumah sakit yang 
menyatakan Fahmi ((9) mengidap radang otak. Ada juga surat penyataan tidak 
mampu dari Pemerintah Kota Serang dan foto-foto Fahmi terbujur kaku dengan 
badan kurus kering. Di depan Susi terdapat kotak amal dari kayu cokelat dan 
sebuah tulisan "Mohon bantuannya untuk biaya pengobatan anak yat im, Fahmi 
Fitroni, yang mengidap radang otak". (selengkapnya baca di www.vhrmedia.net) 



                  Selanjutnya yang terjadi adalah horor. Ada pejabat yang 
mengusirnya bagai pengemis, ada birokrat yang memberi kuitansi kosong, ada 
politikus yang menjanjikan biaya pengobatan penuh di depan para wartawan tapi 
tak pernah memenuhinya, ada orang kaya yang sambil jogging menghampirnya dan 
berkata: "belum mati-mati juga bu, anaknya?", dan ada wartawan yang menghimpun 
sumbangan lalu memakan sumbangan itu! Horor! Benar-benar horor yang very-very 
horrible! Di tingkat yang lebih tinggi horor juga lebih sophisticated lagi. 
Sebut misalnya horor anggota DPRD yang minta duit rapelan, juga minta dibelikan 
lap top seharga 21 juta sekian perak, horor Lapindo, horor ibu yang membunuh 4 
anaknya, horor korupsi duit bencana Aceh, horor Adam Air, KM Senopati, Levina, 
dan horor-horor lainnya yang terjadi setiap hari di berbagai pelosok negeri 
kita. 

                  Lantas mengapa negeri kita menjadi negeri horor? Jawabannya 
juga menurut versi saya, sangat sederhana. Terlalu banyak setan di negeri kita. 
Setan, iblis, dhemit, genderuwo, exist dengan tenteram dan damai dalam sebuah 
kolaborasi harmonis dengan para penguasa, pejab at, politikus, pengusaha, dan 
entah siapa saja. Sudah banyak kajian dan bukti kolaborasi mantan Presiden 
Soeharto dengan dunia klenik yang diangkat media massa. Ini adalah fenomena 
yang clear and distinct dan ada di hampir setiap level kehidupan. Pejabat cere 
kalau ingin naik pangkat ke dukun (bentuk kolaborasi paling umum di negeri 
horor kita), pengusaha kalau ingin usahanya sukses juga menyerahkan sebagian 
upayanya pada "orang pintar", bahkan seorang pemuda juga kerap meminta bantuan 
paranormal untuk mendapatkan gadis pujaannya. Semua fenomena ini merajalela 
sejak zaman kerajaan-kerajaan besar berjaya di tanah nusantara. Hampir setiap 
aspek kehidupan di negeri horor kita, tersentuh dan bersinggungan secara keras 
dengan dunia para iblis, setan, dan genderuwo. 

                  Mungkin yang terjadi kemudian adalah akuisisi bawah sadar 
yang sangat persuasive dan lembut oleh para dhemit sehingga sebenarnya, kita 
tak lagi menjadi diri kita. Kita lalu menjadi pewujudan para setan dan 
perlahan-lahan kita menjadi setan sesungguhnya yang hidup, bernafas, dan 
beraksi di dunia manusia, khususnya di negeri kita. Proses ini telah 
berlangsung berabad-abad. Akuisisi para setan mungkin paling sukses terjadi di 
negeri kita sampai mereka beranak-pinak dalam perkawinan dengan manusia dan 
menghasilkan generasi "manusia-setan" yang jauh lebih hebat dari setan-setan 
western macam drakula sekalipun. Hantu-hantu gentayangan akhirnya bahkan kalah 
pamor dibandingkan dengan generasi baru hasil kawin silang itu. 

                  Jadi saudara-sa udara, jadilah kemudian negeri kita negeri 
horor. Indonesia adalah negeri horor, dan karena itulah, memang sewajarnyalah 
bila film horor menjadi tuan rumah di negeri horor ini. 


                    
--------------------------------------------------------------

                  [1] Penulis adalah Direktur Perkumpulan Seni Indonesia, 
wartawan dan sastrawan, sekaligus sebagai anggota Forum Belajar Bersama 
Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.




                 
                    
           
            [EMAIL PROTECTED]    
     





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke