Terlepas dari masalah soal Vivian, saya mau tanya kenapa ya orang-orang macam 
penulis ini tipikal banget? Enaknya disebut sebagai apa ya? Fanatik berlebihan? 
Kaum "saya selalu benar?" atau apa ya? Baca deh tulisannya yang tipikal mahluk 
menyebalkan seperti: membenci pluralisme, pro habis-habisan poligami, merasa 
kalau agamanya selalu dijelekkan, padahal sih tidak karena dia sengaja 
menebarkan isu kebencian agama tuh. Sok-sok keras nyuadar ga sih dia berusaha 
mengarahkan pikiran publik untuk mikir kearah yang justru tidak benar? Taruhan 
kalau dia juga tidak suka dengan feminis. Huehehehehehe! Kok ya bisa 1 paket 
gitu. Ck..ck..ck...
   
  Soal pemerkosaan itu jangan bilang kalau tidak ada. Coba cek ke 
lembaga-lembaga kekerasan perempuan macam kalyana mitra dsb. Cek juga keRS. 
Pondok Indah, Cek ke dokter yang dulu menjabat. Tanya pernah ga dulu 
mengeluarkan surat referensi kepada korban pemerkosaan yang dikirim ke 
Singapura? Kalau mereka buka mulut dilindungi tidak? Dapat ganti rugi gak? 
Pelakunya dihukum mati apa engga? Kalau serius menanganinya pasang iklan gede2 
di koran yang menyatakan bahwa korban pemerkosaan tahun 1998 akan dapat ganti 
rugi sekian juta. Taruhan banyak yang ngaku korban sehabis muncul orang2 itu, 
selidiki deh bener apa engga tuh yang ngaku jadi korban. Seperti dulu mantan 
jugun ianfu juga pada engga ngaku. Baru setelah gembor-gembor pemerintah mau 
ganti rugi baru bermunculan para jugun itu. Alasannya ngumpet apa? Ya malulah, 
trauma pastinya. Jangan berusaha menghilangkan sejarah. 
   
   
  [Laura]
   
   
   
  Strategi propaganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia 
dan masih cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide 
yang berseberangan. Tengoklah berbagai propaganda hitam yang 
dikembangkan dengan cara itu. Misalnya, pembangunan opini bahwa Islam 
sudah tidak cocok untuk zaman modern ini, pembentukan opini bahwa 
poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan bahwa pluralisme 
adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.

Kirim email ke