Rekan Haniwar, banyak sekali isi tanggapan2 anda yang keluar dari konteks. Tolong baca ulang postingan saya sebelumnya setelah membaca tanggapang saya di bawah ini.
--- In [email protected], Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Seorang muslim akan berusaha terus beritjtihad.., menggali kebenaran Islam > sejati.. > kalau ada pemahaman yang salah , ya diperbaiki pemahamannya. L: Ini contoh pertama tanggapan anda yang lepas konteks. Saya tak pernah dan tak perlu membantah pernyataan anda sebab bukan cuma umat muslim, setiap umat beragama yang sejati akan mencari kebenaran ajaran masing-masing seumur hidupnya. Tolong perhatikan, isi tanggapan saya sebelumnya menyatakan bahwa ketika keyakinan agama sendiri di-bawa2 untuk ALASAN PEMBENARAN (versi agama sendiri) ke ruang publik atau untuk diatas-namakan demi pembenaran terhadap tindakan2-nya di ruang publik (yang terdiri atas individu2 dengan berbagairagam keyakinan), itulah saat potensi konflik sektarian muncul. > tapi itu tidak berarti bhw apa yang belum dipahaminya sebagai salah..., > bisa saja belum disadari hikmahnya ... bisa saja belum datang hidayah dari > Nya...sehingga belum paham.. L: 'Salah' dan 'Benar' menurut versi agama bersifat relatif. Setiap orang/ setiap keyakinan/ agama memiliki nilai2 dan kriteria sendiri tentang 'salah' dan 'benar > Kita tidak sehebat itu.. sehingga bisa mengerti semua makna yang tertulis > di kitab Suci.. > > Kita bukan apa apa... .. L: Anda tak perlu menulis dan mengulang-ulang kata-kata klasik semacam demikian yang sudah saya dengar sejak tahun 60-an ketika saya masih SD. > Bgeitulah pastor hidup selibat, begitulah Islam muslim tidak makan babi, > sedang Kristen memakannya, walau dalam Taurat kalau nggak salah larangan > makan babi itu juga ada, L: Saya memberi contoh hidup selibat dalam hubungan/ konteks tanggapan pak Goen yang 'merasa repot' melihat anak2 dengan berbagai orangtua (repot dengan keragaman orangtua anak2 tirinya?) sebab mereka yang hidup selibat ini tak akan 'direpotkan' oleh masalah anak tiri atau anak kandungnya. Jadi komentar anda di atas juga keluar dari konteks. > Dalam Islam , sejatinya tidak akan ada hal negatip yang diperintahkan > agama..., tidak mungkin ada perintah yang bisa digolongkan rasis atau > diskriminasi dalam pengertian buruk ( harus disatukan dulu def. rasis dan > diskriminatip , kalau mau bahas hal ini., karena prinsipnya orang hanya di > bedakan menurut derajat ketakwaannya) L: Kita tak bisa bicara atau mengklaim kebenaran nilai2 'negatif' (atau 'positif'), 'diskriminatif' (atau 'tidak diskriminatif'), 'salah' (atau 'benar')dsb, di ruang publik versi ajaran agama sendri. > Titik pandang ini akan dianut dan dipercaya oleh agama manapun..., masa > sih Allah... atau apapyn sebutan untuk Tuhan bisa salah...? No Way... L: Sekali lagi 'salah' atau 'benar' versi agama itu relatif. Orang beragama A bisa saja mengatakan ajaran agama B itu 'salah' dan sebaliknya orang beragama B bisa saja menyatakan ajaran agama A itu 'salah'. Jika kedua pandangan ini dibawa ke publik, saat itulah potensi kedua pandangan yang berlawanan semacam ini bertemu dan berpotensi konflik. > Jika permasalahannya adalah toleransi.... .. saya yakin ... tanpa urusan > agamapun ... bisa bentur... ada yang karena suku.. ada yang karena ras.. L: Fakta yang anda tulis benar, tetapi keluar dari konteks dan secara logika tidak akurat. Untuk mengerti kenapa logika anda tak akurat, anda tentunya mengerti makna istilah '... salah satu dari banyak faktor2 atau penyebab suatu kejadian buruk'? Berikut satu contoh penggunaan istilah ini. "Kebakaran itu bukan cuma disebabkan oleh satu faktor penyebab adanya orang yang membuang puntung rokok sembarangan ke tempat sampah, tetapi walaupun demikian prilaku tidak membuang puntung rokok sembarangan adalah prilaku yang sangat perlu disosialisasikan." Jadi (dengan menggunakan logika analogi), prilaku mencari pembenaran atau pengatas-namaan lewat ajaran agama dewek di ruang publik bukan satu2-nya faktor penyebab konflik sektarian, tetapi walaupun demikian prilaku tidak mencari pembenaran versi agama sendiri dan pengatas-namaan agama untuk berprilaku negatif di ruang publik ini adalah prilaku yang sangat perlu disosialisasikan. > Saya sendiri yakin... sebagian besar yang ada di FPK,, manusia penuh > toleransi.. dan saya harap toleransi dan pengertian anda... kalau ada > diantara kami yang berpendapat menyatunya agama dalam hidup kami sbg > keniscayaan.. L: Anda bebas bicara tentang nilai2 ('benar' dan 'salah') versi ajaran sendiri untuk pembenaran prilaku anda di antara sesama umat sendiri di mesjid, gereja, di pengajian, di kebaktian di rumah sendiri, dsb, asalkan bukan di ruang publik. > Dan setahu saya dalam batas tertentu di Amrik pun ada aturan yang mengatur > soal agama, misalnya nggak gampang juga tuh mendirikan mesjid disana.. , > artinya .. nggak bisa dibangun di sembarang tempat...Semboyan crusade pun > DITERIAKKAN Bush,,, L: Sepengetahuan saya, sebagai negara dengan konstitusi sekuler, semua tempat ibadah (mesjid, gereja, dsb) tak bisa dibangun di lahan milik pemerintah AS. Juga pemerintah AS tak bisa membantu atau sebaliknya menghalang-halangi perkembangan/ siar satu agama. Jika hal ini tidak dipatuhi oleh pemerintah AS, maka terjadilah pelanggaran konstitusi oleh pemerintah Amerika. Btw, saya tak pernah mendengar Bush BERTERIAK 'crusade', 'haleluyah', atau yang semacam (sambil menyerang musuh2-nya?). Pernah Bush satu kali kepleset ngomong (bukan berteriak) 'crusade' dan ini pun sudah dikritik ber-tubi2 dari luar dan dalam negeri sehingga gedung putih harus mengklarifikasi dan minta maaf. Dalam perang Irak pun, kebijakan2 Bush dilawan dengan keras oleh banyak anggota2 kongres dan beberapa hasil2 sidang pengadilah di dalam negeri AS sendiri. > Jangan dibalik... dengan terus menghindari bicara > agama .. yang akan membuat kita menyempitkan wawasan > kita disatu pihak,, dan punya pra anggapan buruk > thd agama dilain pihak .. kira2 Islam itu pasti > pemarah dan intoleran... L: Yang saya kritik adalah prilaku seseorang menggunakan ajaran2 agama sebagai ALAT PEMBENARAN (absolut) terhadap pandangan2 sendiri di ruang publik atau pengatas-namaan agama untuk pembenaran prilaku2 negatif di ruang publik. Perhatikan keberadaan kata 'absolut'. Kata ini saya tulis karena jelas setiap orang yang menggunakan/ mengutip isi ajaran agamanya tsb ke ruang publik (sebagai alat pembenaran) tidak mau ajaran agamanya tsb dikritik orang lain. Dengan kata lain, orang tsb menginginkan agar orang2 lain yang ikut berdiskusi di ruang publik tsb - yang mungkin berbeda keyakinan, entah beragama A atau beragama X - agar memandang kutipan ajaran agamanya sebagai kebenaran (absolut) yang tak boleh dikritik (apalagi disalahkan) ketika berdiskusi di ruang publik tersebut. Kalau anda ingin isi ajaran agama kita tak ingin dikritik atau disalahkan oleh orang lain yang tak sehaluan dengan penafsiran ajaran tsb, jangan lempar atau kirim isi ajaran agama tsb ke ruang publik, apalagi dilempar ke publik sebagai alat pembenaran (absolut). > Ingat pembakaran mesjid di Kupang yang konon > melibatkan Theo Syafei dulu ??? ..ternyata semua > bisa jadi intoleran... L: Contoh anda lepas dari konteks diskusi. Kenapa anda mendadak lari ke contoh ini? > Dan mohon jangan ingatkan lagi pd saya , soal mulai dri diri sendiri.., krn > sy bosan.. dan kalau semua bisa terjadi dgn mulai dr diri sendiri.. buat > apa... ada moderator.. buat apa ada polisi... dstnya... > nyatanya kita ada dalam tahap... bhw perbaikan diri sendiri mungkin bagus > buat kita.. tapi ada orang lain yg perlu moderator, polisi.. bahkan > Presiden yg baik... ekstrimnya jika mrk pikir mrk ( > moderator,polisi,pendidik, ulama) dll) nggak perlu kerja.. krn semua orang > sudah patuh memperbaiki diri sendiri... maka kita perlu pensiunkan mrk itu.. L: Saya menyinggung peran moderator dan pemimpin agama dalam konteks kalimat anda berikut: "Kalo soal jangan sampai ada konflik sektarian.itu kita semua setuju... CARANYA, yang pertama ya santai aja berdiskusi.danbetrbeda pendapat... yang kedua .. kalau jd panas juga ( namanya manusia) ya di potong aja sama moderator... gampang kan... dan kita bicara lagi hal lain... " sebab CARA yg anda tulis ini 100% menggantungkan diri pada peran moderator yang sudah begitu berat (baik mental atau fisik) dalam kerja moderasi dan cenderung membiarkan para penulis postingan berbuat dan menulis seenaknya tanpa ada usaha meringankan beban moderator. Saya menulis pola pikir orang2 yang mengusulkan CARA anda ini sebagai pola pikir yang terlalu tergantung pada pimpinan atau arahan orang lain. Dalam tanggapan saya sebelumnya, saya TIDAK MENULIS semacam " ... mulai perbaiki diri sendiri" kepada anda (dan tulisan ini seandainya ada jelas lepas dari konteks). Isi tulisan saya selengkapnya adalah sbb: "Menghindari potensi konflik sektarian itu idealnya merupakan usaha bersama masyarakat dan prilaku toleransi terhadap perbedaan pendapat/ keyakinan idealnya dimiliki oleh setiap orang, bukan hanya dimiliki oleh segelintir orang (para moderator dan para nabi saja :- ))." Tulisan2 anda selanjutnya juga lepas dari konteks yang saya tanggapi di atas. > Saya sadar bhw ada yg tampaknya toleransinya kurang > seperti beberapa ormas yg menggunakan nama Islam, > tetapi sy percaya ini terjadi antara lain spt kata > Mas Wal Suparmo.. ada yg memanfaatkan utk kepentingan politik... L: Seandainya ada orang yang berbuat negatif dengan mengatas-namakan ajaran agama saya, atau mencari pembenaran tindakan dengan ajaran2 agama saya, saya akan kritik, bahkan kutuk, orang tsb habis-habisan tanpa perlu mencari pembenaran bagi saya (untuk tidak mengkritik/ mengkutuk) lewat alasan2 semacam "(Mohon dimengeri perbuatan orang yang mengaku se umat dengan saya tsb) karena ada yang mendorongnya dari belakang untuk berbuat demikian". > Tentu bertindak atas nama Tuhan pun harus di definisikan dgn baik.. saya > yakin Pastor yg menyelenggarakan sakramen Pengakuan dosa, tidak mau > disalahkan bhw dia mengambil wewenang Tuhan..., walau sesungguhnya banyak > pihak percaya hanya Tuhan yang punya wewenang mengampuni..dosa.. itu.. L: Anda, pastor atau bukan pastor, ustadz atau bukan ustadz bebas mengatas-namakan Tuhan di dalam acara ritual agama sendiri, tetapi jangan melakukan pengatas-namaan semacam di ruang publik. Salam
