Menjadi salah satu unsur pimpinan PBB berarti
Indonesia menjadi salah satu pihak yang menghendaki
anggota patuh pada peraturan. Repotnya tidak ada
organisasi yang mendorong anggotanya agar semakin
suka-suka. Bahkan kecenderungan pengurus baru, entah
itu pengurus RT, osis, ormas atau apa saja ialah
menerapkan disiplin yang lebih baik dari yang
sebelumnya. Lebih-lebih jika keanggotaan itu terlihat
ikut menaikkan imej si pengurus baru. Rasanya
Indonesia pingin pasang wibawa deh, sekalipun
sebetulnya hubungan yang hebat sudah terjalin antara
Indonesia dengan Iran. Itulah fakta kepemimpinan,
fakta politik dan fakta kepentingan. Engga tahu fakta
apa yang ada di benak dpr-dpr itu!



 
--- Sulaeman Herisuwendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya akur dengan pendapat pak Wal Suparmo.
> Iran ternyata tidak lebih cerdas dari Korea Utara
> ataupun Pakistan dari segi
> politik. Kalau presiden Iran banyak menabur kata
> sensitif yang mengundang
> konflik, maka kenapa bangsa kita merelakan diri
> untuk jadi tumbal agenda
> politik Iran?  Berpijak kepada Kebenaran itu satu
> hal, tapi smart membawa
> kebenaran juga hal yang harus difikirkan setiap
> diplomat dan insan.
> 
> Korea, India dan Pakistan tahu membaca situasi
> politik dunia sehingga
> berhasil mendapatkan nuklirnya. Sementara Iran belum
> juga mencapai 100%
> hasrat nuklirnya malah sudah banyak menabur perang
> mulut. Besar omongnya
> daripada nuklirnya. Saya kira belajar dari situ,
> dalam urusan politik
> lantang dan keras tidaklah selamanya emas. Mungkin
> diejek kambing congek dan
> lemah malah lebih bagus, yang penting agenda
> tercapai.
> SH

Kirim email ke