Dear Rekan,

Mari kita menuju kemenangan bersama, dalam pola pikir
dan dialog konstruktif untuk kemaslahatan bersama.
Saya kutip Jalaludin Rahmat yang suatu saat mengatakan
dengan tulus: kekerasan dengan warna keagamaan
(termasuk FPI) disinyalir hanyalah alat dari kekuasaan
tertentu. Marilah kita mencurahkan energi untuk
kemaslahatan umum. 

--- Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 
> Pluralisme dalam Islam Moderat
> 
> 29-November-2006
> 
> Oleh: M Hilaly Basya
> 
> Pluralisme dalam Islam harusnya bisa membebaskan
> umat.
> Itu sebabnya almarhum Nurcholish Madjid melalui
> Paramadina telah memperluas spektrum pemikiran
> pluralisme. Bahkan pemikiran pluralisme yang
> dikembangkan cak Nur sekarang sudah punya
> signifikansinya di dunia internasional. Hal ini
> disampaikan Budhy Munawar Rachman dalam seminar
> “Kritik dan Kontekstualisasi Peradaban Islam” yang
> dilaksanakan dalam rangka ulang tahun Paramadina
> ke-20
> di Jakarta, Rabu 22 November 2006 (Kompas, 23/11).
> 
> Seminar juga menghadirkan Lies Marcoes Natsir
> (kelompok feminis) dan Abdul Muis Naharong (Dekan
> Fakultas Falsafah dan Agama Universitas Paramadina).
> Sebagai pembicara pakar Islam Prof Jalaludin Rahmat
> menyampaikan pidato kunci.
> 
> Berkaitan dengan pluralitas agama, teologi yang
> berkembang di kalangan umat Islam dapat di bedakan
> menjadi dua, yaitu teologi eksklusif dan teologi
> pluralis. Teologi eksklusif mendorong penganutnya
> menutup diri terhadap relasi sosial dengan pemeluk
> agama lain. Didasari pandangan bahwa non-muslim
> sesat,
> jahat, dan senantiasa ingin merusak umat Islam.
> Pandangan serupa ini mereka adopsi dari QS
> Al-Baqoroh/2:120 “Orang-orang Yahudi dan Nasrani
> tidak
> akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama
> mereka”.
> 
> Berbeda halnya dengan yang pertama, teologi pluralis
> mendorong pemeluknya bersikap terbuka terhadap
> kelompok dari agama lain (non Muslim). Sikap terbuka
> akan berdampak pada relasi sosial yang sehat dan
> harmonis antar sesama warga masyarakat. Pluralisme
> yang dilandasi toleransi itu tidak berarti bahwa
> semua
> agama dipandang sama. Sikap toleran hanyalah suatu
> penghormatan akan kebebasan dan hak setiap orang
> untuk
> beragama. Perbedaan agama tidak boleh menjadi
> penghalang untuk saling menghargai, menghormati, dan
> kerjasama.
> 
> Jika kita mencemati secara seksama, sesungguhnya
> ajaran Islam lebih bersemangat pluralis ketimbang
> eksklusif. Bahkan Islam melarang pemaksaan beragama,
> seperti dijelaskan dalam QS Al-Baqarah/2:256 “tidak
> ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”.
> Maksudnya, keberagamaan setiap orang harus dijamin.
> Umat Islam harus memberikan kebebasan seluas-luasnya
> kepada setiap orang untuk memeluk agama yang
> diyakininya. Sikap pluralis berarti menghormati dan
> menghargai kemajemukan agama.
> 
> Teologi pluralis yang dikandung ajaran Islam
> menganut
> prinsip-prinsip moderat. Penegakkan kebenaran harus
> dilakukan dengan jalan kebenaran pula, bukan dengan
> kekerasan. Kemauan untuk menghormati agama lain
> adalah
> perwujudan sikap moderat.  Sikap moderat seperti ini
> tidak berarti kita tidak konsisten terhadap agama,
> melainkan penghormatan akan hak seseorang.
> 
> Teologi pluralis memiliki semangat mencari kebenaran
> dan mendialogkannya.  Pantang menggunakan kekerasan
> dalam menegakkan kebenaran. Lebih besikap terbuka
> ketimbang keras kepala, baik untuk menerima
> kebenaran
> yang ada dalam agama non Islam maupun bersama-sama
> membangun sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi
> kemanusiaan.
> 
> Teologi Islam yang pluralis adalah rahmat-an lil
> ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), teologi tersebut
> adalah pilar moderatisme Islam. Di sini, ajaran
> Islam
> tidak diarahkan kepada eksklusifisme seperti
> membenci
> agama lain, merendahkan non muslim, atau memusuhi,
> dan
> menggunakan kekerasan dalam menyiarkan kebenaran.
> Sikap pluralis jauh dari itu semua, bahkan
> sebaliknya,
> mempromosikan toleransi dan kerjasama. Perbedaan
> agama
> tidak menjadi penghalang bagi interaksi dan aksi.
> Sejak awal (periode rasul saw), Islam senantiasa
> menganjurkan untuk merangkul umat non muslim
> bekerjasama membangun masyarakat. Maka dengan
> sendirinya Islam mempromosikan perdamaian, bukan
> kekerasan.(CMM)

Kirim email ke