Dear All, khusus Alfons Taryadi n moderators, Sebuah penelitian yang coba mengorek peran media dituangkan dalam buku "MEDIA DAN KONFLIK AMBON", oleh ERIYANTO dan Tim Penelitinya (2003). Buku ini diterbitkan Media Development Loan Fund bekerjasama dengan Kantor Berita Radio 68 H, yang punya perhatian cukup besar pada konflik horizontal di wilayah Timur Indonesia.
Resume di halaman cover paling belakang buku ini memberi kita gambaran peran MEDIA di tengah konflik di Maluku. Saya kutip selengkapnya: "Konflik berlatar agama (maaf, kalimat ini tidak juga tepat, lihat komentar di bawah) di Ambon diperburuk orang-orang yang bersembunyi di balik pena dan mikroppon untuk memanaskan situasi. Ada media yang mula-mula plural dan mengedepankan akal sehat, tapi terdesak keadaan sehingga sulit mempertahankan independensinya. Ada juga media yang memang sejak semula (maksudnya, "by design") berniat partisan. Tetapi kebanyakan media terkesan berpihak hanya karena kurang terlatih mengelola informasi di tengah konflik. "Buku ini memotret koran dan radio lokal di Ambon. Bagaimana peran mereka dalam konflik Ambon 1999-2002? Bagaimana sulitnya mereka untuk terus bersikap imparsial dalam konlik yang kian mengeras dan segregatif. "Sebuah rekaman peristiwa buruk yang menewaskan ribuan orang, dan catatan agar awak media tidak mengulangi peran yang sama di masa mendatang." Inilah salah satu karya kritis, yang memberi kami suatu harapan, bahwa orang kelak akan tahu apa yang pernah dan sesungguhnya terjadi dengan konflik di Maluku. Khusus kalimat pertama tadi, semestinya kalimat itu lebih obyektif dan NETRAL kalau dibahasakan sedemikian: "Konflik "YANG DIBERI KESAN SEOLAH" berlatar agama di Ambon itu diperburuk orang-orang yang bersembunyi di balik pena dan mikropon untuk memanaskan situasi." Tanpa kata-kata yang dikapitalkan itu, buku ini tidak luput dari cacat konfirmasi stigma buruk bagi orang atau pemeluk agama berbeda di Ambon (Maluku), bahwa seolah terjadi konflik agama di Maluku. Hal yang sejak awal, saya tolak mentah-mentah di pelbagai media cetak dan elektronik awal tahun 2000 dari Elemen Pemuda Maluku Tenggara. Demikian juga, saudara dan salah satu tokoh pejuang Maluku yang saya hormati Thamrin Amal Tomagola, sosiolog dan pemberani yang membela para saudaranya yang berbeda religi di Maluku dan Maluku Utara. Bila agama sejak awal dihembuskan sebagai alasan konflik, sebenarnya SALAH BESAR. Pengkondisian itu telah melibatkan operasi intelijen besar-besaran. Dan, di Maluku ada pelbagai faktor dapat dijadikan rusuh sosial, dan para actor tahu persis keadaan itu. Agama bukan hanya kekecualian bagi Maluku, karena agama di mana saja mudah menjadi bak bensin disulut nyala api. Kita hanya mau berdamai dan kembali memaafkan keadaan irrasional yang telah terjadi, meskipun tidak melupakannya. Karena, kami saudara basudara di Maluku telah menyadari kebodohan kami, mengikuti irama tifa dari luar daerah kami. wassalam, berthy b rahawarin --- Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear All, khususnya ALFONS TARYADI n moderator, > > Saya membaca langsung TEKA-TEKI di harian KOMPAS. > Selama berada di tengah wilayah KONFLIK sosial di > bagian Timur Indonesia, media Nasional, > suka-tidak-suka, sebagian mungkin "by designed" yang > lain "by accident", telah menjadi kekerasan baru dan > tidak dapat membuat bahasa mediasi yang tepat untuk > mengungkap keadaan yang sebenarnya di tengah > masyarakat. Ujung-ujungnya, masyarakat menjadi > "victimized victim": sudah hidup melarat, mendapat > stigma buruk sesama bangsa (yang mencerna > mentah-mentah bahasa media). Contoh kalimat media, > next time akan disertakan. ____________________________________________________________________________________ It's here! Your new message! Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
