Saya luruskan sedikit tulisan kolumnis "beken" ini:

Irak di bawah Saddam Hussein semula MEMILIKI senjata
pemusnah massal (WMD). Itu fakta yang SUDAH diakui
oleh pemerintah Irak dalam laporan kepada PBB. Mereka
memiliki PROGRAM PEMBUATAN SENJATA NUKLIR, memiliki
stok SENJATA BIOLOGI, dan memiliki SENJATA KIMIA dalam
jumlah besar (digunakan terhadap suku Kurdi di
Halabjah dan terhadap pasukan Garda Revolusi Iran di
medan perang Khoramshar.) Tetapi kepemilikan ini tidak
diakui sejak awal. Bahwa mereka memiliki semuanya baru
diakui setelah menantu Saddam Hussein, Letnan Jenderal
Husein Kamil membelot ke Amman (dia di-eksekusi oleh
Uday Hussein putra Saddam sewaktu pulang ke Bagdad).

Sebenarnya Resolusi DK PBB nomor 687 pada akhir Perang
Teluk tahun 1991 yang diterima oleh Irak menetapkan
keharusan pemusnahan semua senjata WMD beserta
fasilitas dan program pembuatannya. Saya kutip
sebagian resolusi yang WAJIB dipatuhi Irak itu.
(Penjelasan saya lanjutkan sesudah kutipan beberapa
paragraf).

http://www.fas.org/news/un/iraq/sres/sres0687.htm

8. Decides that Iraq shall unconditionally accept the
destruction, removal, or rendering harmless, under
international supervision, of:

(a) All chemical and biological weapons and all stocks
of agents and all related subsystems and components
and all research, development, support and
manufacturing facilities;

(b) All ballistic missiles with a range greater than
150 kilometres and related major parts, and repair and
production facilities;

9. Decides, for the implementation of paragraph 8
above, the following:

(a) Iraq shall submit to the Secretary-General, within
fifteen days of the adoption of the present
resolution, a declaration of the locations, amounts
and types of all items specified in paragraph 8 and
agree to urgent, on-site inspection as specified
below;

(b) The Secretary-General, in consultation with the
appropriate Governments and, where appropriate, with
the Director-General of the World Health Organization,
within forty-five days of the passage of the present
resolution, shall develop, and submit to the Council
for approval, a plan calling for the completion of the
following acts within forty-five days of such
approval:

(i) The forming of a Special Commission, which shall
carry out immediate on-site inspection of Iraq's
biological, chemical and missile capabilities, based
on Iraq's declarations and the designation of any
additional locations by the Special Commission itself;

(ii) The yielding by Iraq of possession to the Special
Commission for destruction, removal or rendering
harmless, taking into account the requirements of
public safety, of all items specified under paragraph
8 (a) above, including items at the additional
locations designated by the Special Commission under
paragraph 9 (b) (i) above and the destruction by Iraq,
under the supervision of the Special Commission, of
all its missile capabilities, including launchers, as
specified under paragraph 8 (b) above;

(iii) The provision by the Special Commission of the
assistance and cooperation to the Director-General of
the International Atomic Energy Agency required in
paragraphs 12 and 13 below;

10. Decides that Iraq shall unconditionally undertake
not to use, develop, construct or acquire any of the
items specified in paragraphs 8 and 9 above and
requests the Secretary-General, in consultation with
the Special Commission, to develop a plan for the
future ongoing monitoring and verification of Iraq's
compliance with this paragraph, to be submitted to the
Security Council for approval within one hundred and
twenty days of the passage of this resolution;

11. Invites Iraq to reaffirm unconditionally its
obligations under the Treaty on the Non-Proliferation
of Nuclear Weapons of 1 July 1968;

12. Decides that Iraq shall unconditionally agree not
to acquire or develop nuclear weapons or
nuclear-weapons-usable material or any subsystems or
components or any research, development, support or
manufacturing facilities related to the above; to
submit to the Secretary-General and the
Director-General of the International Atomic Energy
Agency within fifteen days of the adoption of the
present resolution a declaration of the locations,
amounts, and types of all items specified above; to
place all of its nuclear-weapons-usable materials
under the exclusive control, for custody and removal,
of the International Atomic Energy Agency, with the
assistance and cooperation of the Special Commission
as provided for in the plan of the Secretary-General
discussed in paragraph 9 (b) above; to accept, in
accordance with the arrangements provided for in
paragraph 13 below, urgent on-site inspection and the
destruction, removal or rendering harmless as
appropriate of all items specified above; and to
accept the plan discussed in paragraph 13 below for
the future ongoing monitoring and verification of its
compliance with these undertakings;

13. Requests the Director-General of the International
Atomic Energy Agency, through the Secretary-General,
with the assistance and cooperation of the Special
Commission as provided for in the plan of the
Secretary-General in paragraph 9 (b) above, to carry
out immediate on-site inspection of Iraq's nuclear
capabilities based on Iraq's declarations and the
designation of any additional locations by the Special
Commission; to develop a plan for submission to the
Security Council within forty-five days calling for
the destruction, removal, or rendering harmless as
appropriate of all items listed in paragraph 12 above;
to carry out the plan within forty-five days following
approval by the Security Council; and to develop a
plan, taking into account the rights and obligations
of Iraq under the Treaty on the Non-Proliferation of
Nuclear Weapons of 1 July 1968, for the future ongoing
monitoring and verification of Iraq's compliance with
paragraph 12 above, including an inventory of all
nuclear material in Iraq subject to the Agency's
verification and inspections to confirm that Agency
safeguards cover all relevant nuclear activities in
Iraq, to be submitted to the Security Council for
approval within one hundred and twenty days of the
passage of the present resolution;

SATO: Nah, lama sesudah masa 45 hari itu berlalu, dan
sesudah kucing-kucingan dengan tim inspeksi PBB dimana
tim ini sering harus menunggu berhari-hari sebelum
di-izinkan memeriksa satu lokasi, atau tim itu ditolak
dengan alasan adanya agen CIA atau Mossad yang menjadi
anggotanya, tidak diizinkan memeriksa situs-situs
kepresidenan, dan sempat diusir dan tidak kembali
selama dua tahun, maka akhirnya pemerintah Irak yang
semula berkeras tidak mengaku, mengaku mereka memiliki
WMD kimia dan biologi serta program nuklir (sesudah
dibocorkan Letjen Hussein Kamil yang antara lain
mengungkapkan timbunan dokumen yang disembunyikan di
satu peternakan ayam).

Dan berdasarkan pengakuan ini yang disertai laporan
yang dikatakan lengkap mengenai keberadaan
senjata-senjata itu, tim inspeksi PBB melakukan
penghancuran stok persenjataan tersebut.

Yang menjadi masalah adalah: AS tidak percaya Saddam
sudah melaporkan semua WMD yang mereka miliki, negara
itu tetap curiga masih ada yang disembunyikan karena
pola kucing-kucingan Saddam yang terus saja berbohong
sebelum mengaku. Semula kelihatannya semua ini hendak
dilupakan dan dimaafkan, namun terjadilah peristiwa 11
September 2001 yang menimbulkan paranoia terhadap
kemungkinan Saddam memasok senjata kimia atau biologi
atau "bom kotor" radioaktif kepada teroris.

Jadi yang jadi persoalan: apakah memang MASIH ADA
senjata WMD Irak yang belum dihancurkan dan dibongkar
tim inspeksi PBB? Saddam mengatakan SEMUA sudah
dimusnahkan oleh tim PBB dan oleh mereka sendiri. AS
dan teman-temannya mengatakan masih ada yang
disembunyikan bahkan pembuatannya diaktifkan kembali
(dan inilah yang dibeberkan oleh Colin Powell dari
sumber pemantauan satelit dan info "fitnah" yang
tampaknya berasal dari dinas intelijen Iran itu. Konon
Ahmad Chalabi adalah ular berkepala dua). 

Jadi keadaannya samalah seperti gembala yang sering
berbohong berteriak-teriak serigala, lalu sewaktu
kawanan serigala benar-benar datang, orang kampung
sudah tak percaya lagi walau dia berteriak setinggi
langit bahwa ada serigala. Karena Saddam TERUS
BERBOHONG tidak memiliki WMD tetapi ternyata ADA, maka
pada saat
senjata itu sebenarnya memang sudah tidak ada lagi dan
dia mengatakan TIDAK ADA LAGI, orang tidak percaya.
Dan terjadilah invasi yang seharusnya tidak perlu ke
negaranya. Demikian sedikit pelurusan dari saya.

-------- 

Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0704/ 03/utama/
3415439.htm
============ =====

Mantan Panglima Amerika Serikat Jenderal (Purn) Colin
Powell hanya bisa membeli sedan Volvo S-122 buatan
tahun 1966. Ia paham mesin karena terlatih membetulkan
sendiri mobilnya untuk menghemat biaya.

Ia marah saat sebagai menlu berbohong di hadapan Dewan
Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) soal
senjata pemusnah massal Irak. Citra satelit
memperlihatkan dua truk yang berfungsi sebagai
"laboratorium yang memproduksi senjata" pemusnah
massal—sebuah kemustahilan.

Empat hari sebelum pidato 5 Februari 2003, Powell
latihan dulu di kantor CIA. Orang yang sempat
dielu-elukan jadi presiden itu marah dan melemparkan
kertas pidatonya sambil berucap, "Saya tak mau baca
ini. Ini bullshit!"

Pidato Powell mirip gombal penjual obat kurap di
pinggir jalan. Selain dua truk itu, ada juga bukti
berupa obrolan telepon antar-tentara Irak dan hubungan
antara rezim Saddam Hussein dan Al Qaeda.

Setelah pidato itu, mayoritas rakyat mendukung invasi
ke Irak. Kontras dengan mayoritas negara PBB yang tak
mendukung karena Irak tak pernah membeli uranium dari
Niger, Hans Blix (Unmovic) dan Mohamed ElBaradei
(IAEA) sudah melaporkan tak ada senjata pemusnah
massal, dan banyak data intelijen yang dipalsukan CIA
serta MI6.

Bulan Maret 2003, Presiden AS George W Bush
mengumumkan "diplomasi telah gagal" sekaligus
membentuk "coalition of the willing" untuk
menghancurkan senjata pemusnah massal Irak. Padahal,
DK menyetujui 16 resolusi tentang Irak—salah satunya
Resolusi 1441 yang disetujui 15
anggota DK yang sudah menghukum berat Irak.

Serbuan ke Irak yang tanpa resolusi baru merupakan
pelanggaran atas Piagam PBB dan hukum internasional.
Itu dikemukakan resmi 16 September 2004 oleh Sekjen
PBB Kofi Annan—yang gemar memelesetkan jabatannya
sebagai "SG" (Secretary General) dengan "Scape Goat"
(kambing hitam).

Dua anggota tetap DK, AS dan Inggris, memaksakan "aksi
militer" terhadap Irak. Tiga negara (China, Rusia, dan
Perancis) hanya mengatakan berikan waktu untuk Unmovic
dan IAEA menjalankan tugasnya serta belum ada bukti
kuat untuk menyerbu Irak.

Delapan dari sepuluh anggota tidak tetap (Jerman,
Angola, Kamerun, Cile, Guinea, Meksiko, Pakistan, dan
Suriah) mendukung dilanjutkannya inspeksi IAEA atau
Unmovic. Tak jarang mereka mengeluh ditekan para
diplomat AS yang kalau berbicara "nadanya selalu
bermusuhan".

Lembaga penelitian Institute for Policy Studies di
Washington DC menerbitkan laporan yang mengungkapkan
"ofensi pelintir tangan" AS untuk memperoleh dukungan
di PBB. Cara itu pula yang dilakukan tatkala Presiden
George W Bush mengumumkan "coalition of the coerced"
(koalisi pemaksaan).

"Negara yang mendukung Bush diancam, digertak, dan
disogok" kata laporan itu. Mereka dijanjikan kredit
lunak, bantuan militer, diancam akan diveto kalau mau
jadi anggota NATO, atau diancam akan memaksa Bank
Dunia dan IMF menghentikan bantuan.

NSA (National Security Agency) melancarkan operasi
penyadapan komunikasi telepon dan surat elektronik
diplomat negara-negara DK PBB. Operasi atas surat
perintah Penasihat Keamanan Nasional Condoleezza Rice
itu ditujukan kepada diplomat Angola, Kamerun, Cile,
Meksiko, Guinea, dan Pakistan.

Lima anggota tetap DK PBB mempunyai senjata nuklir
yang dilarang NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty).
Status pemilik nuklir bukan syarat meskipun kadang
kala dijadikan sebagai pembenaran dan ia makin kabur
karena India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel
memiliki
senjata nuklir walau bukan peserta NPT.

Anggota tetap mempunyai hak veto yang langsung
membatalkan resolusi. "Perang veto" sangat sengit
karena sejak tahun 1984 AS menggunakan veto 43 kali
(lebih dari 30 di antaranya resolusi yang kritis
terhadap Israel) dibandingkan dengan Inggris (10
kali), Rusia (4), Perancis (3), dan China (2).

G-4 (Brasil, Jerman, India, dan Jepang) berminat
menjadi anggota tetap. Jerman dan Jepang penyumbang
terbesar untuk PBB, Brasil negara terbesar di Amerika
Selatan, dan India negara berpopulasi terbesar
kedua di dunia.

Usulan lain penambahan lima anggota yang tiga diambil
dari G-4, satu dari Afrika (Mesir, Nigeria, atau
Afrika Selatan), dan satu lagi dari Liga Arab.
Indonesia tak masuk hitungan meskipun berstatus negara
berpenduduk Islam terbesar di dunia atau berpenduduk
terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan
AS.

Wajar AS memaksakan berbagai cara menekan Indonesia
menyetujui Resolusi 1747 DK PBB tentang Iran. Berlaku
pemeo "yang kuat dan salah mengalahkan yang lemah dan
benar".

Muncul kekhawatiran yang sedang terjadi di DK awal
dari proses panjang yang dulu dialami Irak. Invasi
yang salah oleh negara adidaya berdasarkan alasan yang
salah akhirnya menghasilkan perang yang secara moral
maupun politis juga salah.

Tiba-tiba mau diciprati lumpur dari Irak yang dilempar
Presiden Bush. Tiba-tiba didikte kontrak Microsoft,
padahal keburu mengembangkan IGOS.

Tiba-tiba absen dari East Asia Summit 2007 di
Filipina. Boneka tiba-tiba.

Bung Karno, Pak Harto, dan Gus Dur tak suka boneka
karena cinta wayang kulit dari kecil sampai tua. Pak
Habibie kolektor engel pupen, boneka Jerman yang mahal
harganya.

Bu Mega saat remaja senang lagu Dakocan, si boneka
sehitam Afrika yang bermata besar bak gadis India,
bergincu merah bagai perawan China, dan yang berasal
dari Negeri Sakura. Indonesia pentas aneka boneka.



Kirim email ke