Dear Rekan. Kita tetap memberi perhatian. Bahkan, soal peristilahan pun ternyata memang ada perkembangan. Istilah "diffable" merupakan akronim kata inggris dari "diffrence ability" atau "kemampuan berbeda" lebih berkonotasi positif dan optimistik. "Disable" (tak berkemampuan) dianggap kurang tepat dan terkesan pesimistik dan tambah "under-estimate" (apalagi diucapkan Mas Tukul).
Terimakasih untuk perkembangan istilah yang sudah lama juga dimuat Kompas (tahun 2004) menjelang Pemilu. Itulah daya sebuah bahasa, istilah. Di dalamnya ada kekuatan "magis" untuk meneguhkan (Abraham Maslow), atau sebaliknya meruntuhkan harapan. wassalam, berthy b rahawarin --- Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Maaf Dinda, > > Pasti Anda salah mengerti dengan apa yang saya > maksudkan tidak "Normal" pada kaum Diffabel....hanya > saja kalo istilah itu masih belum merata....saya > merasa belum bisa kita gunakan untukse-hari-hari. > Bagi > saya pribadi yang sudah dua dekade bekerja dengan > kaum > yang Anda anggap diffabel saja baru mendengar > istilah > tersebut sekarang untuk pertama kalinya. > > Justru model seperti anda lah yang ingin memaksakan > kehendak dan selalu merasa yang paling benar itu > akan > lebih membuat orang "tidak normal" akan bertambah > kecil hatinya. > > Saya cukup paham kapan mereka akan merasa > didiskriminasi dan kapan mereka biasa-biasa saja. > Yang saya alami meslipun sayamenggunakan istilah itu > terhadap mereka....mereka hepi2 saja...yang menjadi > masalah adalah mereka2 yang normal itulah.....yang > selalu ingin menjadi pahlawan dari Kaum yang tidak > normal itu. > > Maaf...and peace...... > > Salam hormat, > > Ratih
