Tahun 2003, karena keterpaksaan dan menjaga hubungan keluarga aku terpaksa masuk STPDN (dulu, red). Soalnya keponakan dari kakak sepupu kandung istriku mendaftar jauh dari Papua tapi belum ada kepastian lolos. Aku sempat bertanya-ntaya kenapa ngotot jauh dari Nabire (Papua) untuk masuk STPDN. Sepupu bilang, dia sudah menghabiskan Rp 40 juta agar bisa lolos di daerah. Tinggal tes di Sumedang lagi. (4o juta kan udah bisa kuliah di Monash University) Pasti jadi pintar dan mudah dapat kerja. Tapi karena otak orba aku tak berkutik. Selain itu sepupu istri lagi, bisa rusak hubungan ama keluarga istri dan mertua. Pasrah saja. Singkat cerita keponakan dari sepupus itri tersebut berhasil lolos, dan total duit yang dikeluarkan 45 juta..Gile benar...Udah bisa beli angkot bekas cicaheum-ciroyom nih...
Semula aku dan sebagian masyarakat mungkin berharap dengan berubah menjadi IPDN ada perubahan. Ternyata berita hari ini (4/4/07) di media massa menghenyakkan kita semua. STPDN (Sekolah Tukang Pukul Dalam Negri)ternyata berubah menjadi IPDN (Institut Pemerkosa Dalam Negri). Buktinya, seorang dosen IPDN yang sedang menyusun disertasi (Pak Dosen Inu Kencana) mengaku di koran Warta Kota bahwa dari tahun 2000-2004 ada 660 kasus seks bebas di kalangan mahasiswa STPDN-IPDN (Institut Pemerkosa Dalam Negri). Biadab, masyarakat kita mulai dari tingkat kelurahan hingga mendagri, bahkan mungkin presiden, suatu saat nanti akan dipimpin para lulusa yang tidak hanya suka memukul dan premanisme, tapi juga suka seks bebas. Biadabnya lagi, mereka kuliah gratis dan dibiayai oleh kita- kita yang bayar pajakkkkkkkkkkkkkkkkk. Hancurrrrrr moral dan martabat bangsa ini nantinya. Tak ada kata lain, dari sekarang kita tegaskan;;; Bubarkan IPDN, atau Tolak Pemimpin Lulusan IPDN..... Mereka lebih bahaya dari ketakutan orang akan Komunisme....... Sori ini dendam lama, yang penting kan sekedar rasa dendam, tapi tidak suka memukuli orang apalagi seks bebas dengan orang lain... Sekedar rasa, jauh lebih wajar...
