Saya setuju untuk mengkritik negara2, termasuk pemerintah AS, yang 
punya hak veto di  PBB, tetapi sebatas mengkritik negara tsb, bukan 
phobia :-). Dengan sikap demikian, kita bisa benar2 murni bebas 
aktif. Kalau bersikap phobia dan selalu me-maki2 pemerintah AS, spt 
Hugo Chavez, Fidel Castro dsb, artinya kita tidak independen/ bebas 
dong (Saya mengeluarkan Evo Morales yang IMO kritis, ttp tidak 
phobia, thd pemerintah AS).

Saya melihat ketakutan thd rejim Ahmadinejad bermuara pada ketakutan 
thd OTORITAS segelintir pemimpin2 Iran yang memiliki kewenangan 
sangat besar untuk berbuat apa saja, termasuk menggirig ke perang 
nuklir (sebab Iran tak menerapkan sistem keamanan nuklir Amerika 
yang memiliki sistem pengamanan modern serba otomatis, mis. 
menggunakan sistem 'public key' yang sistemnya diciptakan oleh para 
scientists di AS). 

Dari penjelasan beberapa pakar kriptografi, presiden AS sendiri pun 
tak memiliki kewenangan untuk memulai perang nuklir, kecuali 
diserang lebih dulu oleh rudal nuklir (kewenangan memberi 
penilaian 'diserang lebih dulu pun' bukan milik presiden, tetapi 
ditentukan secara otomatis oleh sistem komputer pertahanan AS).

Saya setuju keberadaan kawasan bebas nuklir di Timur Tengah, 
termasuk wilayah Israel, Tetapi selain Israel berindikasi memiliki 
sistem pengamanan semacam sistem di Amerika, sistem pemerintahan di 
Israel pun dianggap cukup kuat membatasi kewenangan pimpinan militer 
Israel.

Inti opini saya, ketakutan banyak negara thd kekuatan nuklir bukan 
pada senjata nuklir per se (itu sendiri), tetapi pada SIAPA yang 
memegang senjata nuklir tsb. Mereka takut senjata nuklir dipegang 
oleh pemimpin negara yang sistem negaranya membuat para scientists 
di negara tsb harus koor "Setuju ..." thd setiap kebijakan pimpinan 
otoriternya. Wong demo pun di negara2 semacam ini hanya dibolehkan 
thd pihak luar.

Salam  

--- In [email protected], "Patrick" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Eko Kertajaya,
>   
>   Saya memang berstatus sbg mahasiswa S1 Hubungan Internasional. 
Opini
> Mas Eko & rekan2 lainnya tidak ada yg salah! Dalam perdebatan ini 
kita
> khn saling melengkapi, bukan begitu Mas Eko? :-)
>   Baiklah, begini penjelasan saya lebih lanjut. Iran di bawah
> pemerintahan Presiden Ahmadinejad bersikap konfrontatif dgn pihak 
AS &
> sekutu2nya. Ini merupakan FAKTA YG TAK TERBANTAHKAN! 
>   Masih ingat ketika Beliau menilai holocaust itu sbg mitos?! Lebih
> jauh lagi, ia "bergabung" dgn pemimpin2 negara Amerika Latin & 
Karibia
> yg juga sama konfrontatifnya spt, Hugo Chavez & Evo Morales. 
> Dan, berbagai pernyataan/sikap2 konfrontatif itu bisa kita temui 
dlm
> hal2 lainnya. Untuk konteks pengembangan teknologi nuklir, ia 
bahkan
> menganggap IAEA & hasil inspeksinya sbg suatu lelucon! {lihat
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/07/ln/2417163.htm}
>   Hubungan konfrontatif Iran vis a vis AS adalah cara berpikir yg
> lebih luas. Kenapa? Karena dgn demikian, kita dituntut utk melihat
> peta perimbangan kekuasaan di negara-negara Timur Tengah!!! Lihat 
juga
> hasil pertemuan Liga Arab yg baru2 ini dihadiri Wapres JK. Isu 
nuklir
> Iran tidak menjadi agenda utama!!! Ini menunjukkan banyak hal ttg 
peta
> perimbangan kekuasaan di Timur-Tengah. 
>    Memang IAEA belum menyimpulkan bahwa Iran mengembangkan senjata
> nuklir, tp kita juga harus sadar bahwa IRAN MENOLAK UTK BEKERJA 
SAMA
> DGN IAEA!!!
>     Hal yg berikut adalah tentang kemungkinan AS menyerang Iran! 
Ini
> adalah KETAKUTAN YG BERLEBIHAN! Kenapa? KArena, AS belajar banyak 
dari
> Irak! Belakangan ini, Senat & DPR AS juga sedang menekan Presiden 
Bush
> utk menarik pasukan yg ada di Irak. Jadi, aksi militer thdp Iran
> adalah HAL TERAKHIR YG AKAN DIPIKIRKAN PRESIDEN BUSH!! Apalagi,
> berdasarkan riset  Lembaga Survei Gallup baru2 ini, lebih dari 70 %
> rakyat AS menentang aksi militer AS di Irak (Majalah Esquire, Edisi
> Internasional, April 2007)!!   
>     Nah, mari kita pikir2, apa yg terjadi bila Indonesia bersikap
> abstain atau menolak (draf) Resolusi 1747?? Apakah Indonesia dapat
> ikut merevisi draf Resolusi 1747 agar sanksi thdp Iran bisa lebih
> ringan?  Lantas, apakah konflik menyangkut isu nuklir Iran dpt 
selesai
> bila kita memilih abstain/menolak?? Memang, TIDAK ADA JUGA YG BISA
> MENJAMIN AS AKAN MEMPERHATIKAN KLAUSUL2 DLM SUATU RESOLUSI DK-PBB! 
Tp
> setidaknya, KITA PUNYA SEMACAM AMUNISI UTK MENAGIH KOMITMEN AS dlm
> menyelesaikan isu nuklir Iran ini...Demikian Opini saya sbg 
penstudi
> HI yg masih belum banyak makan asam garam ini :-)
> 
> Salam hangat,
> 
> Patrick Hutapea
> Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasionak
> Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Kirim email ke