Salam Betul mas, saling melengkapi dan menambah wawasan. Apalagi saya ini orang accounting, tiap hari makan angka terus, jadi kalo ngomong politik sama "calon diplomat" kayaknya pas banget :-) Balik lagi, mas bukannya konfrontatif dengan AS itu gak muncul secara tiba2 khan. Semua negara di dunia pasti tahu bagaimana sepak terjang AS dengan "kolonialisme dan imperialisme" model barunya. Cuma gak ada yang berani atau punya "nyali" untuk setidak-tidaknya menjadi kekuatan penyeimbang. Nah, Iran dan beberapa negara Amerika latin memulai ke arah tersebut. Jadi kalo label konfrontatif dialamatkan ke mereka, pertanyaannya adalah siapa dulu yang memulai ? Mengambil contoh negara Timur tengah yang lain, khan balik lagi ke arah ketergantungan negara2 tersebut terhadap AS. Kalkulasi politik pasti tidak ada pilihan lain selain mendukung setiap langkah AS. Saya membaca peta timur tengah seperti itu. Kayaknya tindakan Bush gak pernah deh didasarkan pada survey. Meskipun gagal di Irak, masukan dari negara cs nya , Perancis,Jerman dsb agar mengurangi pasukan di Irak, penurunan pularitas di dalam negeri, tetap aja dia lanjutkan apa yang dimauinya. Tentu ada pengaruh sikap kita terhadap resolusi tersebut mas. Kalo menagih komitment AS emang siapa kita ini. Tapi jika bersikap abstain saja tentu saja penilaian dunia akan memandang bahwa Indonesia memang benar2 berbuat aktif untuk perdamaian dunia. Maaf jika pendapat saya salah
Wasallam -------Original Message------- From: Patrick Date: 04/04/2007 03:48:11 PM To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pro-Kontra Sanksi DK-PBB ke Iran - -> PRO! Mas Eko Kertajaya, Saya memang berstatus sbg mahasiswa S1 Hubungan Internasional. Opini Mas Eko & rekan2 lainnya tidak ada yg salah! Dalam perdebatan ini kita khn saling melengkapi, bukan begitu Mas Eko? :-) Baiklah, begini penjelasan saya lebih lanjut. Iran di bawah pemerintahan Presiden Ahmadinejad bersikap konfrontatif dgn pihak AS & sekutu2nya. Ini merupakan FAKTA YG TAK TERBANTAHKAN! Masih ingat ketika Beliau menilai holocaust itu sbg mitos?! Lebih jauh lagi, ia "bergabung" dgn pemimpin2 negara Amerika Latin & Karibia yg juga sama konfrontatifnya spt, Hugo Chavez & Evo Morales. Dan, berbagai pernyataan/sikap2 konfrontatif itu bisa kita temui dlm hal2 lainnya. Untuk konteks pengembangan teknologi nuklir, ia bahkan menganggap IAEA & hasil inspeksinya sbg suatu lelucon! {lihat http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/07/ln/2417163.htm} Hubungan konfrontatif Iran vis a vis AS adalah cara berpikir yg lebih luas. Kenapa? Karena dgn demikian, kita dituntut utk melihat peta perimbangan kekuasaan di negara-negara Timur Tengah!!! Lihat juga hasil pertemuan Liga Arab yg baru2 ini dihadiri Wapres JK. Isu nuklir Iran tidak menjadi agenda utama!!! Ini menunjukkan banyak hal ttg peta perimbangan kekuasaan di Timur-Tengah. Memang IAEA belum menyimpulkan bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir, tp kita juga harus sadar bahwa IRAN MENOLAK UTK BEKERJA SAMA DGN IAEA!!! Hal yg berikut adalah tentang kemungkinan AS menyerang Iran! Ini adalah KETAKUTAN YG BERLEBIHAN! Kenapa? KArena, AS belajar banyak dari Irak! Belakangan ini, Senat & DPR AS juga sedang menekan Presiden Bush utk menarik pasukan yg ada di Irak. Jadi, aksi militer thdp Iran adalah HAL TERAKHIR YG AKAN DIPIKIRKAN PRESIDEN BUSH!! Apalagi, berdasarkan riset Lembaga Survei Gallup baru2 ini, lebih dari 70 % rakyat AS menentang aksi militer AS di Irak (Majalah Esquire, Edisi Internasional, April 2007)!! Nah, mari kita pikir2, apa yg terjadi bila Indonesia bersikap abstain atau menolak (draf) Resolusi 1747?? Apakah Indonesia dapat ikut merevisi draf Resolusi 1747 agar sanksi thdp Iran bisa lebih ringan? Lantas, apakah konflik menyangkut isu nuklir Iran dpt selesai bila kita memilih abstain/menolak?? Memang, TIDAK ADA JUGA YG BISA MENJAMIN AS AKAN MEMPERHATIKAN KLAUSUL2 DLM SUATU RESOLUSI DK-PBB! Tp setidaknya, KITA PUNYA SEMACAM AMUNISI UTK MENAGIH KOMITMEN AS dlm menyelesaikan isu nuklir Iran ini...Demikian Opini saya sbg penstudi HI yg masih belum banyak makan asam garam ini :-) Salam hangat, Patrick Hutapea Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasionak Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung
