Dear mas Adrian, Ya itu pikiran pemerintah dan masyarakat kebanyakan yang masih berpikir kalo orang diffable itu perlu dikasiani jadi deh pendekatannya bukan ingin melakukan kewajibannya sebagai aparatur negara malah sok sebagai org yang berbuat amal.Meskipun kita tahu menyediakan fasilitas bagi kaum diffabel itu adalah perbuatan terpuji.Berpahala...
Aku terima cerita dari temanku di Riau itu sungguh sedih.Aku banyak menerima email-email dan telepon dari para kaum diffable setelah mereka baca tulisanku ttg diffable di www.kabarindonesia.com.Aku sedih tidak bisa berbuat banyak untuk mereka. Ok lha aku memang tidak boleh pesimis,tapi kita harus menunggu berapa lama lagi agar ada perubahan.Mungkin sampai kita mati pun di Indonesia aku sangsi akan ada fasilitas yang memadai untuk kaum diffable. Salam hangat, Dinda --- In [email protected], adrian aditya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear mbak Dinda > > memang apa yang mbak bilang tidak salah, Negara kita > emang kaya "gitu". Undang - undang yang ada itu bukan > untuk di implementasikan tapi kan lip service aja, > berapa persen peraturan perundangan yang bisa eh salah > mau dilaksanakan ama pemerintah, banyak alasan yang > digunakan pemerintah untuk tidak melaksanakan > undang-udang itu. padahal sebgai pemangku kebijakan, > Negara merupakan pihak yang berkewajiban memenuhi, > melindungi, menjamin, dan memajukan hak asasi segenap > warganegaranya tanpa kecuali (state obligation)tetapi > dalam kasus difabel, negara masih melakukan pendekatan > amal (karitatif). Jadi, pengurus negara merasa telah > berbuat baik dengan beramal untuk kaum marginal, dan > bukan karena mereka harus menjalankan hal tersebut > sebagai kewajibannya. > > kasus difabel ditolak untuk ikut PNS tu udah lama dan > gak hanya terjadi di riau (kalo gak percaya coba cari > di google!!!) banyak dah..... > > gak usah jauh - jauh kok mbak, peraturan tentang > dilarang merokok di tempat umum (bis,angkot dsb) apa > ada penerapannya??sangsinya?? itu baru peraturan > daerah. > > tapi jangan pesimis mabk, masih banyak pihak yang > peduli dengan difabel, semoga para pembuat kebijakan > yang jadi anggota FPK sadar tentang permasalahan > difabel. > > salam > adrian
