Oleh IOANES RAKHMAT
Dosen Kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/Bentara/3429797.htm
=============================
Temuan makam keluarga Yesus di Talpiot menuntut sebuah kacamata baru
memahami teks injil sehubungan dengan fakta historis tentang Yesus.
Makam keluarga Yesus di Talpiot, sebelah selatan Kota Lama Jerusalem,
digali dalam kurun 111 April 1980 oleh arkeolog Amos Kloner, Yosef
Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson di bawah pengawasan Otoritas
Kepurbakalaan Israel (OKI) . Di dalamnya ditemukan 10 osuarium (peti
tulang terbuat dari batu gamping) berusia tua dari kurun waktu pra-
tahun 70 Masehi, akhir Perang Yahudi I melawan Roma. Sejak penggalian
itu tidak ada penyelidikan lebih lanjut atas makam ini. Di dalam
sebuah film dokumenter BBC/CTVC yang berjudul The Body in Question
dan ditayangkan di Inggris pada Minggu Paskah 1996, muncul laporan
sangat singkat tentang makam ini. Karena terlalu singkat, laporan ini
berlalu begitu saja.
James D Tabor melalui bukunya yang terbit 2006, The Jesus Dynasty,
mengangkat kembali signifikansi makam Talpiot bagi studi tentang
Yesus. Discovery Channel pada 4 Maret 2007 di Amerika Serikat,
Kanada, Inggris, Israel, dan Eropa menayangkan sebuah film dokumenter
berjudul The Lost Tomb of Jesus dengan produser pelaksana James
Cameron. Tesis yang diajukan film ini: makam Talpiot adalah betul
makam keluarga Yesus dari Nazareth. Dalam waktu yang hampir bersamaan
(Februari 2007) Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino menerbitkan
buku The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the
Evidence That Could Change History. Tak pelak lagi kontroversi
sedunia atas temuan makam Talpiot pun bermunculan. Reaksi sangat
keras datang terutama dari kalangan Kristen konservatif evangelis.
Sebaliknya, sejumlah pakar lain, seperti John Dominic Crossan dan
James Charlesworth, mendukung penuh usaha-usaha penelitian terhadap
makam Talpiot. Crossan menandaskan temuan makam Talpiot itu
adalah "paku terakhir yang ditancapkan pada peti mati literalisme
biblis".
Perkembangan sekarang
Pada penggalian 1980 ditemukan 10 osuarium dari makam Talpiot. Namun,
sekarang ini, OKI hanya memiliki sembilan osuarium dari makam
Talpiot, satu osuarium dinyatakan telah hilang. Dari sembilan
osuarium ini, tiga osuarium di antaranya tidak memiliki inskripsi,
sedangkan enam lainnya memuat inskripsi: (1) "Yesus anak Yusuf"
(bahasa Aram), (2) "Maria" (Aram), (3) "Mariamene e Mara" ("Maria
sang Master"=Maria Magdalena) (Yunani), (4) "Yoses" (Aram),
(5) "Matius" (Aram), (6) "Yudas anak Yesus" (Aram). Keempat nama yang
pertama sudah dikenal sebagai nama-nama yang muncul dalam Alkitab
Perjanjian Baru, baik sebagai anggota-anggota keluarga Yesus (Markus
6:3) maupun sebagai seorang yang dekat dengannya (Maria Magdalena).
Nama "Matius" muncul dalam "silsilah Yesus" (Matius 1 dan Lukas 3)
dan juga dalam Markus 2:14 sebagai "anak dari Alfeus (Klofas)".
Alfeus atau Klofas, menurut James Tabor, adalah saudara dari Yusuf,
ayah legal Yesus. Jadi, "Matius" termasuk ke dalam kaum keluarga
Yesus. Hanya nama "Yudas anak Yesus" yang tidak muncul dalam
Perjanjian Baru.
Pada penggalian 1980 tulang-belulang dari dalam semua osuarium sudah
diserahkan kepada otoritas Yahudi Ortodoks setempat untuk dikuburkan
kembali. Pemeriksaan DNA tetap bisa dilakukan dengan memakai sisa-
sisa endapan organik dari human residue yang menempel pada permukaan-
permukaan dinding sebelah dalam atau mengendap di dasar osuarium.
Pada tahun 2005 Dr Carney Matheson dan timnya dari Laboratorium Paleo-
DNA Universitas Lakehead di Ontario telah memeriksa mitokondria DNA
terhadap human residue dari "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena".
Dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan
maternal antara "Yesus" dan "Maria Magdalena". Artinya, Maria
Magdalena dari makam Talpiot bukan ibu dari Yesus dan juga bukan
saudara kandung perempuannya. Bisa jadi, karena ditemukan dalam satu
makam keluarga, Maria Magdalena dalam makam Talpiot ini adalah orang
luar yang menjadi istri sah Yesus, dan bisa jadi juga "Yudas anak
Yesus" adalah anak Maria Magdalena juga.
Pada 21 Oktober 2002 di Washington DC, Hershel Shanks, editor kondang
dari Biblical Archaelogy Review, dan Discovery Channel mengumumkan
telah ditemukan sebuah osuarium yang berinskripsi Aramaik "Yakobus,
anak Yusuf, saudara dari Yesus". Osuarium Yakobus ini, yang dimiliki
Oded Golan (pedagang barang antik kelahiran Tel Aviv), segera
terkenal ke seluruh dunia. Osuarium ini, ketika sudah kembali ke
Israel sehabis dipamerkan antara lain di Royal Ontario Museum disita
oleh OKI, dan Oded Golan ditangkap dengan tuduhan telah memalsukan
inskripsi "saudara dari Yesus" pada osuarium itu berdasarkan hasil
tes isotop yang telah dilakuan Prof Yuval Goren, pakar geologi dari
Universitas Tel Aviv. Namun, pada Januari 2007, di ruang sidang
pengadilan Israel atas Oded Golan, Prof Goren menyatakan bahwa pada
sedikitnya dua huruf dari nama "Yeshua" (Yesus) pada inskripsi
Aramaik di osuarium Yakobus ini terdapat lapisan mineral patina yang
asli dan berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase "saudara
dari Yesus" pada osuarium Yakobus itu harus dinyatakan asli.
Sementara ini, Tabor dan Jacobovici berpendapat ada kemungkinan bahwa
satu osuarium yang telah hilang dari makam Talpiot itu adalah
osuarium Yakobus. Shimon Gibson sendiri berpendapat ada kemungkinan
bahwa osuarium Yakobus adalah osuarium ke-11 dari makam Talpiot yang
telah dicuri dari makam ini sebelum penggalian dilakukan pada 1980.
Ketika diukur kembali, didapati ukuran osuarium Yakobus ini sama
dengan ukuran osuarium yang telah hilang itu. Penelitian lapisan
mineral patina pada osuarium Yakobus yang telah dilakukan, yang
dibandingkan dengan patina-patina dari osuarium-osuarium lain dari
makam Talpiot dan dari makam-makam lain di sekitarnya yang dipilih
secara acak, menunjukkan kesamaan "sidik jari" mineral patina dari
osuarium Yakobus dengan "sidik jari" mineral patina dari osuarium-
osuarium lainnya dari makam Talpiot. Ini memastikan bahwa osuarium
Yakobus berasal dari makam Talpiot. Sisa-sisa tulang-belulang Yakobus
masih tersedia. Jika pengujian DNA diizinkan oleh OKI untuk dilakukan
pada human residue Yakobus (hingga kini OKI masih belum memberi
izin), dan jika terbukti bahwa DNA Yakobus match dengan DNA Yesus
(yang sudah diketahui), maka akan tidak terbantahkan lagi bahwa makam
keluarga di Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth,
Yesus yang punya saudara satu ayah, yang bernama Yakobus, sebagaimana
dicatat baik oleh tradisi Kristen (Galatia 1:19; Markus 6:3) maupun
oleh Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi.
Beberapa sanggahan
Sejak ekskavasi 1980, nama-nama pada osuarium-osuarium makam Talpiot
dipandang oleh sejumlah arkeolog Israel sebagai nama-nama yang umum
dipakai di Jerusalem pra-tahun 70. Sifatnya sebagai nama-nama umum
inilah yang telah lama dijadikan alasan oleh banyak pakar Kristen
menyanggah pendapat bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus
dari Nazareth. Namun, Jacobovici, Pellegrino, dan James D Tabor
berpendapat bahwa terkumpulnya nama-nama anggota keluarga Yesus dalam
makam Talpiot sebagai satu cluster adalah suatu kejadian yang unik,
yang belum pernah ditemukan sebelumnya di dalam suatu situs galian
arkeologis yang terlokasi dan terkontrol. Pandangan mereka ini
didukung oleh kajian statistik yang memanfaatkan teori probabilitas
dan yang juga memperhitungkan baik demografi kota Jerusalem pra-tahun
70 (berpenduduk antara 25.000 dan 75.000) maupun data nama-nama yang
telah dicatat yang berasal dari semua makam yang telah ditemukan di
kawasan-kawasan perbukitan kota Jerusalem. Menurut pakar statistik
dari Universitas Toronto, Prof Andrey Feuerverger, kemunculan cluster
atau kumpulan keempat nama saja yang berkaitan dengan Yesus ("Yesus
anak Yusuf", "Maria", "Maria Magdalena", dan "Yoses") dalam satu
makam, dalam konteks kota Jerusalem pada periode Bait Allah Kedua
akhir, adalah suatu kejadian yang unik dengan peluang 1:600. Artinya,
dari 600 kasus, hanya akan ada satu kemungkinan kasus seperti kasus
makam Talpiot. Jika osuarium Yakobus dimasukkan ke dalam makam
Talpiot, maka, menurut Feuerverger, peluangnya berubah menjadi
1:30.000. Artinya, dari 30.000 kasus, hanya akan ada satu peluang
kasus yang seperti kasus makam Talpiot.
Sanggahan lainnya adalah tidak mungkin makam Talpiot makam keluarga
Yesus sebab di dalam Perjanjian Baru tidak ada satu pun petunjuk yang
menyatakan bahwa Yesus mempunyai anak. Ini adalah sebuah argumentum e
silentio yang keliru. Perjanjian Baru tidak menyebut, sebagai contoh,
nama-nama Philo, Rabbi Hillel, Flavius Yosefus, Hanina ben Dosa,
Apollonius dari Tyana. Namun, semua orang ini adalah orang-orang yang
nyata hidup dalam dunia ketika kekristenan baru lahir. Selain itu,
harus juga dipertimbangkan adanya rujukan-rujukan kepada "murid yang
dikasihi" dalam Injil Yohanes yang digambarkan "bersandar pada Yesus
di sebelah kanan-Nya" pada waktu perjamuan malam (Yohanes 13:23); dan
juga rujukan dalam Injil Markus kepada "seorang muda" yang
berlari "dengan telanjang" ketika Yesus ditangkap (Markus 14:51-52)
apakah tidak mungkin, bahwa rujukan-rujukan tersamar ini sebetulnya
mengacu kepada anak Yesus, berusia belasan tahun, yang identitas
sebenarnya harus dirahasiakan mengingat Roma baru saja menumpas
sebuah gerakan messianik dengan menyalibkan sang pemimpinnya, Yesus
dari Nazareth, yang mengklaim diri "Raja orang Yahudi"?
Sanggahan berikutnya adalah bahwa karena keluarga Yesus dari Nazareth
adalah keluarga miskin yang tinggal di Galilea, maka mustahil mereka
bisa memiliki sebuah makam keluarga di kota Jerusalem; kalaupun
keluarga Yesus mampu membeli sebuah makam keluarga, makam ini
pastilah sederhana dan berlokasi di Nazareth, bukan di Jerusalem.
Dibandingkan dengan makam-makam lain di kawasan dekat Jerusalem,
makam Talpiot itu bersahaja dan sempit, dengan ukuran 3 x 3 meter dan
dengan tinggi kurang dari 2 meter. Makam semacam ini dapat disediakan
oleh para pengikut perdana Yesus. Sepeninggal Yesus, mereka
memusatkan pergerakan messianik mereka di Jerusalem dengan dipimpin
oleh Yakobus (wafat tahun 62), saudara Yesus, yang semasa Yesus masih
hidup telah menetap di Jerusalem. Di Betania, tidak jauh dari
Jerusalem, berdiam para pengikut setia Yesus, seperti Maria, Marta,
dan Lazarus yang dapat menyediakan sebuah makam keluarga.
Pada situs-situs galian arkeologis di sekitar Bukit Zaitun (dilakukan
oleh arkeolog-arkeolog Mancini, Bagatti dan Milik, serta Sukenik dan
Avigad) yang tidak jauh dari Kota Lama Jerusalem, khususnya pada
situs suci Kristen Dominus Flevit ("Tuhan menangis"), telah ditemukan
banyak osuarium yang berinskripsi nama-nama Yahudi-Kristen (Jack
Finegan, Archaelogy of the New Testament, 359-374). Nama-nama ini
adalah nama-nama para murid perdana Yesus yang tetap melanjutkan
gerakan messianik yang dipusatkan di Jerusalem sebelum kota ini
dihancurkan pada tahun 70 M oleh Roma.
Dalam Markus 6:29 dikatakan bahwa ketika murid-murid Yohanes
Pembaptis mendengar sang guru mereka sudah dibunuh oleh Herodes
Antipas, mereka segera datang mengambil mayatnya lalu meletakkannya
dalam sebuah kubur. Hal yang serupa terjadi juga pada mayat Yesus.
Yusuf orang Arimatea, seorang "yang telah menjadi murid Yesus juga"
(Matius 27:57) memberikan sebuah makam miliknya sendiri "yang digali
di dalam bukit batu" untuk penguburan sementara mayat Yesus (karena
hari Sabat sebentar lagi tiba!) (Markus 15:42-47). Dari kubur ini
kaum keluarga Yesus kemudian memindahkan mayat Yesus ke makam yang
permanen yang disediakan para pengikut pergerakan messianik Yesus
yang kini berpusat di Jerusalem. Telah dipindahkannya mayat Yesus ke
kubur lain inilah yang menyebabkan kubur pertama itu kosong. Ketika
waktunya telah tiba (satu tahun kemudian), tulang-belulang Yesus
dimasukkan ke dalam osuarium.
Sanggahan lainnya bercorak apologetis teologis, bukan historis,
datang dari kalangan Kristen evangelis. Bagi kalangan ini, di bumi
ini tidak mungkin ada sisa-sisa jasad Yesus sebab Yesus sudah bangkit
dengan raganya dan sudah naik ke surga juga dengan keseluruhan
raganya (daging, tulang, organ-organ dalam, dan semua lainnya).
Teologi mereka pakai untuk menghambat penyelidikan interdisipliner
terhadap makam Talpiot dan osuarium-osuarium yang terdapat di
dalamnya. Kalangan inilah, dengan literalisme biblis mereka, yang
sama sekali tidak mau diperhatikan oleh para pakar peneliti makam
Talpiot.
Penutup
Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan
dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-
kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis
Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora;
jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi
memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan
delusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman
subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi
bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing
oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah
diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani
surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus
lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan
adalah "tubuh rohani", bukan tubuh jasmani protoplasmik.