Saya sependapat dengan sebagian isi tulisan F Budi Hardiman, mis. 
kalimat

> Persoalan sesungguhnya tidak terletak pada klaim
> kemutlakan kebenaran iman itu sendiri (yang memang
> wajar dimiliki setiap orang beriman sebagai orientasi
> nilainya), melainkan penggunaan klaim iman itu 
> dalam ruang publik. 

Jadi saya hanya mengomentari di bagian2 mana saya tak sependapat.

--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Oleh F Budi Hardiman 
> Pengajar di STF Driyarkara, Jakarta
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/Bentara/3426501.htm
> ============================
 
> Jika diartikan secara sangat longgar, sekularisasi
> sudah terjadi pada abad ke-5 SM, yakni dalam 
> filsafat Yunani, ketika pemikiran argumentatif
> melepaskan diri dari narasi mitis. Sekularisasi adalah 
> demitologisasi. 

L: Di sini ada kontradiksi kalimat "Jika (sekularisasi) diartikan 
secara sangat longgar ..." dengan kalimat berikut yang memberi arti 
sempit thd kata 'sekularisasi': "Sekularisasi adalah 
demitologisasi". 

IMO, arti 'sekularisasi' pada saat ini mestinya merujuk pada PRAKTEK 
NYATA dan PRAKTEK PALING LUAS sekularisasi, misalnya praktek sistem 
sekuler di negara2 AS, Jepang, Jerman, dsb, yang secara eksplisit 
dilindungi dan didukung oleh konstitusi negara2 tsb.

> Dua macam jebakan 
> 
> Absolutisme agama bukanlah satu-satunya patologi.
> Jika mau menimbang kembali pemisahan agama dan
> politik itu, kita harus berhadapan dengan 
> sebuah pengalaman negatif lain: patologi 
> sekularisasi. Di sini terjadi semacam "dialektika
> sekularisasi": pemisahan agama dan negara yang 
> membawa pada sukses emansipasi dari absolutisme 
> agama itu mengambil konsekuensi radikalnya dalam
> bentuk sekularisme, yaitu doktrin yang sama sekali
> menolak dan dengan sengit menyingkirkan segala 
> iman religius dan alasan religius dalam kehidupan
> bersama secara politis. Agama dianggap irrasional,
> maka tidak berhak bersuara dalam ruang publik.

L: Di bagian ini, penulis berasumsi bahwa dalam sistem sekuler, 
agama tidak berhak bersuara, suatu asumsi yang sama sekali tidak 
saya setujui. 

Dalam negara dg sistem sekuler yang saya alami, agama tetap bisa 
berkembang dan bersuara. Wong bikin iklan dan bikin leaflet agama 
untuk disebarkan, pidato di mimbar bebas kampus, jalan rame2 dengan 
simbol2 agama mereka, tidak dilarang kok (spt yang saya lihat 
sendiri di AS, waktu itu yang saya lihat paling aktif adalah para 
penganut kepercayaan Khrisna. 

Di satu negara Uni Eropa, apartemen saya kadang-kadang masih di 
ketok oleh aktifis dg simbol2 agama Kristen/ Katolik walaupun 
kegiatan mereka bersifat kemanusiaan, bukan kegiatan keagamaan). 

> Di sini sekularisasi yang ingin membangun ruang publik yang pro-
> pluralisme dalam sekularisme malah berbalik menjadi intoleransi 
> terhadap alasan-alasan religius. 

L: Seperti uraian penulis sendiri (F Budi Hardiman), prilaku yang 
ditentang oleh penganut sekuler untuk dilakukan oleh umat suatu 
agama di ruang publik adalah klaim mutlak2-an, khususnya jika klaim 
ini dipakai sebagai DASAR PEMBENARAN untuk suatu prilaku negatif. 
Intinya, tak ada patologi sekularisme yang mutlak anti suara agama 
di ruang publik. Sebab di ruang publik, setiap 'kebenaran' religi 
bersifat relatif, yaitu 'kebenaran (mutlak)' versi/ sekte satu agama 
belum tentu menjadi 'kebenaran (mutlak)' ajaran agama yang lain atau 
versi/ sekte yang lain (walaupun masih satu agama yg sama).

> Negara liberal sekular ingin mempertahankan
> netralitasnya di hadapan berbagai orientasi 
> nilai yang majemuk dalam masyarakat, tetapi 
> ini dilakukan sering dengan ongkos memblokade
> alasan-alasan religius sebagai privat dan 
> mengancam kepentingan keseluruhan.

L: Yang saya lihat dalam praktek, tidak ada blokade (spt contoh2 
saya di atas). Sekulerisasi hanya memberi argumentasi bahwa 
keyakinan religi bersifat privat/ individual sebab keyakinan ini tak 
selalu bisa dipaksakan dan di-'shared' individu yg lain.

> Bahkan, asas netralitas dan fairness yang 
> mendasari praktik birokrasi modern 
> pun memperoleh tenaganya dari agama. 

L: Saya kira ini hanya opini penulis yang bisa disetujui atau tak 
disetujui.

> Sekularisme berciri patologis tak hanya karena
> ia tak mampu menerima alasan-alasan religius (UNTUK APA?)

L: Kalimat yang tak lengkap sebab tak memberi rincian UNTUK APA 
alasan2 religius tsb diberikan. Kalau diberikan untuk pembenaran 
prilaku negatif, no way. Tetapi kalau untuk pembenaran prilaku 
positif spt yang dilakukan mother Theresa di India, bagus sekali 
dong. 

> sebagai bagian yang wajar dalam demokrasi,
> melainkan juga ia ingin menyingkirkan 
> religiositas itu sendiri. 

L: Saya yakin penganut sekuler sejati tak berniat menyingkirkan 
religiositas, tetapi mungkin berniat menyingkirkan PEMBENARAN 
ABSOLUT lewat argumentasi2 irasional (termasuk lewat dogma dsb) di 
ruang publik thd prilaku2 negatif atas nama agama (mis. prilaku 
melanggar hukum atas nama agama).

> manusia pun bermain sebagai Allah dalam sains
> dan teknologinya untuk merakit manusia atau 
> menghancurkannya lewat mesin perang. 

L: Apakah yang dimaksud 'merakit manusia' adalah 'cloning'? Saya kok 
tak melihat pun indikasi niat para saintis periset 'cloning' untuk 
berperan sebagai Tuhan. Mungkin 100 atau 1000 tahun lagi mereka bisa 
mampu meng-'cloning' manusia, tetapi saya yakin mereka cuma mampu 
meng'cloning' jasmani (fisik/ tubuh) manusia. Wajar kok bisa 
mengkloning tubuh fisik, bahkan masih wajar kalau bisa menentukan 
warna mata, warna kulit, dsb dari tubuh kloningan ini sebab membuat 
tubuh fisik ini memang bagian dari ilmu pengetahuan. 

Tetapi saya yakin para periset kloning tak akan mampu membentuk 
karakter dan pola pikir (penyayang, pemarah, dsb) manusia yang 
berhasil dikloningnya. Singkatnya dan simpelnya, teknologi kloning 
sampai kapan pun tak akan mampu menciptakan nyawa, roh atau jiwa 
(whatever).

> Manusia yang bermain sebagai Allah ini pun 
> segera menghancurkan kemajemukan dan kemanusiaan
> itu sendiri. 

L: Saya kira diskusi kloning dan penghancuran manusia tak ada kaitan 
yang erat dengan topik sekulerisasi atau topik artikel ini (mungkin 
ada, tetapi kaitannya tak erat).

Salam

Kirim email ke