Bung Loekyh, memang topik ini menarik untuk tidak saja didiskusikan namun sudah 
selayaknya ditindak lanjuti secara nyata dan terukur.  Apa yg dikemukakan Bung 
Loekyh memang benar adanya.
   
  Perguruan Tingginya terlalu getol cari dana, sayangnya yg terkena lebih dulu 
adalah calon mahasiswa dan orang tuanya, kemudian juga tenaga2 pengajarnya yg 
sering dipelesetkan jadi Dosen Luar Biasa menjadi Dosen Biasa 
Diluar....akibatnya mahasiswa sulit untuk berkonsultasi, kalau pun ada yg 
menyediakan waktunya kebanyakan dosen juga tidak punya ruang khusus untuk 
dirinya...apalagi guru di sekolah....
   
  Sebenarnya bisa saja banyak sumber dana untuk melakukan penelitian baik untuk 
perguruan tinggi maupun lembaga2 penelitian.  Namun ada beberapa kendala yg 
saya lihat, atau pernah saya alami.  Antara lain soal keuangan agak susah 
akuntabilitasnya.  Kemudian pembuatan laporan yg cenderung bertele-tele, sering 
terpotong oleh upacara atau ada acara seremonial dan semacamnya, kalau ini 
terjadi pekerjaan seolah-olah sah-sah saja ditinggalkan.
   
  Padahal terkadang ada fasilitas2 atau laboratorium beserta staff2nya yg cukup 
canggih, namun dengan pola yg ada saat ini lebih banyak nganggurnya.  Sampai2 
pernah ada tamu saya dari dua benua yg berbeda geleng2 kepala, melihat 
fasilitas2 ini yg setidaknya lebih baik dari yg dimiliki negaranya, namun 
disini "idle".
   
  Kalau saja penelitian2 itu bersangkut paut dengan dunia nyata, dan 
penggunanya merasakan banyak manfaatnya dengan bersinergi dgn perguruan tinggi 
dan lembaga2 penelitian, dana dengan sendirinya mengalir kesana dan 
menggairahkan Kampus2 yg memiliki "Research Park" dan tentunya dosen2nya dan 
peneliti2nya juga bergairah "tinggal" dikampus, bukan ke "hotel" berseminar 
ria....
   
  Salam
  Kukuh Kumara

loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Kukuh Kumara dan bung Haniwar,

Topik ini sangat bagus untuk didiskusikan oleh pihak2 yang prihatin 
dengan ketakberdayaan lembaga2 riset dan perguruan tinggi. Berikut 
komentar2 saya.

> Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Di Kompas hari ini,hal 22 ada berita yang 
> menggembirakan saya, yaitu naiknya ketinggian air
> di 2 waduk di Jateng karena keberhasilan hujan 
> buatan... Selamat.... sebuah karya penerapan 
> teknologi yang berhasil...

L: Keberhasilan yang menggembirakan, tetapi teknologi ini rasanya 
bukan teknologi baru. Lagi pula, di tempat saya masih musim hujan :-
), malah saya dengar di beberapa daerah s.d. 2 minggu lalu masih 
banjir.

> Yang agak membuat aku berkerut kening berita lain 
> ttg " kelangsungan industri dan riset belum 
> berkesinambungan " di hal 13, dikatakan oleh kepala LIPI :

> Kalangan industri jika menemui kendala tidak pernah
> datang ke lembaga riset ., maupun perguruan tinggi..
> masih ada kendala utk menjaga hubungan industri dan
> lembaga riset..

(deleted)

> Siapapun yang membaca berita seperti ini.. langsung terkesan bahwa 
bagi 
> ketua LIPI... yang bersalah adalah pengusaha...dan pihak peneliti 
sudha 
> sukses berhasil... pendeknya sudah jago lah..
> 
> Padahal; apa artinya hasil penelitian yg paling hebat sekalipun 
jika 
> kemudian tidak diterapkan didunia nyata .. apapun alasannyab ?????
> Cuma buang duit pemerintah !!!!!,, buang duit rakyat... pemerintah 
itu 
> nggak punya duit sendiri..

L: Setuju. Walaupun pernyataan ketua LIPI banyak benarnya, tetapi 
salah satu (bukan satu2-nya) penyebabnya adalah KETIDAKmandirian 
lembaga2 riset dan perguruan2 tinggi negeri itu sendiri selama ini 
yang sudah terbiasa menadahkan tangan minta bantuan dana dari 
pemerintah bak prilaku pengemis2 di jalanan. 

Untunglah ada konsep 'swastanisasi' PTN2 unggulan akan memaksa PTN2 
unggulan menjadi mandiri. Tetapi mbok ya kemandirian di sektor dana/ 
finansial diwujudkan dalam bentuk mencari kemitraan dengan industri 
atau dengan pihak2 luar, BUKAN dengan main hantam kromo SPP 
mahasiswa2 (khususnya mahasiswa2) baru setinggi mungkin.

Komentar terakhir ini sangat serius sebab sekarang banyak PTN yang 
merasa 'unggulan' pun berbondong-bondong secara resmi minta 
di 'swasta'kan dengan harapan akan dibolehkan oleh pemerintah 
melakukan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus (yang khusus 
adalah besar dana sumbangan calon mahasiswa). Padahal mereka menjadi 
unggulan karena beruntung mendapat banyak order proyek2 pemerintah 
(order proyek Pekerti, dsb).

Prilaku 'kutu loncat' beberapa profesor satu PTN menjadi anggota DPR 
atau berprofesi lain tanpa mau secara sukarela melepaskan ke 
profesorannya pun merupakan salah satu penyebab hilangnya 
kemandirian PTN2. Sebab orang2 kita yang berpola pikir pengkultus-
individuan selalu memberi porsi besar 'prestasi' satu PTN pada 
individu2 tertentu di PTN tersebut, bukan pada hasil2 penelitian 
yang dihasilkan kampus tersebut.

Padahal banyak individu2 yang bisa memiliki nama besar karena 
karbitan proyek2 pemerintah yang dipimpinnya dan yang didapatnya 
lewat jabatan strukturalnya di PTN tsb, bukan lewat prestasi 
akademiknya). Jadi begitu si individu keluar, ia memanfaatkan nama 
besarnya dan keguruan besarnya demi ambisi atau keuntungan pribadi, 
padahal ia bukan lagi seorang guru (besar).

Pertanyaan untuk ketua LIPI, program apa yang dicanangkan bapak 
Ketua LIPI agar LIPI kelak bisa mandiri? Wong 'cap' profesor riset 
pun (yang banyak ditentang kalangan PTN) tidak malu2 diterima oleh 
para periset di LIPI.

> Paling sedikit , teman saya yang UKM sudah dua kali
> menghubungi lembaga penelitian pemerintah... utk ajak
> kerjasama dalam menerpakan suatu hasil dr lembaga itu
> .. dan keduanya meminta biaya .. yang tak tertanggungkan bagi 
> si UKM , apalagi dibanding hasil yang selalu tidak pasti...

L: Saya pernah berusaha membantu seorang pengajar satu universitas 
di Cina yang mencari satu patner universitas di Indonesia untuk 
kerjasama (bersama 2 universitas lain, salah satunya Cambridge 
University) dalam bidang teknik sipil. Saya gagal karena semua orang 
Indonesia yang telah melakukan kontak dg pengajar Cina tsb selalu 
bertanya "Berapa nanti saya dapat dari proyek ini" untuk memutuskan 
mau atau tak maunya orang Indo tsb ikut berpatner. 

Padahal saya berjanji untuk memberi tahu pak Menristek tentang 
rencana proyek (yang terkait program rehabilitasi daerah yang 
terkena Tsunami), ttp pengajar tsb sudah patah arang duluan. Ia 
memilih bekerja sama dg universitas negara lain yang juga terkena 
dampak Tsunami. Saya tak ngotot karena saya sendiri jarang ketemu 
dengan dia (saya lebih sering ketemu istrinya yang mengambil program 
2 bulan saja di ruang kantor persis sebelah kantor saya).

Salam



         

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke