Kalau untuk jadi Presiden saja tidak perlu sarjana, lalu kenapa untuk jadi 
Camat & Lurah harus sekolah "khusus".  Khusus jotosannya....mudah2an tempat 
saya tinggal Lurah atau Camatnya bukan lulusan dari STPDN atau IPDN....
   
  Dengan kata lain untuk jadi Lurah dan Camat bisa dari lulusan mana 
sajalah...saya betul2 miris, prihatin melihat tayangan ulang yg saya sempat 
saksikan beberapa tahun yg lalu manakala ada mahasiswa STPDN yg tewas akibat 
penganiayaan oleh sesama siswa STPDN.  Tadi sore rekaman itu diulang lagi dan 
korban jatuh lagi.
   
  Ironis sekali siswa meninggal/tewas disebuah lembaga pendidikan karena ulah 
sesama siswa, jajaran pimpinan STPDN jelas gagal menghentikan mata rantai 
kekerasan di lembaga tersebut, dengan kata lain mata rantai kekerasan bisa saja 
akan merambah ke masyarakat melalui lulusan2 STPDN manakala mereka bekerja dan 
memperoleh kewenangan dan kekuasaan.  Bagaimana saya bisa menepis kekhawatiran 
saya, karena setidaknya empat tahun siswa2 itu dididik dengan pola kekerasan 
tanpa dasar/nalar sama sekali.
   
  Seperti yg disampaikan oleh Ryas Rashid disalah satu TV tadi sore,  yg 
mengatakan kira2 inti pernyataannya sbb: saat mereka masuk ke STPDN dan telah 
melalui berbagai tes, tentunya mereka adalah siswa yg baik yg memenuhi 
persyaratan, lalu setelah didalam STPDN mereka menjadi "brutal"...Oleh karena 
itu bisakah kita berharap para lulusan itu menjadi Pamong2 yg baik bagi 
masyarakatnya???
   
  Mudah2an ada yg bisa memberikan penjelasan
   
  Salam masih dan semakin prihatin
  Kukuh Kumara
  

TRIYATNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Aduh, melihat arogansi salah satu dosen senior mengusir dosen yang 
mengungkap "aib" dari kelas, memang menunjukkan ketak beradaban di IPDN memang 
didesain seperti oleh oleh pengelolanya.

wass,
Triyatni
----- Original Message ----- 
From: gedehc 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, April 04, 2007 9:51 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] IPDN atawa "IPDN?"

Kemarin saya ke Sumedang. Tepat di jalan depan kampus IPDN, rekan saya
nyeletuk. Katanya," IPDN itu kan Institut Perguruan Djotos Nasional". 

Mendengarnya, saya menghela napas. Memang, sudah berkali-kali kejadian
buruk menimpa kampus pencetak (kayak buku aja, ya) calon pegawai
negeri itu. Dulu, denger-denger, mereka menjadi camat. Lalu
akhir-akhir ini kudengar mereka menjadi lurah. 

Turun pangkatkah? Entahlah... Yang pasti kalau ke lurah pastilah
turun, tak mungkin naik. Kecuali kalau sudah berada di dasar lurah,
kalau mau ke atas, tentu saja harus naik tebingnya. 

Gede H. Cahyana

. 


[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40?  Find a flick in no time
 with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke