Kalau dulu, guru saya pernah memberi wejangan, "sabegja-begjane wong urip, isih 
luwih begja wong sing eling lan waspodho," (seuntung-untungnya manusia, lebih 
beruntung yang "sadar" dan waspada). 
  "Sadar" disini berarti kita mampu menahan diri dari godaan-godaan harta, 
tahta yang bisa membuat "insane" tadi.
  Ada buku bagus, judulnya Emotional Dicipline karya Charles C. Manz (Gramedia, 
2007) yang mungkin bisa dijadikan referensi supaya kita tetap "sane".
   
  Salam.

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/07/utama/3400439.htm
===========================

Harian The Washington Post memuat kartun bergambar seorang serdadu 
Angkatan Laut Iran di atas sampan. Ada garis pembatas yang memisahkan 
perairan Iran yang ditulisi "insane" (edan) dan perairan 
internasional yang "sane" (waras). 

Karikatur itu menyindir penyanderaan 15 serdadu Inggris oleh Iran, 23 
Maret lalu. Teheran menuduh mereka melanggar perairannya, London 
mengatakan tidak. 

Apa pun yang dilakukan Teheran, menangkapi penyusup atau 
mengembangkan teknologi nuklir, itu insane. Apa pun yang dilakukan 
Presiden Amerika Serikat George W Bush atau Perdana Menteri Inggris 
Tony Blair, menyerbu Irak atau menyiksa tawanan di Guantanamo, pasti 
sane. 

Barat manusia bebas, orang- orang di Timur Tengah/Teluk Persia 
golongan subhuman. Makanya, mereka perlu diajari demokrasi, hak asasi 
manusia, pemilu, dan keberagaman. 

Pemerintah Australia melarang perburuan kanguru, rakyat Aborigin 
harus tunggu keputusan pengadilan agar tanahnya jangan diobrak-abrik. 
Pemerintah Inggris tak mau kembalikan permata curian Koh-i-noor dari 
Pakistan yang jadi kebanggaan Ratu Elizabeth. 

Namun, Barat tak pernah merasa malu mengakui mereka sedang sakit. 
Mereka akan bilang, "We are living in an insane society." 

Saduran bebas insane ke bahasa Indonesia bisa berarti mad 
(pemberang), psychotic (gangguan batin), neurotic (emosional), atau 
out of one's mind (mudah kalap), maniacal (maniak), silly (pandir), 
stupid (dungu), absurd (menggelikan), nonsense (omong kosong), 
senseless (tak masuk akal), dan ridiculous (aneh). 

Masyarakat kita bisa jadi kurang jujur untuk mengakui kondisinya 
sedang edan. Padahal, setiap simtom the insane society makin hari 
makin sering tampak dari Sabang sampai Merauke. 

Pemberang. Banyak pejabat bertelinga tipis, padahal hidup tanpa 
kritik ibarat sayur tanpa garam. 

Masyarakat suka run amok. Mereka lari kencang dengan golok terhunus 
menumpahkan amuk di jalan, gedung pengadilan, kampung, dan 
sebagainya. 

Gangguan batin. Ada pejabat lelaki yang wajahnya ditaburi bedak, ada 
yang merasa mampu memimpin meski berkali-kali gagal, ada komedian 
jadi politisi, dan ada pula politisi yang mirip komedian. 

Banyak penderita gangguan batin akibat tekanan ekonomi. Masya Allah! 

Anda ingat Supriono yang membawa jenazah anaknya dengan gerobak 
karena tak punya uang untuk menguburkannya. Anda ingat beberapa murid 
SD yang mencoba bunuh diri karena malu tak bisa bayar uang sekolah. 

Emosional. Kalau di Barat berkembang ilmu emotional intelligence, di 
sini ada pejabat yang inteligensianya diragukan dan suka emosional. 

Mudah kalap. Pejabat kita mudah kalap jika berurusan dengan korupsi, 
antara lain menyembunyikan ribuan lembaran seratus ribu di ember-
ember kamar mandi sampai basah. 

Kita mudah kalap, apalagi kalau lagi berkendara. Lampu lalu lintas 
warna kuning tanda harus stop malah dipakai untuk menyerobot. 

Maniak. Pejabat dan politisi kita maniak pergi ke luar negeri untuk 
kunjungan resmi, liburan, maupun kabur membawa hasil korupsi. 

Masyarakat menderita "maniak musiman". Tiba-tiba suka sop kaki asal 
mereknya "Pak Kumis", gemar menghancurkan kereta api kalau tim sepak 
bolanya kalah, dan suka meneruskan kalimat Tukul Arwana "kembali ke 
lap... toooppp" dengan serentak. 

Pandir. Bagaimana tidak pandir kalau telanjur mengumumkan, "Kita 
menemukan bangkai pesawat AdamAir di sana!" 

Pandirlah mereka yang yakin hakulyakin calon presiden minimal 
bergelar S-1. Sama pandirnya dengan Dephub yang mengeluarkan 
peringkat maskapai penerbangan—aturan yang diterapkan oleh satu-
satunya negara di dunia ini: itulah Indonesia! 

Dungu. Saya seperti orang dungu menyaksikan dua menteri memainkan 
1.001 jurus untuk menghalalkan pemakaian rekening bank milik 
departemen untuk "menampung" uang Tommy Soeharto. 

Masyarakat dungu karena tiap hari tak mau antre, melanggar aturan, 
lebih taat pada jampi- jampi ketimbang marka-marka jalan, dan lebih 
takut setan ketimbang rampok. "Insanity is doing the same thing over 
and over again and expecting different results." 

Menggelikan. Kalau ada pejabat yang mau diperiksa, ia pura-pura sakit 
atau—supaya tak jatuh gengsi—memberikan kuliah di ruang tahanan. 

Omong kosong. Wah, kalau dalam soal ini, politisi Indonesia sejak 
dulu sudah legendaris. Hebatnya lagi, masyarakat termakan sampai 
kenyang dan melepéh presiden pilihannya sendiri. 

Tak masuk akal. Coba, bagaimana bisa kita menjadi negara terkaya dan 
tersejahtera di dunia tahun 2030 kalau yang membuat visi adalah 
mereka yang belum mengembalikan dana BLBI? 

Jika pejabatnya begitu, tak heran kita gemar hal-hal yang mustahil, 
seperti menjadi kaya lewat korupsi, menjadi sarjana berijazah palsu, 
atau mengusir Presiden Bush dengan jampi-jampi. 

Simtom terakhir, aneh. Waktu Orde Baru, KKN pejabat dan pengusaha 
dilakukan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja, di zaman Reformasi 
mereka mengangkut mejanya sekalian. 

KKN model sekarang si pejabat malah makan di satu meja bersama sang 
pengusaha. "Insanity is the only sane reaction to an insane society." 



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke