Salam,
>Kita jadi manusia yang gampang menuduh dengan udel kita, tanpa berpikir dengan
>otak.
Ini bukan sinis bung, ini kenyataan! meskipun tidak semua sekolah militer yang
menjadi keras dan babak belur. Saya sepakat dengan Taruna Nusantara karena saya
juga punya sepupu yang mantan Taruna Nusantara, dan ia baik-baik saja bahkan
berprestasi.
Cuma yang dalam tulisan sebelum ini saya menyayangkan tindakan yang terus
menerus, waktu mencatat, yang dilakukan oleh STPDN dulu dan IPTDN sekarang
adalah tindakan yang luar biasa kerasnya. Saya sulit membayangkan apa yang
terjadi kelak, saat mereka menjadi pegawai di lembaga pemerintahan yang
melayani masyarakat.
>Kalau dibandingkan dengan SMU negeri atau swasta yang kata data nih penuh
>dengan penyalah guna an obat terlarang, gimana tuh????? Pakaian anak SMU yang
>pamer udel, rambut ala dragon ball.
Itulah kelemahan Indonesia. Seharusnya sekolah umum menerapkan disiplin ala
militer, hanya disiplinnya saja, yang lainnya, termasuk pukul-pukulan, tidak
boleh diterapkan. Sekolah umum, hampir sebagian besar bebas. Kebebasan sekolah
ini banyak dipengaruhi faktor lain. Tapi saya tidak mau melebar yang terlalu
panjang untuk membahas sekolah umum. Kalau berkenan kita ganti topik, sebisa
mungkin saya akan saya jelaskan faktor demi faktor.
Salam Pembebasan
Steven
ajud ajudri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam
Bung Steven dan Bung Manneke.
Rasanya kita tidak bijaksana kalau menyamakan tindakan yg di lakukan
Mahasiswa IPDN seperti pada tayangan media TV saat ini sebagai tindakan
pendidikan militer (Kenapa juga kita selalu bersikap sinis sama militer kita).
Saya punya ponakan yang sekolah di SMU Taruna Nusantara yang sangat kental
dengan aturan militer karena yayasannya kan milik tentara. Dan saya bersyukur
sekali, dia menjadi pemuda yang disiplin, pintar dan santun. Badan atau
fisiknya juga bertumbuh dengan baik, kesehatannya ok. Rambutnya selalu rapi,
dan pakaiannya selalu saja licin.
Kalau dibandingkan dengan SMU negeri atau swasta yang kata data nih penuh
dengan penyalah guna an obat terlarang, gimana tuh????? Pakaian anak SMU yang
pamer udel, rambut ala dragon ball.
Kita jadi manusia yang gampang menuduh dengan udel kita, tanpa berpikir
dengan otak.
Salam hormat Bung Steven dan Manneke
steven lenakoly <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Ada beberapa pesan yang saya tangkap di balik peristiwa IPTDN. Yang pertama,
perasaan seniori masih menjadi pahlawan dan selalu sok menjadi pahlawan. Ini
hampir sama dengan iklan rokok yang mengatakan, kurang lebih, Yang Muda Yang
Tidak Dipercaya. Senior merasa mempunyai hutang dari perbuatan yang dilakukan
oleh kakak kelas mereka. Jadi seperti istilah yang tua yang berjaya. Yang tua
menganggap yang muda atau junior tidak memiki kemampuan apa-apa atau masih bau
kencur sehingga mempermainkan juniornya sewenang-wenang.
Kedua, gambaran pemukulan adalah cermin bahwa gaya militer telah mendarah
daging sampai disekolah. Hal ini tidak dapat diatasi dengan melakukan merger
sekolah atau perubahan status sekolah. Karena yang berperan adalah pesan
turun-temurun. Aku dapat dari seniorku maka aku harus meneruskan dan membuat
hal yang sama dalam juniorku, itulah kira-kira pandangan mereka.
Ketiga, ada bayangan kesewenang-wenangan pemerintah dalam melayani
masyarakat. Mereka, yang sekolah di IPDN, adalah cambah dari pelaksana
pemerintah di tingkat Kecamatan. Saat pendidikan saja mereka telah merasa
bisa. Kesombongan akan, sadar atau tidak sadar, terbawa saat nanti melayani
masyarakat. Masyarakat yang tidak dikenalnya dengan baik maka tidak akan
dikasihani. Budaya ini adalah budaya kerja yang buruk. Bagaimana bisa maju
wong orang-orangnya kayak gini....
Salam Kiri,
Steven Lenakoly
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
[Non-text portions of this message have been removed]