Bung Ajud Ajudri,
   
  Para taruna IPDN dan STPDN itu semuanya juga berpakaian necis, berpotongan 
rapi, dan berbadan sehat. Tapi, kelakuan tidak dinilai dari penampilan, Bung. 
   
  Tentara kita juga kalo disuruh baris, gagahnya bukan main dan tampak punya 
disiplin yang prima. Juga dalam soal lantang-lantangan teriak, "Siap!", 
"Hormat, grak!", "Maju, jalan!" dll. Tapi kok di mana-mana kerjanya menggebuki 
rakyat yang mestinya dilindungi sih?
   
  Entah kebetulan atau bukan, para siswa IPDN/STPDN ini, yang konon adalah 
calon-calon abdi rakyat, kok demennya menggebukin juniornya sendiri? Sykurlah 
kalo SMU Taruna Nusantara, atau keponakan Anda, tak ikut-ikutan bersikap 
seperti itu. Saya tak pernah mengharapkan SMU Taruna Nusantara akan bernasib 
seperti IPDN, karena kalo itu terjadi, ya tragislah nasib orang-orang muda 
kita. Jadi, semoga kelak jangan sampa ada berita sejenis tentang SMU Taruna 
Nusantara. Begitu kan?
   
  Soal anak-anak SMU negeri yang berpakaian amburadul dan banyak yang kena 
narkoba, ya memang demikianlah faktanya. Di sini kan tak ada yang mencoba 
menyembunyikan atau menyangkali fakta itu? Tapi juga jangan dilupakan, banyak 
perwira TNI kita yang masuk koran ketangkap basah lagi pesta narkoba di 
hotel-hotel. Kurang latihan dan disiplin gimana lagi coba?
   
  Anak-anak SMU biasa yang non-militeristik itu, selain dikenal doyan sakau, 
juga sering masuk koran menang berbagai lomba iptek tingkat dunia lho. Juara 
olimpiade fisika, matematika, dll. Namun, saya belum pernah dengar sejauh ini 
ada siswa sekolahan ala militer yang punya prestasi macam begini, meski 
kabarnya semuanya pilihan dan pinternya audzubillah. Jadi, gimana dong?
   
  Maka itu, sekali lagi, sobat, kelakuan tidak ditentukan oleh rambut cepak, 
badan tegap, dan baju necis. Bahkan ternyata kok juga tak ditentukan oleh 
pinter baris atau enggak.
   
  Saya mau bilang, semuanya berpulang dari pendidikan di rumah dan teladan 
ortu, tapi nanti di milis ini ada yang nggak suka dan bilang udah bosen denger 
begituan :))
   
  manneke

ajud ajudri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Salam Bung Steven dan Bung Manneke.

Rasanya kita tidak bijaksana kalau menyamakan tindakan yg di lakukan Mahasiswa 
IPDN seperti pada tayangan media TV saat ini sebagai tindakan pendidikan 
militer (Kenapa juga kita selalu bersikap sinis sama militer kita).

Saya punya ponakan yang sekolah di SMU Taruna Nusantara yang sangat kental 
dengan aturan militer karena yayasannya kan milik tentara. Dan saya bersyukur 
sekali, dia menjadi pemuda yang disiplin, pintar dan santun. Badan atau 
fisiknya juga bertumbuh dengan baik, kesehatannya ok. Rambutnya selalu rapi, 
dan pakaiannya selalu saja licin.

Kalau dibandingkan dengan SMU negeri atau swasta yang kata data nih penuh 
dengan penyalah guna an obat terlarang, gimana tuh????? Pakaian anak SMU yang 
pamer udel, rambut ala dragon ball.

Kita jadi manusia yang gampang menuduh dengan udel kita, tanpa berpikir dengan 
otak.

Salam hormat Bung Steven dan Manneke

steven lenakoly <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam,

Ada beberapa pesan yang saya tangkap di balik peristiwa IPTDN. Yang pertama, 
perasaan seniori masih menjadi pahlawan dan selalu sok menjadi pahlawan. Ini 
hampir sama dengan iklan rokok yang mengatakan, kurang lebih, Yang Muda Yang 
Tidak Dipercaya. Senior merasa mempunyai hutang dari perbuatan yang dilakukan 
oleh kakak kelas mereka. Jadi seperti istilah yang tua yang berjaya. Yang tua 
menganggap yang muda atau junior tidak memiki kemampuan apa-apa atau masih bau 
kencur sehingga mempermainkan juniornya sewenang-wenang.

Kedua, gambaran pemukulan adalah cermin bahwa gaya militer telah mendarah 
daging sampai disekolah. Hal ini tidak dapat diatasi dengan melakukan merger 
sekolah atau perubahan status sekolah. Karena yang berperan adalah pesan 
turun-temurun. Aku dapat dari seniorku maka aku harus meneruskan dan membuat 
hal yang sama dalam juniorku, itulah kira-kira pandangan mereka.

Ketiga, ada bayangan kesewenang-wenangan pemerintah dalam melayani masyarakat. 
Mereka, yang sekolah di IPDN, adalah cambah dari pelaksana pemerintah di 
tingkat Kecamatan. Saat pendidikan saja mereka telah merasa bisa. Kesombongan 
akan, sadar atau tidak sadar, terbawa saat nanti melayani masyarakat. 
Masyarakat yang tidak dikenalnya dengan baik maka tidak akan dikasihani. Budaya 
ini adalah budaya kerja yang buruk. Bagaimana bisa maju wong orang-orangnya 
kayak gini....

Salam Kiri,
Steven Lenakoly




         

                
---------------------------------
The best gets better. See why everyone is raving about the All-new Yahoo! Mail. 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke