Persoalan dengan perubahan nilai selalu klise: banyak pihak sudah sampai bibir 
garing menyerukan dilakukan perubahan nilai, menunjukkan nilai-nilai mana yang 
tidak membawa dampak positif, serta nilai-nilai baru seperti apa yang perlu 
disosialisasikan. Sudah banyak juga diajukan berbagai macam strategi 
kebudayaan, strategi perubahan sosial, dan milis FPK ini adalah saksinya.
   
  Tapi, mereka yang berteriak-teriak bagai anjing menggonggong di padang gurun 
itu "cuma" pemerhati dan intelektual sosial/budaya yang tidak berada pada 
posisi untuk menggariskan kebijakan dan mengimplementasikannya. Seruan mereka 
paling banter adalah seruan moral. Mereka tak bisa jadi polisi yang memaksa 
setiap warga negara untuk melaksanakan apa-apa ang mereka serukan itu.
   
  Siapa "polisi"-nya? Ya yang punya kuasa alias pemerintah. Jika pemerintah 
bergeming saja, dan tak ada tindak lanjut terhadap seruan perubahan itu (akibat 
tiadanya kemauan politik untuk berubah), maka apa lagi jalan keluarnya? Ya 
tiap-tiap orang yang percaya pada seruan moral itulah yang harus menerjemahkan 
suatu gagasan moral ke dalam wujud konkret berupa perilaku individual dan 
sosial. 
   
  Kalo tunggu presiden, atau DPR, atau pengadilan, ya sampai kiamat nggak akan 
ada perubahan. Wong mereka itu justru yang diuntungkan dengan keadaan sekarang 
ini kok, jadi ngapain berubah? 
   
  Lalu? Ya kembali ke kita-kita ini yang tiap hari getol baca Kompas dan liat 
1001 seruan untuk perubahan nilai. Kita mau nggak melaksanakan itu semua dalam 
hidup kita masing-masing sebagai individu, anggota keluarga, dan warga 
masyarakat?
   
  Gimana kalo cuma kita sendiri yang mau, sementara orang lain cuek aja? Ya 
biarin aja. Itu urusan dia. Namanya juga sikap moral. Yang penting diri kita 
bener, dan kita bisa ajak orang-orang terdekat di lingkungan kita untuk berubah 
menjadi lebih baik. Kalo Anda seorang ayah, Anda bisa mulai dari keluarga Anda. 
Kalo Anda seorang atasan dikantor, Anda bisa mulai dengan bahwahan Anda. Kalo 
Anda ketua RT di kampung Anda, mulailah dengan warga RT Anda.
   
  Yang penting ada yang mulai, dan nggak terus-terusan tunggu pemerintah, atau 
jerit-jerit menuntut pemerintah ubah nilai, tapi ya cuma jerit-jerit aja dan 
diri kita sendiri tidak mulai melakukan apa-apa yang lebih nyata.
   
  Kalo Anda baca riwayat hidup orang-orang besar, akan selalu terlihat pola 
konsisten dalam proses perkembangan mereka: mereka senantiasa terinspirasi oleh 
orang lain yang melakukan suatu hal baik, sesepele apapun hal tersebut. Mereka 
belajar dari teladan orang lain, bukan dari wahyu atau aturan hukum. Maka 
ketika di sekitar kita teladan yang baik langka dijumpai, diri kitalah yang 
bisa jadi pemberi teladan itu. Perbuatan dan sikap positif kita, betapapun 
kecilnya status dan peran kita dalam masyarakat, selalu akan memotivasi orang 
lain untuk melakukan hal positif yang sama.
   
  Situasi paling konkret seperti apa yang bisa mewujudkan situasi di atas? Tak 
lain dan tak bukan adalah keluarga di rumah. Kalo anak saya brengsek, itu sebab 
saya tak mampu jadi teladan yang baik buat dia. Kalo dia tumbuh jadi orang 
baik, itu karena dia melihat orang tuanya juga senantiasa melakukan hal-hal 
baik.
   
  Contohnya apa? Nggak bergunjing tentang orang lain di depan anak; nggak 
bertengkar dan memakai kata-kata tak pantas di depan anak; tak mengajari anak 
berbohong dengan menyuruhnya bolos sekolah untuk alasan sepele; tak bersikap 
malas dan menunda-nunda pekerjaan di depan anak; tak berangkat kerja telat 
setiap pagi; tak jor-joran dengan tetangga soal pemilikan ini dan itu, dsb. 
Intinya, di rumah orang tua mesti jaga mulut, jaga sikap, jaga kelakuan...smile.
   
  manneke

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kalo saya mas , bosan bukan krn nggak setuju lho Mas.. smile.. cuma 
percaya
bhw itu bukan satu satunya yg terpenting, walau amat penting.. makiin
banyak aja tulisan yang senada dnegan tulisanku membahas pentingnya
perubahan nilai telah di muat di Kompas... , Bagi yg kurang hebat orang
tuanya... maka ini jadi amat penting... lha kalo semua ortu sehebat Mas
manneke..dari dulu Indonesia sdh maju.... :)

Maklum mas .. kalau guru kencing berlari... biat bapaknya baik banget ada
juga pengaruhnya bagi anak didik..

Mau pulang Ya Mas... banyak anggota FPK yang udah nunggu mau ketemu tuh..

Semoga makin banyak ... sumbangannya bagi pembinaan kepribadian bangsa..

Saat kita diam dan merenung... banyak juga kok pendapat orang lain yg
tadinya kita debat lalu kita akui ada benarnya..
dan ibarat bandul , yg suka ekstrim, kiri lalu kanan .. bagus juga cari
keseimbangannya.. kalau udah lelah bergoyang.. smile..

Salam

Haniwar

Kirim email ke