Dear All,

Artikel KOMPAS dengan judul, "Konflik Poso:
Ketidak-siapan Demokrasi Picu Pertikaian", memuat
"pendapat-pendapat Jusuf Kalla, pemrakarsa Pertemuan
Malino Satu dan Dua, ketika menjadi Menko Kesra,
bersama SBY yang ketika itu menjabat, ketika
presidennya Megawati Soekarnoputri. Jusuf Kalla
kemudian, menjadi tokoh politik tertinggi di negeri
ini yang lantang menyerukan  Eksekusi Tibo cs, karena
upaya hukum sudah final (katanya, meski tidak paham
atau ikut dalam GRAND-DESIGN).

Mari kita analisis perkataan-perkataannya, yang saya
percaya wartawan KOMPAS melakukan ketelitian yang
penuh dalam pengutipan atas ucapan Wapres Jusuf Kalla.

Pertama: "Munculnya konflik horizontal berkepanjangan
di sejumlah daerah, khususnya di Poso dan Ambon, TAK
SEMATA disebabkan persoalan suku, agama, ras, dan
antar-golongan. Jika ditinjau lagi lebih lanjut,
pertikaian itu SALAH SATU-nya justeru dipicu
KETIDAK-SIAPAN warga menghadapi demokrasi yang
akhirnya berujung pada kesalah-pahaman."

> Komentar 1: Konflik Ambon dimulai dengan operasi
intelijen besar-besaran, yang menggunakan Hari Raya
Lebaran Idul Fitri, tgl. 19-9-1999, di mana persoalan
SEPELEH antar sopir dan penumpang (yang TAK pernah
tertangkap hingga kini), menyebabkan hanya dalam
beberapa jam kemudian ribuan tempat ibadah dari
keyakinan berbeda dibumi-hanguskan, dan ribuan saudara
kami di Maluku dari keyakinan berbeda terbantai. TANPA
OPERASI INTELIJEN mustahil sebuah peristiwa sopir dan
penumpang membakar kota Ambon dan daerah sekitarnya
hingga lebih dari 3 tahun. JADI, Jusuf Kalla hanya
ingin menghapus jejak itu. Soal KEYAKINAN akan ADANYA
OPERASI INTELIJEN telah menjadi pendapat dan sikap
umum dari kebanyakan masyarakat Maluku sekarang dan
keturunannya kelak.


Kedua: "Berdasarkan pengalamannya, konflik horizontal
atau vertikal di negara ini bisa dijabarkan dalam dua
macam, yaitu alasan ideologis dan ketidak-adilan
ataupun ketidak-puasan terhadap ekonomi maupun
politik. Persoalan SARA justeru jadi faktor penyerta,
bukan pemicu."

> Komentar 2: Berdasarkan kenyataan kasus 19-9-1999,
benarlah ucapan Jusuf Kallah itu. Artinya, masalah
sopir dan penumpang (dibangun kesan oleh JK) SEBAGAI
PEMICU konflik di Maluku. Agama adalah (kesan JK,
hanyalah) faktor penyerta. Kebiasaan JK untuk
menyederhanakan masalah, dan seolah orang akan percaya
pada irrasionalitas dan ketidak-logisan yang
dibangunnya. Lagian, hubungan rekam-jejak JK dengan
golongan keyakinan berbeda dengannya di home-town-nya
dibilang sebagai "catatan gelap" dan jarang ke wilayah
publikasi.


Ketiga: "Kasus Poso misalnya,semasa saya menjabat
Menko Kesra dan terjun langsung di daerah konflik,
ternyata INTI PEMICU KONFLIK bukan AGAMA, melainkan
KETIDAK-SIAPAN MENGHADAPI DEMOKRASI. Dalam persaingan
kursi bupati pihak yang kalah memasukkannya dalam
persoalan agama. Jika sudah masuk di sini, tak bisa
berhenti."

> Komentar 3: Konflik Poso didesign dari Jakarta,
seperti halnya Maluku, dibuat terjadi beberapa kali.
Dan, actor intellectual Jakarta tahu persis apa yang
dapat dijadikan konflik. Ya, pilkada sangat lumrah
untuk jadi wilayah konflik. Jangan di daerah-daerah
kita, di negara yang katanya demokrasinya maju
sekalipun, adalah LUMRAH orang berreaksi sewajarnya.
Menyebut Poso jadi konflik karena KETIDAK-SIAPAN
MENGHADAPI DEMOKRASI hanyalah memperbanyak covers
untuk menutupi "KEADAAN YANG SESUNGGUH-NYA TERJADI DI
POSO!" Lalu, misalnya, hubungannya apa konflik
masyarakat dengan begitu banyak bom, tindak kriminal
yang tak sangkut paut dengan masyarakat? JK memang
mengada-ada.

Keempat: "Dalam kasus Poso, persoalan demokrasi
kenyataanya tidak selamanya mendatangkan maslahat.
Apalagi dengan sistem winner takes all. Dalam posisi
ini tentu perlu kedewasaan berpolitik. Sayangnya,
tidak semua pihak siap akan konsekuensi ini."

> Komentar 4: Ya, JK mengada-ada. 


Kelima: "Persoalan agama dipandang sebagai isu yang
sensitif dan bersinggungan dengan banyak pihak. Dalam
kasus Poso atau Ambon, Kalla prihatin akan fanatisme
buta yang seolah-olah "melegalkan" pembunuhan atas
nama agama. Padahal, dalam kondisi hilangnya ribuan
jiwa melayang, tidak ada pihak yang diuntungkan."


> Komentar 5: Tanpa OPERASI INTELIJEN yang diketahui
sangat baik oleh penyelenggara PERTEMUAN MALINO I dan
II, ya JK dan SBY, MUSTAHIL konflik yang memakan
korban saudara-saudara kami yang berbeda keyakinan itu
sedemikian mengerikan. Dan, negara ada dalam keadaan
tidak berkemampuan untuk mengatasi konflik itu.
Sungguh, pemimpin sektarian tidak akan menjadi manusia
yang baik untuk masyarakat Plural. Masyarkat di
wilayah konflik tidak ada yang untung, karena profit
proyek social-conflict itu, tetap di Jakarta.

> Kesimpulannya, Jusuf Kalla dalam pelbagai
kesempatan, akan terus mengkampanyekan 'PENGABURAN
JEJAK Konflik Sosial "BY DESIGNED" dari Jakarta' itu.
Seharusnya, dia menghormati bahwa masyarakat berbeda
keyakinan dapat MEMAAFKAN konflik sosial di Maluku,
Maluku Utara dan Sulawesi Tengah (Poso), telah paham
PELAKU SEBENARNYA dari semua itu dan MENGAMPUNI
mereka. Tetapi, dengan caranya, Jusuf Kalla membangun
bahasa kekerasan baru. Dia dan SBY PALING
BERTANGGUNG-JAWAB atas pembantaian oleh negara yang
dipimpinnya atas Tibo, cs.

Mari kita mengutamakan Rakyat dan masa depan Negara!


wassalam,

berthy b rahawarin
 


 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke