Kematian Tuhan tak membuat dunia kiamat, dan ini sudah terbukti. Konsep 
kematian Tuhan dalam kristen tak sama dengan konsep kematian Tuhan yang 
diserukan Nietzsche. Namun, bahkan matinya Tuhan dalam Nietzsche pun tak 
membuat dunia kiamat tuh.
   
  Kematian Tuhan dalam kristen adalah kehendak Tuhan dan kuasa Tuhan sendiri 
atas dirinya. Jadi, tak ada makna bahwa ada yang lebih kuasa dari Tuhan.
   
  Kematian Tuhan dalam kristen adalah wujud kasih Tuhan yang paling konkret 
bagi manusia. Tuhan bersedia mewujud menjadi manusia biasa: direndahkan, 
difitnah, disiksa, menderita, dan mati. Tuhan memberikan teladan tidak melalui 
perintah dan ancaman, melainkan melalui tindakan konkret. Manusia tak lagi bisa 
berkata bahwa Tuhan tak pernah memahami penderitaan manusia, karena Tuhan 
pernah menderita dan mati, seperti manusia. Sebaliknya, peristiwa penderitaan 
dan kematian Tuhan memberi teladan kepada manusia bahwa tak ada penderitaan di 
dunia yang tak mampu ditanggung manusia. 
   
  Saat manusia menderita, Tuhan mungkin tidak datang dengan mujizat untuk 
menyingkirkan penderitaan itu dalam sekejap. Tapi Tuhan menderita bersama 
manusia, dan manusia tidak menanggung deritanya sendiri. Kebersamaan antara 
sang Khalik dan sang Insan inilah yang menjadi sumber kekuatan iman kristiani.
   
  Kematian Tuhan dalam kristen juga merupakan rekonsiliasi antara pencipta dan 
ciptaan, yang terputus hubungannya oleh dosa. Lewat darah dan kematian Tuhan, 
manusia disucikan kembali. Artinya, pertobatan dan pengampunan bukanlah hasil 
ikhtiar manusia, melainkan karunia Tuhan atas manusia. Sementara itu, lewat 
kebangkitan kembali Tuhan, maka maut pun ditaklukkan. Kematian tak lagi menjadi 
akhir bagi kehidupan, melainkan awal kehidupan kekal dalam kesucian ilahi.
   
  Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan Anda dengan pengetahuan saya tentang 
kekristenan yang terbatas. Bisa keliru, bisa meleset, bisa burem, tapi itulah 
pengalaman pribadi saya dengan iman kristen saya.
   
  manneke

reni renata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kalau Tuhan mati, dunia ini jadi apa? Kiamat?
Mengapa Tuhan mati? berarti ada yang lebih kuasa dari Tuhan? 
Saya hanya bertanya.. 
Mahreni

----- Original Message ----
From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, April 9, 2007 4:27:08 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan "Mati", Manusia Hidup

Ini teologi, Bung, yakni iman yang di-logos-kan. Salah satu aspek ilmu memang 
adalah theorizing. Nggak usah jauh-jauh, gerakan jari-jari tangan dalam meraih 
dan menggenggam suatu objek, yang di mata kita tampak sangat sepele itu, dalam 
cognitive science ternyata penjelasannya juga bisa jadi sangat mbulet kok. 
Merembetnya bisa sampai ke mekanisme kerja otak segala, bukan cuma urusan 
tangan semata.

Dibuat-buat? Entahlah. Hanya orang yang menguasai kekristenan dengan cukup 
dalam yang bisa menilai apakah penjelasan di bawah ini dibuat-buat atau enggak. 
Yang berabe adalah jika orang yang tak cukup memahami teologi Kristen lalu 
menilai bahwa ini semua dibuat-buat. 

Saya orang Kristen, tapi bahkan saya pu tak berani menilai sejauh ini karena 
saya bukan ahli teologi. Ibarat punya tangan, saya cuma bisa mempraktikkan 
menggunakan jari-jari tangan untuk memegang sesuatu, tapi tak berpretensi 
mengerti mekanisme apa di otak yang memberi perintah kepada tangan untuk 
bergerak sedemikian rupa. Saya punya tangan, tapi tak menguasai ilmu yang 
mempelajari tentang gerakan organ tubuh. Saya punya iman, tapi tak mengerti 
soal pengilmuan iman tersebut dalam wilayah teologi.

Anda sudah cukup mengertikah sehingga bisa menilai?

manneke



         

                
---------------------------------
Ask a question on any topic and get answers from real people. Go to Yahoo! 
Answers. 
                
---------------------------------
Share your photos with the people who matter at Yahoo! Canada Photos

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke