Kita memang tidak tahu sepenuhnya apa yang terjadi di IPDN/STPDN. Semua praja 
seakan tutup mulut (kecuali dipaksa) untuk menutupi aib ini. Coba dilihat 
sewaktu wapres berkunjung ke barak tempat penyikasaan clif muntu. Salah seorang 
praja yang saat kejadian itu juga berada dikamar itu, saat ditanya wapres 
didepan kamera, katanya sudah tidur dan tidak mengetahui kejadian itu, ini 
kesaksian didepan wapres lho. Secara logika, susah saya menerima keterangan 
praja ini. Sepulas-pulasnya orang tidur, kalau sebelahnya ada orang ribut dan 
digebukin ramai-ramai sampai meninggal, secara logika, mustinya ya mendengar 
lah.

Jadi sepertinya, ada sebuah code yang ditanamkan ke masing-masing praja untuk 
tidak membuka apa yang terjadi di IPDN/STPDN ini ke-publik. Sementara sekolah 
itu dibiayai negara sebesar 150 Milyard setahun (kata salah satu anggota DPR), 
itu baru yang dari pusat lho . Semua kejadian seakan-akan ditutup-tutupi, 
rumangsanya IPDN/STPDN itu sebuah sekolah ekslusif yang tidak boleh diketahui 
oleh orang lain. Ini naif sekali, yang lebih konyol lagi, hanya sebagian kecil 
dari staf dan pengajar yang menyadari kenaifan ini. Luar biasa ...... Harusnya 
masuk rekor Muri .....

Saya bukan seorang psikolog, namun melihat kenyataan ini, saya melihat ada 
perlunya semua lulusan IPDN/STPDN yang sekarang sudah menjabat, untuk dilakukan 
semacam test psikology, untuk memastikan bahwa kejadian dan apa yang dialami 
selama masa kuliah dulu, secara psikology tidak menimbulkan dampak negatif bagi 
pekerjaan dan keluarganya, ini usul saja, demi kebaikan bersama. 

Salam
  ----- Original Message ----- 
  From: JEJak 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 10, 2007 3:39 AM
  Subject: [TAG] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kekerasan di IPDN Jatinangor


  Kasus IPDN Lebih Besar dari Persoalan Kriminal

  Kasus penganiayaan -- mungkin lebih tepat pembunuhan - terhadap Cliff Muntu, 
praja (siswa) tingkat II Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tidak cukup 
diselesaikan secara kriminal. Akar persoalan yang membelit IPDN pasti jauh 
lebih besar dari sekedar persoalan kriminal.

  Melokalisir persoalan IPDN pada sebatas masalah kriminal biasa,hanya 
menyelesaikan persoalan di permukaan, tetapi tidak menyelesaikan secara 
menyeluruh. Penyelesaian masalah kriminal saja, bisa berulang pada kasus-kasus 
kriminal berikutnya.

  Kasus IPDN mengundang pertanyaan, kemana larinya hari nurani para siswa IPDN 
yang menganiaya sesama siswa yang sama-sama berangkat dari kampung halamannya ? 
Dalam pikiran kita, siswa yang pergi merantau biasanya memiliki rasa 
kesetiakawanan sosial yang tinggi, mengapa hal demikian tidak terjadi di IPDN ?

  Penyebabnya, pasti IPDN memiliki sistem pendidikan yang salah, dan system itu 
masih dilestarikan oleh pemerintah RI. Sangat sulit diterima akal sehat kita, 
bagaimana mungkin siswa lugu yang berasal dari kampung tiba-tiba menjadi 
beringas, dan sukses menjadi pembunuh. Dan, itu terjadi setelah mereka masuk 
dalam sistem pendidikan di IPDN.

  Oleh sebab itu, kalau IPDN tidak dibubarkan atau tetap akan dipertahankan 
keberadaanya, sebaiknya pemerintah (dalam hal ini Depdagri dan Depdiknas) 
segera merubah sistem pendidikan yang ada, secara menyeluruh dengan orientasi 
menghasilkan birokrat yang menerapkan prinsip-prinsip good governance, dan 
dijauhkan dari sikap premanisme dan korupsi. 

  Sedangkan, penyelesaian secara hukum, tidak cukup pada pihak-pihak yang 
melakukan penganiayaan saja, tetapi sebaiknya menyeret langsung para pejabat 
IPDN yang terbukti tidak mampu menjaga keselamatan siswa. Dengan demikian, 
mudah-mudahan, tidak ada lagi siswa yang kehilangan nyawa secara sia-sia.

  ---------------------------------
  Bored stiff? Loosen up...
  Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke