Dear Rekan-Rekan FPK,

Menurut saya sih...karena Political Will Pemerintahnya yang setengah hati, hal 
itu sangat terlihat jelas dari :
1. Tim Investigasi yang dibentuk oleh Pemerintah adalah insan-insan yang 
berasal dari Depdagri, lucu khan...? gimana ngak lucu ? lah wong STPDN-IPDN itu 
milik Depdagri koq ! apa ngak jeruk makan jeruk itu namanya ?
2. Orang sebodoh dan segendheng saya pun sudah dapat menebak apa yang akan 
direkomendasikan oleh Tim Investigasi semacam itu bukan ? coba aja dari 7 butir 
rekomendasi Tim Investigasi itu isi nya menurut saya hanya datar-datar saja, 
lantas perubahan fundamental yang dimaksudkan oleh Presiden SBY itu yang 
mananya ?

Kalo dari sudut pandang gendheng saya sebenarnya sangat banyak cara-cara 
sederhana (terapi mental) bisa dilakukan oleh Presiden SBY misalnya :
1. Kumpulin semua Praja berikut staff Pengajarnya, trus undang dech tuh 
Pimpinan beserta Laskar FPI, FBR dan sejenisnya di Istora Senayan untuk 
selanjutnya rame-rame bersama Presiden nonton bareng rekaman kekerasan yang 
terjadi di STPDN-IPDN maupun Tindakan-Tindakan kekerasan yang pernah dilakukan 
oleh FPI & FBR.
Setelah itu berdialoglah  dech tuh Presiden dengan mereka-mereka itu...
2. Baru dech kemudian....output dari acara itu susun tuh kebijakan untuk 
kedepannya.

Wasalam,
KGS.

  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Sugeng 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 10, 2007 9:45 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Mengapa Mata Rantai Kekerasan di 
STPDN/IPDN susah dihentikan?


  Dear teman2 milis,
  emang susah kalo kita mau menuntaskan masalah di IPDN. Banyak masyarakat 
negara ini kelihatannya benci dengan hal2 yang berbau militer, maunya negara 
ini diperintah oleh sipil. Tapi pada kenyataannya banyak juga masyarakat yang 
sok militer spt pemaikaian atribut militer yang tidak semestinya oleh masy 
sipil seperti pakaian loreng, menggantungkan tanda militer di mobil, stiker de 
ele el. Yang lebih parah adalah memelihara nilai2 militer di sekolah yang 
jelas2 bukan sekolah militer seperti yang dilakukan oleh IPDN. Akademi militer 
pun tidak pernah kehilangan siswanya akibat kekerasan, tp kenapa hal ini 
terjadi di sekolah sipil. Kalau sewaktu sekolah saja sudah suka dengan 
kekerasan bagaimana jika nanti mereka menjadi pamong di daerahnya masing2 ? 
Mungkin gak mereka nanti mukulin masyarakatnya ?????? 

  

Kirim email ke