Pak loekyh, Saya tidak mengeneralisir bahwa korban Jugun Ianfu semua mengalami paksaan secara fisik. Persoalannya "paksaan" (apapun bentuknya) itu sendiri tidak diakui oleh Perdana Menteri Abe.
Mungkin saya mau tanya Pak, apa betul kekejaman yang dilakukan Jepang bahkan terhadap masyarakat dan serdadu- nya sendiri itu menghasilkan karakter Jepang sekarang ini? (Disiplin, menjadi pelayan negara dll). Apakah itu positif? Bagaimana dengan Indonesia dimana sejarah kekejaman selalu ditutup-tutupi terutama jaman Orba, (seperti di IPDN), kira-kira hasilnya karakter apa yang sekarang ada dimasyarakat kita? Karena saya percaya kekejaman akan menghasilkan kekejaman yang baru. Kecuali kalau sudah "mutih", dinyatakan, diumumkan, entah dalam permohonan maaf dan sejarah yang ditutupi itu dibuka seluas-luasnya, menjadi bahan diskusi dll. Teman saya dari LIPI bercerita bahwa pak Asvi Warman Adam didatangi oleh kelompok masyarakt yang mengaku "Pemuda Pancasila", gara-gara komentar soal buku sejarah siswa yang sempat ramai itu. Gerombolan yang mengaku garda pancasila itu mendatangi LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sambil meneriakkan "Mana yang namanya Asvi Warman?" Apa yang harus kita lakukan, dan sepertinya hal-hal serupa dilakukan juga oleh Front Pembela Islam, FBR dll, tetapi tidak ada tuntutan terhadap mereka. Kekerasan semakin merajalela di arena publik, seperti gunung es. Dan ini harus jadi agenda bersama juga bahwa banyak orang khawatir namun tak berdaya menghadapinya. Mariana Tuesday, April 10, 2007, 8:51:29 PM, you wrote: > Mbak Marianna, saya percaya adanya paksaan secara FISIK terhadap > sebagian Jugun-ianfu. Tetapi saya juga percaya TIDAK SEMUA jugun- > ianfu dipaksa secara fisik. Jadi paling sedikit, mereka dipaksa atau > TERPAKSA secara mental untuk menjadi Jugun-ianfu. Saya sendiri > menonton cuplikan /iklan Kick Andy tentang jugun-ianfu tersebut. > Secara umum, kekejaman tentara Jepang dan ketidakperdulian atas hak > hidup orang2 lain, termasuk serdadu-serdadunya sendiri, bukan cuma > cerita, bahkan sebagian merupakan KEBIJAKAN RESMI pemerintah Jepang > masa lalu. > Misalnya perintah resmi (walaupun mungkin tak tertulis, saya lupa) > bagi semua tentara Jepang pada saat WW2 untuk tak boleh menyerah > mempunyai andil besar atas aksi kamikaze, tingginya korban tewas di > pihak Jepang dalam berbagai perang (salah satu faktor, tak ada > semacam satuan palang-merah), sisa2 serdadu Jepang yang masih hidup > dan tak mau menyerah dengan terus bersembunyi di hutan2 Irian, dsb, > s.d. tahun 1970-an, dst. > Saya sendiri menonton dokumenter pembuatan jembatan Kwai (bukan > filemnya, yang juga dibuat) yang juga menunjukkan kebijakan resmi > pemerintah Jepang yang tak mau tahu dengan keadaan tawanan2 Jepang, > walaupun sang komandan tentara di kamp tawanan pekerja paksa sendiri > terkesan hanya mengikuti perintah saja (setelah perang pun, ia > bersahabat dan kagum kepada komandan tentara Inggris yang menjadi > tawanannya). > HEBATNYA, kekejaman tentara Jepang (saya yakin salah satu faktornya > adalah akibat didikan ala militer, mungkin meniru IPDN, ha, ha, ha) > bisa berubah total. Bangsa Jepang saat ini boleh dianggap bangsa > dengan stereo-type positif: bangsa yang selain paling disiplin dalam > kerja, juga paling santun (dalam berlalu-lintas dan dalam prilaku se- > hari2) di antara berbagai bangsa di Asia. > Mungkin isi konstitusi Jepang (dibuat setelah kalah perang) yang > anti perang dan jelas2 menyatakan pegawai pemerintah adalah pelayan > masyarakat, mampu membentuk karakter bangsa Jepang menjadi seperti > sekarang ini. > Salam
