Dua sisi mata uang, di satu sisi patriot, tetapi di sisi lain crook. Tinggal yang mana yang timbangannya lebih berat.
--- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh Suryopratomo > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/11/utama/3438004.htm > ====================== > > Tidak bisa disangkal salah satu keberhasilan yang dicapai Presiden > Soeharto selama 32 tahun menjadi orang nomor satu di Indonesia adalah > mengubah Indonesia dari negara miskin menjadi negara yang beranjak ke > negara industri baru. > > Namun, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan > pertanian, Soeharto paham betul kehidupan rakyatnya. Walaupun > Indonesia hendak beranjak menuju negara industri, sebagian besar > rakyat Indonesia tetap menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. > > Ketika perjalanan hidup membawa dirinya menjadi seorang tentara yang > sarat dengan penugasan yang menantang dan akhirnya membawa dirinya > menggapai jenjang tertinggi, yakni meraih jenderal bintang empat > bahkan kemudian bintang lima, Soeharto tetap tidak lupa akan > kehidupan yang sebenarnya dari rakyatnya. Demikian pula ketika > kemudian arus besar politik dalam negeri pada tahun 1965 menarik > dirinya ke arena politik dan pengabdian sipil, hal yang pertama > dilakukan adalah melakukan perbaikan kehidupan rakyat. Kebutuhan > pangan yang tidak memadai sehingga membuat tingkat inflasi melambung > sampai 650 persen membuat ia tidak bisa lain kecuali yang pertama > dilakukan adalah memperbaiki sistem produksi pertanian. > > Bersama para ahli ekonomi dari Universitas Indonesia yang dipimpin > Prof Widjojo Nitisastro dan Prof Ali Wardhana, Soeharto merancang > sebuah konsep pembangunan ekonomi jangka panjang yang terprogram. > Konsep pembangunan yang di zaman Presiden Soekarno berada di bawah > bendera "Demokrasi Terpimpin" diubah menjadi "Garis Besar Haluan > Negara" yang diterjemahkan dalam rencana pembangunan lima tahunan > (repelita). > > Setelah dua tahun mengemban tugas sebagai Penjabat Presiden, Soeharto > menjalankan Repelita I-nya pada tahun 1969. Arah yang ingin dicapai > sangatlah sederhana, yakni bagaimana bangsa Indonesia bisa memenuhi > kebutuhan pangan dan juga sandang sendiri. > > Pelibatan dari semua komponen bangsa dilakukan agar program > pembangunan bisa berjalan dan berhasil. Mahasiswa Institut Pertanian > Bogor, misalnya, dilibatkan untuk turun ke lapangan, mendampingi para > petani agar bisa menjalankan program bimbingan massal. > > Konsistensi dalam menjalankan program pembangunan itulah yang > akhirnya membawa Indonesia menggapai swasembada pangan pada tahun > 1984. Prestasi besar itu membawa Presiden Soeharto meraih penghargaan > dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). > > Barulah setelah berhasil memenuhi kebutuhan perut, arah pembangunan > bisa dilakukan ke bidang lain. Setelah itu repelita diarahkan ke > bidang perumahan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan kemudian > pembangunan industri. > > Tidak tertulis > > Pencapaian pembangunan ekonomi yang dilakukan Indonesia selama 32 > tahun kepemimpinan Presiden Soeharto sangatlah luar biasa. Tidak > hanya pujian yang diberikan, tetapi konsep pembangunan banyak yang > ditiru oleh negara-negara lain. > > Soeharto mengakui bahwa keberhasilannya membangun perekonomian > Indonesia tidak bisa juga dilepaskan dari faktor keberuntungan. > Antara lain adanya bonanza minyak pada tahun 1974 yang memungkinkan > Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun infrastruktur yang > dibutuhkan untuk mempercepat laju pembangunan. > > Sayang, landasan pembangunan yang bagus itu tidak tercatat dengan > baik. Konsentrasi yang berlebihan kepada pelaksanaan pembangunan > membuat semuanya seperti terlupa untuk membuat catatan tertulis yang > bisa dijadikan sejarah bagaimana Orde Baru membangun perekonomian > bangsa ini. > > Itulah yang disayangkan oleh Soeharto. Kerja keras yang dilakukan > tidak cukup bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi yang akan > datang. Padahal catatan seperti itu penting bagi generasi mendatang > untuk mengetahui kekuatan sekaligus kelemahan dari pembangunan > ekonomi di zaman Orde Baru. > > Di samping hal-hal yang positif, seperti bimas, puskesmas, posyandu, > dan pengendalian tingkat kelahiran, ada hal-hal yang membuat > perjalanan bangsa sempat oleng, seperti kasus Pertamina dan korupsi > di Bulog. Bahkan, yang terakhir ketika perekonomian Indonesia > terempas oleh krisis keuangan yang melanda Asia Tenggara tahun 1997 > yang ditengarai disebabkan juga oleh ditinggalkannya Soeharto oleh > para konglomerat yang ia besarkan. > > Mengenang ke belakang > > Buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia's Second President > yang ditulis Retnowati Abdulgani-Knapp tidak bisa dilepaskan dari > konteks keinginan mantan Presiden RI itu untuk menuliskan perjalanan > sejarah yang telah ia lalui. Buku itu menjadi sebuah otobiografi yang > hidup karena tidak hanya menceritakan kejayaannya, tetapi seluruh > kehidupan Soeharto mulai dari lahir sampai masa tuanya sekarang ini > yang tak lepas dari kecaman dan berbagai tuduhan. > > Retnowati sangat beruntung karena ia putri dari tokoh kemerdekaan > Roeslan Abdulgani sehingga punya akses untuk mendengar langsung semua > cerita itu dari sang mantan Presiden. Sayang, kesempatan itu > diperoleh di saat Soeharto sudah berusia 86 tahun dan berulang kali > keluar-masuk rumah sakit. Meski tidak dimungkiri ingatannya masih > sangat kuat, Soeharto tak cukup lancar menyampaikan pikirannya. > Akibatnya, Retnowati terpaksa untuk menerjemahkan beberapa pikiran > Soeharto itu agar bisa ditangkap lebih mudah oleh pembaca. > > Meski demikian, buku tentang Soehartoyang akan diluncurkan tanggal > 12 April di Singapura dan tanggal 25 April di Jakartatetap menarik > untuk diikuti, apalagi Retnowati secara baik mampu mengangkat isu- isu > sensitif yang menjadi pertanyaan banyak pihak. Seperti soal siapa > orangtua Soeharto yang sebenarnya, peran Ibu Tien dalam kehidupan > Soeharto, para putra-putri, soal yayasan yang sekarang sedang diutak- > utik kembali, hubungan dengan para konglomerat, serta teman- temannya > yang setia dan yang mengkhianati. > > Salah satu episode yang diangkat secara baik dan menarik untuk > menjadi pengetahuan kita adalah saat-saat menjelang Soeharto harus > lengser dari kursi kepresidenan. Bagaimana ia berupaya untuk bisa > mengendalikan krisis ekonomi, termasuk kemungkinan mem-peg rupiah > terhadap dollar AS seperti diusulkan ahli moneter AS, Steve Hanke, > dengan Currency Board System-nya. Untuk mencegah agar Soeharto tak > melakukan itu, Presiden AS Bill Clinton mengirim mantan Wakil > Presiden Walter Mondale untuk menemuinya di Jakarta, Maret 1998. > > Dalam perjalanan pulang dan mampir di Singapura, Mondale bertemu PM > Goh Chok Tong dan Menteri Senior Lee Kuan Yew. Mondale sempat > bertanya apakah Soeharto seorang pahlawan atau penjahat (crook)? > > Jawaban yang disampaikan Lee Kuan Yew sangat menarik. "Sebagai > Presiden Indonesia, Soeharto merasa dirinya seperti seorang sultan > besar dari kerajaan besar. Ia merasa wajar apabila putra-putrinya > mendapatkan privilese seperti halnya para pangeran dan putri pangeran > di Kerajaan Solo. Dia melihat dirinya sebagai seorang patriot. Saya > juga tidak mengklasifikasikan dia sebagai seorang penjahat (crook)." >
