Dear Zain,
Patok utama dalam memberi penilaian obyektif terhadap
suatu keadaan atau riwayat reputasi karier politik
seseorang adalah sejarah. Bung Karno mengakronimkan
sebagai "JASMERAH: 'Jangan Sekali-kali Melupakan
Sejarah!" Lebih spesifik lagi: "Bacalah sejarah dari
situasi munculnya (kritik-sejarah). Dan, jangan
menilai sejarah pak Harto, misalnya, hanya dari satu
sisi (ketika) kejatuhannya. Konteks sejarah karier
politik-militer Pak Harto dipandang dalam keutuhannya,
baik secara nasional maupun internasional, ya konteks
menyeluruh di mana munculnya Sang Pemimpin dan saat
jatuhnya. Maka, hubungan Para Pemimpin Dunia dengan
Paman Sam, tidak bisa tidak, adalah representasi
konteks mondialnya.
Sejarah relasi "Uncle Sam" - Saddam, Soekarno dan
Soeharto, memberi satu cetak-biru yang bila
disederhanakan "Kalo Eloe kagak ikut mau Gue, Gue
abisin de Loe!" Nasib mantan Presiden Irak Saddam,
mantan presiden pertama RI Bung Karno dan (mungkin
demikian halnya) mantan presiden kedua Pak Harto
berjalan di bawah cetak-biru itu.
Ketika Irak dan Iran berperang, Paman Sam berada di
belakang Presiden Saddam. Abis manis sepah dibuang!
Saddam digantung pemerintahan boneka Irak, sebagai
balas dendam terganggunya kepentingan Paman Sam di
Kuwait.
Ketika Soekarno tampak (dapat) berpihak pada Paman
Sam, ia mendapat perlakuan khusus. Sebaliknya, ketika
pemerintahan RI di bawah Soekarno berakrab-akrab
dengan RRC dan menganak-maskan Partai Komunis
Indonesia (PKI), Amerika "menyeterika" Bung Karno.
Kita kutip suasana peralihan Bung Karno ke Pak Harto
di mata intelijen Indonesia (Ken Conboy, "Inside
Indonesia's Intelligence Service", Pustaka Primatama,
Jakarta, 2007). Dokumen pemerintah Amerika Serikat
yang telah boleh diungkap ("declassified") mengatakan,
bahwa upaya-upaya CIA untuk untuk mendukung kebijakan
menyeluruh pemerintah Amerika Serikat demi menjadikan
Indonesia sebagai sebuah republik non-komunis dengan
tetap dipimpin Soekarno, dan tidak secara implisit
maupun eksplisit menyebut adanya alternatif
kepemimpinan militer (hal.39).
Sejarah hubungan Paman Sam-Soekarno, atau (apalagi)
Paman Sam - Pak Harto, tidak sehitam putih Saddam.
Sederhananya tetap sama: bila, kepentingan Paman Sam
(plus sekutunya) terganggu, pemimpin negara yang
sungguh-sungguh mau independen akan segera digantikan
oleh Paman Sam, dengan lebih dahulu melakukan "gerakan
pemfitnahan".
Hubungan Paman Sam dengan dunia, sesungguhnya tidak
dapat disederhanakan. Jelas, bahwa ideologi Pancasila
berseberangan dengan ideologi Komunis (RRC dan Uni
Soviet), tetapi kemudian "menyerahkan dan menjadikan
diri narsistis dan menyerahkan nasib negara seperti
boneka ke tangan Paman Sam" adalah sebuah keadaan
pembohongan dan kebodohan design Paman Sam (Baca juga
Audrey R Kahin, cs, Subversi Sebagai Politik Luar
Negeri, Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia -
terjemahan dari "Subversion as Foreign Policy",
Grafiti Pers, Jakarta, 2001).
Saddam dijatuhkan karena kepentingan dig-daya Paman
Sam diserang. Soekarno, karena meneriakkan "Inggris
kita linggis, Amerika kita seterika!" dan yang
menjadikan dirinya yang akomodatif terhadap Komunisme
diruntuhkan.
Apa yang menjadi alasan utama bagi Paman Sam untuk
ikut mendukung jatuhnya Pak Harto, tidak langsung
jelas. Mungkin ada banyak alasan. Tetapi, salah satu
faktor, (kemungkinan) berhubungan dengan eksploitasi
ketidak-puasan Rakyat Indonesia atas situasi terakhir
menjelang jatuhnya Pak Harto!" Seberapa besar
kepentingan ideologis-ekonomis Paman Sam terganggu,
juga belum terungkap literatur. Kita menunggu proses
"declassified" file CIA. Namun, di bawah Pak Harto
komitmen ideologi Pancasila secara konsisten, tidak ke
kiri atau ke kanan, dan tidak jadi sosialis yang
berbeda dengan Kapitalisme Paman Sam, maka semestinya
tidak ada masalah dengan Pak Harto.
Dear Sam, "Kalau harus dipilih entahkah Pak Harto di
sisi "Crook" atau "Patriot", sejarah memberikan kepada
Pak Harto, pembenaran lebih berat kepada sisi Patriot.
Sas-sus menjelang kejatuhan Soeharto, sebenarnya Pak
Harto dapat memerintahkan tentara untuk menuju suatu
keadaan lebih fascis. Tetapi, Pak Harto menyadari
harga yang terlalu mahal untuk itu. Maka, kemungkinan
Pak Harto untuk menjadi Patriot terbuka: "Mengundurkan
diri dari begitu banyaknya anggota Tim di seputarnya,
yang ikut menjatuhkannya. Salah satunya adalah
Harmoko. Karena menjelang Pemilu 1996, adalah saudara
Harmoko yang paling ABS (asal bapak senang) itu yang
mengatakan, "Kebanyakan Rakyat masih menghendaki agar
Pak Harto memimpin Bangsa ini!" Namun, pada tanggal 21
Mei 1998, pkl 8.45, (dua tahun kemudian) adalah juga
Harmoko ikut meminta pak Harto untuk mengundurkan
diri.
Di luar peristimwa kerusuhan Mei, dan kasus Trisakti
_- Semanggi, serta sejumlah konlik lainnya, dengan
penyerahan kepada Pak Habibie, Soeharto menyelamatkan
lebih banyak nyawa dan kepentingan. Meskipun,
Konstitusi mematok Wapres Habibie ketika itu otomatis
menjadi Presiden, sebenarnyalah ada lebih banyak
kekuatan yang dapat menjalankan jalur politik yang
acceptable secara situasional. Dan, Jenderal Wiranto
memiliki peluang besar ketika itu untuk melakukan apa
pun (yang acceptable) meskipun dapat diinterpretasikan
sehalal diinterpretasikan konstitusi. Ya, Wiranto
kemungkinan lebih dikehendaki Soeharto. Pak Wiranto
memiliki peluang tak terbatas untuk itu. Tapi, Habibie
menerima durian runtuh exhausted politik Pak Harto.
Singkatnya, Pak Harto telah mengambil sikap "minus
malum" (yang kurang jeleknya, atau yang terbaik dari
terburuk) menyelamatkan kepentingan bangsa. Itulah
yang paling sederhana. Kalau dipaksa memilih, dalam
konteks sejarah awal hingga akhir karier
politik-militer Pak Harto, Sejarah memintanya jadi
Patriot, segelap apa pun lembaran sejarahnya. Ya, Pak
Harto adalah Patriot. Paman "Sam, Saddam, Soekarno dan
Soeharto" memang empat "S" yang berbeda kepentingan.
Tabik Pak Harto, di hari tuamu. Lupakan Paman Sam itu.
Ia akan selalu menjengkelkan, hingga hayat dikandung
badan.
wassalam,
berthy b rahawarin
--- rzain <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dua sisi mata uang, di satu sisi patriot, tetapi di
> sisi lain crook.
> Tinggal yang mana yang timbangannya lebih berat.
>
>
> --- In [email protected], "Agus
> Hamonangan"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Oleh Suryopratomo
> >
>
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/11/utama/3438004.htm
> > ======================
> >
> > Tidak bisa disangkal salah satu keberhasilan yang
> dicapai Presiden
> > Soeharto selama 32 tahun menjadi orang nomor satu
> di Indonesia
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and always stay connected to
friends. http://mobile.yahoo.com/mail