Bahwa segala centang-perenang kerusakkan dan absurdivitas NKRI yang telah sangat terasa kesan-nya sekarang ini secara kronologis tak bisa disangkal bahwa "hal itu adalah dampak dari pengelolaan pemerintahan sebelumnya". Memperbaiki kerusakkan sebuah negeri kepulauan yang paling luas ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pendapat saya; untuk memperbaiki segala masalah sistem pemerintahan itu perlu pembenahan dari berbagai ranah, namun sebagai pilarnya adalah terkait "kronologi sejarah, politik-pertahanan, sosial-ekonomi dan pendidikan". Ke-empat pilar tersebut, jika "step by step" ditangani secara benar melalui mekanisme perbincangan keterbukaan wakil-wakil rakyat dan juga secara hukum di-archive-kan sebagai dokumen yang benar-benar resmi (sebagai produk wakil rakyat "indepedent" bukan hegemoni politik luar), maka secara pragmatis akan menumbuhkan kekuatan mental dan jiwa individu Indonesia. Mampukah bangsa kita sekarang ini bersatu-padu secara sadar dan insaf "dan bukan karena takut ancaman" untuk menyelesaikan satu masalah krusial bangsa secara terbuka? Mampukah bangsa kita (apalagi suku jawa) menggugurkan filosofi hipokrit yang disalah-artikan disebalik slogan "mikul duwur meden jero" yang selama ini dijadikan pelindung moral suksesi? Jika hampir semua permasalahan pemerintahan sebelumnya itu tidak bisa diselesaikan melalui suatu evolusi (lambat) dan diperkirakan banyak merugikan mentalitas serta kredibelitas bangsa, maka perlukah suatu "gerakan revolusi"? Harapannya; "hanya, janganlah ada revolusi berdarah lagi, karena hanya akan membuat generasi sakit kronis, berkepanjangan........." kcn,-
