http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/12/metro/3445900.htm ======================
jakarta, kompas - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai kurang serius menanggulangi demam berdarah yang terus merenggut korban jiwa selama beberapa tahun terakhir. Pemerintah kini diharapkan segera membuat program penanggulangan DBD rutin dengan kesediaan dana yang cukup selama jangka waktu tertentu. "Jangan hanya menyalahkan masyarakat yang tidak proaktif melaksanakan program rutin pemberantasan sarang nyamuk. Program pemerintah sendiri masih bersifat spontan dan amat tergantung dana atau proyek," kata pengamat kesehatan masyarakat, dr Alex Papilaya, Rabu (11/4). Alex mengatakan, pemerintah sedikitnya harus membuat model penanggulangan di tiga daerah yang berbeda, yaitu perumahan kumuh, perumahan yang sudah tertata, dan kawasan dengan banyak pepohonan. Ketiga model penanggulangan ini dijalankan selama sedikitnya tiga tahun sehingga terpetakan detail pola penjangkitan DBD yang terlihat dari pola hidup masyarakat serta kondisi lingkungan setempat. Selanjutnya, program penanggulangan dapat terus diterapkan sesuai karakteristik kawasannya, tidak disamakan dan hanya bersifat seremonial saja. Sementara itu, Rabu kemarin, korban meninggal kembali bertambah. Di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Selasa (10/4), Surini (27), warga Jalan Sumatera RT 03/06, Rawa Lele, Jakarta Barat, dan Nabila (6), warga Jalan Tiang Bendera Raya RT 02/03, Tambora, Jakarta Barat, meninggal. Total pasien meninggal di RSUD Tarakan dari Januari hingga April sebanyak 14 orang. Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas mengatakan, dalam bulan April ini ada 54 pasien DBD dirawat di wilayahnya. Selama Januari-April, tujuh orang meninggal dan 1.439 orang dirawat. "Dari 31 kelurahan, ada 16 kelurahan yang masuk daerah merah. Petugas terus melakukan pengasapan massal dan abatisasi," katanya. Karena pengasapan massal oleh Dinas Kesehatan DKI belum berlangsung, Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjatian memerintahkan pengasapan fokus, yakni di tiap RT yang terjangkit DBD. Selain itu, Fadjar meminta setiap lurah merekrut satu relawan juru pemantau jentik pada setiap RT. Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Rabu kemarin, mengatakan, pemerintah sedang mengkaji penyemprotan dengan menggunakan pesawat, seperti pemberantasan hama di ladang. Penyemprotan nyamuk semacam itu pernah dilakukan di beberapa negara pecahan Uni Soviet dan terbukti berhasil. (CAL/ONG/NEL/eca)
