Terima kasih atas info tentang film yang menarik ini.
  Dalam film dokumentar (Australia), romusha dari Indonesia ini
  disebut "Malay from Dutch East Indies" dan kuburannya
  ya cuma a'la kadarnya tanpa nama.
   
  Begitu banyak yang jadi romusha dan tak pernah kembali lagi
  ke kampung halamannya.
  Seharusnya mereka dikenang!
   
  Salam
  Las.
  

ha19wir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
Pernah pada tahun 1972 akan diputar sebuah film Indonesia tentang 
Romusha , tetapi karena atas tekanan pemerintah Jepang ketika itu, 
maka Film tersebut dilarang beredar (sensor) oleh oleh Deppen. 
Indonesia terpaksa tunduk dan menuruti kemauan Jepang ketika itu 
karena ketergantungan atas bantuan ekonominya dari Jepang serta 
dianggap dapat mengganggu hubungan antara Jepang dengan Indonesia.

Pada tahun 1983 juga telah dibuat sebuah film tentang wanita 
Indonesia yang dipaksa menjadi pemuas nafsu seks tentara Jepang dengan 
judul "Budak Nafsu" yang disutradarai oleh Sjuman Djaya dan 
dibintangi oleh El Manik dan Jenny Rachman. Berlainan dengan 
Film "Romusha", film "Budak Nafsu" itu diperbolehkan beredar. ( 
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=196125&kat_id=84 )

Film "Budak Nafsu" ini telah merebut piala Citra untuk kategori 
sutradara terbaik pada Festival Film Indonesia 1984. 

Selain itu kadang-kadang juga ada reportase tentang nasib Romusha dan 
Jugun-ianfu di siaran TV Indonesia, seperti siaran TV Indosiar pada 21 
Maret 2006 tentang nasib orang-orang yang dijadikan Romusha pada perang 
dunia kedua di Desa Pulomanuk, Banten .

Ini ada beberapa cerita dan reportase tentang Romusha dan Jugun-ianfu 
di Indonesia,

http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=50003

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/09/02/0000.html

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/07/daerah/1193406.htm

http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=4157&lang

http://sejarahkita.blogspot.com/2007/02/blog-post_12.html

Salam
G.H.



  

Kirim email ke