Sy sependapat dgn Mas rzain bhw masalah utamanya adalah luas sawah.
Sy punya data misalnya pd saat HPP gabah Rp.1.750, utk memproduksi nya jatuh HPP Rp.900. , margin Rp.850, hampir 100 persen ini mustinya memadai. Tetapi dgn luasan sawah hanya 1/2 ha , hasil per ha adalah 4 ton, mak ayg diperoleh adalah 1/2 X 4.000 X Rp.850 = Rp.1.700.000 per panen, katakanlah 3 X panen, atau 120 hari per panen., berarti cuma Rp.14.000 perhari, kalauhrs menghiudpi dua ornag, maka per orang hanya Rp.7.000 per hari alias kurang dr USD 1 per hari... Konon, kita saat ini masih mampu ekspor pupuk, jd harga pupuk mahal... bukan masalah utama Ketiadaan kebijakan pertanahan yg benar adalah malapetaka terbesar, padahal di era Bung Karno telah di buat UUPA dengan rencana land reform nya yg nggak dilaksanakan oleh Suharto...malah petani dan rakyat kecil di gusur dimana mana.. Seharusnya, tiap petani berlahan minimal 4 ha., apalagi didukunbg dnegan teknologi tepat guna, misal bibit hibrida yg bisa mengahsilkan 9 ton per ha. Kalau Suharto mau di puji soal beras.. mestinya, land reform.. dan penelitian bibitlah yg jd perhatian utama.. dismaping pendekatan.. bhw petani hrs dapat untung bukan rakyat diam selama ada beras murah. Salam Hnaiwar At 12:21 PM 4/14/2007, you wrote: >Tahukah anda bahwa skenario tanya jawab Pres Suharto dipersiapkan >setahun melalui dan pemilihan penanya yang ketat? Banyak subsidi >berasal dari uang penjualan minyak yang waktu itu masih >menguntungkan (bagi Suharto). >Sekarang Luas sawah yang makin sempit sedangkan yang makan nasi >tambah banyak.
