Dear Mariana, and All, Saya membaca sebuah karya Bunga Rampai, NEGARA DAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN, Pengantar KARTINI SYAHRIR, diterbitkan oleh The Asia Foundation dan Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta, 2000. Dari email Anda, tampak Anda berada dalam lingkaran dalam salah satu lembaga yang menerbitkan buku tersebut, meski Anda mungkin bukan salah satu kontributor tulisan.
Saya membaca "litani" kekerasan yang Anda uraikan di bawah. Buku di atas mengulas pelbagai aspek Kekerasan Negara terhadap Perempuan, sejak Peristiwa Nanking hingga Kerusuhan Mei 1998. Dunia senantiasa melupakan bahwa setiap konflik atau peperangan terbuka, Wanita dan anak2 adalah yang paling menderita atas pelbagai cara, dan bahkan tujuan langsung peperangan. Setiap kekerasan dan kekejaman yang terjadi di dunia, seringkali tidak terjadi oleh karena seseorang saja, tetapi didukung oleh Struktur Sosial Masyarakat sendiri (Bdk. Thamrin A Tomagola, ibid, hal.99: Restu Sosial-Budaya atas Kekerasan terhadap Perempuan). Sejarah dunia mengajarkan kita hanya dua jalan: Anda harus membalas menghukung Orang-orang yang pernah Anda nilai melakukan kekerasan, sebagaimana lazim terjadi apa yang disebut politik balas-dendam. Itulah jalan pertama, ya BALAS DENDAM. Jalan kedua, yang ditunjuk Mahatmah Gandhi, Leo Tolstoy, atau Nelson Mandela, adalah "not forget, BUT FORGIVE". Sikap NON-VIOLENCE itu telah menjadi sikap dan teladan dan didengungkan sebagai LANGKAH MEMUTUS LINGKARAN SETAN SEJARAH KEKERASAN DALAM SUATU NEGARA, sebaliknya MENGAWALI NEGARA YANG MAJU DAN BERMARTABAT. Anda hanya dapat memilih dua pilihan itu. Pilihan ketiga adalah abu-abu dan "full of (bad) prejudijes". Saya meninjau langsung dan mengalami betapa masyarakat di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam konflik sosial paling akhir (yang kesannya terbangun seolah konflik olahan masyarakat) perempuan dan anak-anak menjadi teramat menderita. Ceritera2 mengerikan yang saya dengan dengan hati menahan emosi dan amarah. Tetapi, kepada mereka saudara-saudara kami dari lintas komunitas, senantiasa saya berupaya menenangkan dengan mengatakan, "Kuatkan hatimu. Jangan benci siapa pun! Berdoalah kepada Tuhanmu masing-masing!" "Mengapa jalan damai adalah MUTLAK?" Siapa pun dapat marah terhadap situasi, tetapi tetaplah harus tenang dalam berpikir untuk kebaikan bersama yang lebih besar. Setiap orang yang marah, tidak langsung harus mengangkat senjata. Situasi akan menjadi "Bellum omnia contra Omnes", situasi chaotic seperti dikatakan Thomas Hobbes. Dalam terakhir mengurus kasus eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, kami telah berupaya melakukan sesuatu untuk mencegah upaya pembunuhan oleh Negara terhadap warga yang tidak bersalah itu. Tetapi, pemerintahan SBY tetap menolak Grasi dan nekat melakukan eksekusi, meskipun tokoh-tokoh dunia memperingatkan SBY. Dan, ia melakukan juga. Saya mengenal dan dikenal baik oleh pemberi Pengantar pada Buku yang disebut di atas. Salah satu upaya terakhir kami untuk bertemu SBY adalah, antara lain, lewat jaringan Pemberi Kata Pengantar itu. Dan, saya harus menelan kesabaran hati untuk mengatakan: kemungkinan kekerasan hanya terjadi di Jakarta saja yang bisa dicatat sebagai kekerasan dan harus dibela. Orang yang jauh, tidak diberi akses untuk mendapat keadilan itu: ya, isterinya Tibo dan Marinus. Dominggus adalah bujangan yang belum sempat menikah. Jika, upaya damai tidak menjadi niat bersama untuk membangun kembali negeri yang kelam ini, ketika sumpah serapah kita tertuju kepada orang di tahun kemaren (saja) seperti Pak Harto, saya harus bertemu dengan lingkungan Anda seputar jurnal-wanita, yang ketika diharapkan kerja-sama di tahun 2006 di mana Pak Harto juga sudah tidak ada, Pemerintahan SBY terang-terangan membunuh tiga Putera tanah air ini. Dan, maaf, ketika itu Mariana, Anda ada di mana? Terimakasih kalau juga ikut berdemo dan saya tidak tahu. Saya akan memilih mengikuti Leo Tolstoy, Mahatmah Gandhi, dan Nelson Mandela untuk memajukan Indonesia yang damai dan memihak suara membela kemanusiaan. Tetapi, KESEMPATAN KEPADA SBY sudah lewat, setidaknya di mata saya. Dulu, dia menjalankan politik pendzoliman untuk mendapat simpati dan menempati kursi presiden, di mana pada putaran pertama kedua, saya memilinya dengan penuh harap. Tetapi, keangkuhannya untuk mengeksekusi tiga warga itu Tibo cs, dia Presiden SBY telah mendzolimi dirinya sendiri. Kita ingin berdamai dengan semua Putera-Puteri Bangsa, yang dapat kita pilih lagi untuk kesempatan selanjutnya, mengubah situasi ke keadaan lebih baik. Kekerasan itu, terjadi karena berasal dari kita, oleh kita dan untuk kita semua. Dan, dihentikan hanya dengan saling memaafkan dan memulai yang baru, ya NON VIOLECE. wassalam, berthy barnabas rahawarin --- Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Apakah itu berarti setimpal dengan kekerasan > terselubung > jaman rezim soeharto dengan intelegen yang luar > biasa > membabat habis masyarakat yang vokal? > > Apakah tidak dilihat bahwa hutang piutang yang > dilakukan rezim Soeharto sampai > sekarang harus dibayar oleh anak cucu kita? > > Apakah itu setimpal dengan kekayaan yang > bertumpuk-tumpuk menggila > yang padahal dari kekayaan beliau itu bisa untuk > agenda > pengentasan kemiskinan saat ini? > > Apakah itu setimpal dengan pembangunan mental yang > sekarang > banyak melanda masyarakat kita "Asal Bapak senang" > dan kebudayaan > korupsi yang mengakar dari generasi ke generasi? > > Apakah itu setimpal dengan kerusakan alam, > pembabatan hutan, > pembangunan yang tidak peduli pada keseimbangan alam > dan > banjir maut yang sekarang merajalela? > > Terakhir, apakah kita tidak cukup mengerti ketika > melihat IPDN sebagai > sebuah "releksi rezim Suharto?" > > > Ketika kekerasan sebuah rezim belum seluruhnya > terungkap > apalagi di sosialisasi, maka kebaikan-kebaikan itu > menjadi semu. > > Mariana
