Salam kenal Pak Barnabas, Saya terharu dengan uraian Anda, sangat sensitif dengan persoalan kekerasan di negeri ini.
Uraian saya sebelumnya sebetulnya jawaban dari posting milis ini tentang "Jasa Suharto". Jadi saya belum merambah pada soal rezim sekarang. Soal perdamaian, saya pernah interview langsung ke Ambon menemui Suster Brigitta dari Kelompok Perempuan Peduli di maluku. Saya belajar banyak dari beliau bagaimana strategi kelompok perempuan menghen- tikan konflik dan peperangan (lihatlah Jurnal Perempuan Edisi 33 tentang perempuan dan pemulihan di wilayah konflik). Mereka berdagang dan membeli di pasar di situ pertemuan para perempuan dari etnis dan agama yang berbeda punya kesempatan untuk berdialog dan ternyata merekalah yang kemudian berpikir "bagaimana kita bisa perang hanya karena etnis dan agama yang berebda". Bacalah, di situ jelas peran perempuan dalam upaya perdamaian dengan strategi kaum mereka, para ibu-ibu, dan upaya mereka melindungi anak-anak. Upaya damai? Saya kira karena perempuan lebih dekat dengan kehidupan. mariana Monday, April 16, 2007, 9:25:13 PM, you wrote: > Sejarah dunia mengajarkan kita hanya dua jalan: Anda > harus membalas menghukung Orang-orang yang pernah Anda > nilai melakukan kekerasan, sebagaimana lazim terjadi > apa yang disebut politik balas-dendam. Itulah jalan > pertama, ya BALAS DENDAM. Jalan kedua, yang ditunjuk > Mahatmah Gandhi, Leo Tolstoy, atau Nelson Mandela, > adalah "not forget, BUT FORGIVE". Sikap NON-VIOLENCE > itu telah menjadi sikap dan teladan dan didengungkan > sebagai LANGKAH MEMUTUS LINGKARAN SETAN SEJARAH > KEKERASAN DALAM SUATU NEGARA, sebaliknya MENGAWALI > NEGARA YANG MAJU DAN BERMARTABAT. Anda hanya dapat > memilih dua pilihan itu. Pilihan ketiga adalah abu-abu > dan "full of (bad) prejudijes". > Saya meninjau langsung dan mengalami betapa masyarakat > di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam > konflik sosial paling akhir (yang kesannya terbangun > seolah konflik olahan masyarakat) perempuan dan > anak-anak menjadi teramat menderita. Ceritera2 > mengerikan yang saya dengan dengan hati menahan emosi > dan amarah. > Tetapi, kepada mereka saudara-saudara kami dari lintas > komunitas, senantiasa saya berupaya menenangkan dengan > mengatakan, "Kuatkan hatimu. Jangan benci siapa pun! > Berdoalah kepada Tuhanmu masing-masing!" > "Mengapa jalan damai adalah MUTLAK?" Siapa pun dapat > marah terhadap situasi, tetapi tetaplah harus tenang > dalam berpikir untuk kebaikan bersama yang lebih > besar. Setiap orang yang marah, tidak langsung harus > mengangkat senjata. Situasi akan menjadi "Bellum omnia > contra Omnes", situasi chaotic seperti dikatakan > Thomas Hobbes. > Dalam terakhir mengurus kasus eksekusi mati Fabianus > Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, kami telah > berupaya melakukan sesuatu untuk mencegah upaya > pembunuhan oleh Negara terhadap warga yang tidak > bersalah itu. Tetapi, pemerintahan SBY tetap menolak > Grasi dan nekat melakukan eksekusi, meskipun > tokoh-tokoh dunia memperingatkan SBY. Dan, ia > melakukan juga. > Saya mengenal dan dikenal baik oleh pemberi Pengantar > pada Buku yang disebut di atas. Salah satu upaya > terakhir kami untuk bertemu SBY adalah, antara lain, > lewat jaringan Pemberi Kata Pengantar itu. Dan, saya > harus menelan kesabaran hati untuk mengatakan: > kemungkinan kekerasan hanya terjadi di Jakarta saja > yang bisa dicatat sebagai kekerasan dan harus dibela. > Orang yang jauh, tidak diberi akses untuk mendapat > keadilan itu: ya, isterinya Tibo dan Marinus. > Dominggus adalah bujangan yang belum sempat menikah. > Jika, upaya damai tidak menjadi niat bersama untuk > membangun kembali negeri yang kelam ini, ketika sumpah > serapah kita tertuju kepada orang di tahun kemaren > (saja) seperti Pak Harto, saya harus bertemu dengan > lingkungan Anda seputar jurnal-wanita, yang ketika > diharapkan kerja-sama di tahun 2006 di mana Pak Harto > juga sudah tidak ada, Pemerintahan SBY terang-terangan > membunuh tiga Putera tanah air ini. Dan, maaf, ketika > itu Mariana, Anda ada di mana? Terimakasih kalau juga > ikut berdemo dan saya tidak tahu. > Saya akan memilih mengikuti Leo Tolstoy, Mahatmah > Gandhi, dan Nelson Mandela untuk memajukan Indonesia > yang damai dan memihak suara membela kemanusiaan. > Tetapi, KESEMPATAN KEPADA SBY sudah lewat, setidaknya > di mata saya. Dulu, dia menjalankan politik > pendzoliman untuk mendapat simpati dan menempati kursi > presiden, di mana pada putaran pertama kedua, saya > memilinya dengan penuh harap. Tetapi, keangkuhannya > untuk mengeksekusi tiga warga itu Tibo cs, dia > Presiden SBY telah mendzolimi dirinya sendiri. > Kita ingin berdamai dengan semua Putera-Puteri Bangsa, > yang dapat kita pilih lagi untuk kesempatan > selanjutnya, mengubah situasi ke keadaan lebih baik. > Kekerasan itu, terjadi karena berasal dari kita, oleh > kita dan untuk kita semua. Dan, dihentikan hanya > dengan saling memaafkan dan memulai yang baru, ya NON > VIOLECE. > wassalam, > berthy barnabas rahawarin
