Sastra Dapat Menjadi Pintu Masuk untuk Mengenal Kelokalan http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/17/humaniora/3461803.htm ==========================
Jakarta, Kompas - Sastra dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenal kelokalan dan kultur di Nusantara. Sebab, pada dasarnya, sastra Indonesia lahir dari roh kebudayaan etnik atau kelokalan. Pandangan itu dikemukakan Maman S Mahayana, kritikus sastra Indonesia dari Universitas Indonesia, pada serial ke-10 diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Bale Sastra Kecapi bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta dan harian Kompas di Jakarta, Senin (16/4). Diskusi bertajuk "Lokalitas dalam Sastra" terse- but juga menghadirkan penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Andy Fuller, peneliti sastra Indonesia. Maman mengatakan, sastra lokal awalnya lebih banyak daripada sastra Melayu. Namun, dalam sejarahnya ia mengalami semacam tekanan. Dominasi bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia, kehadiran Balai Pustaka yang pada awal pendiriannya tak lepas dari kepentingan tertentu, serta teks-teks strukturalis yang mendominasi pelajaran sastra di sekolah ikut membuat sastra lokal kurang terekspresikan. Padahal, demikian pandangan Maman, representasi keindonesiaan terdapat dalam berbagai karya sastra. "Ketika kita kurang mengenal persoalan etnik, sastra sebetulnya dapat menjadi pintu masuk," katanya. Untuk itu, ia menilai perlu adanya perumusan arti dari kebudayaan Indonesia yang selama ini disebutkan sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah. Jika hanya puncak-puncak kebudayaan, akan ada budaya yang terpinggirkan. Barangkali, di tengah kesalahan komunikasi antaretnik yang sebegitu akutnya, sastra dapat menjembatani. Dia berpandangan, sastrawan di daerah perlu mencoba menggali permasalahan lokal (kebudayaan dan masyarakat). Demikian juga pembelajaran sastra di sekolah memperkenalkan sastra-sastra lokal tersebut. Masalah dasar Bagi Sutardji, lokalitas merupakan masalah dasar dalam sastra. Persoalan antara sastra Barat dan Timur, misalnya, tak lepas dari soal lokalitas. "Sastra tidak mungkin tanpa lokalitas lantaran sastra dihasilkan di atas hamparan memori, kultur, dan kebudayaan si pembuatnya. Kata-kata tidak jatuh dari langit tetapi dari lautan lokalitas atau hasil 'embara' penulis dari suatu lokalitas ke lokalitas lainnya," kata dia. Menurut Sutardji, lokalitas sama dengan sesuatu yang akrab dengan penulisnya. Hal itu bergantung pada akar penulis, pengenalan serta sesuatu yang dikondisikan cukup lama. Lokalitas merupakan kejadian, kepribadian, karakter individu, dan lingkungannya. Dapat saja seorang penulis beretnis tertentu, tetapi akrab dengan kebudayaan lain. Kondisi tersebut ikut memengaruhi, bahkan memperkaya karyanya. Terlebih lagi dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti televisi dan internet, yang melalui suguhannya dengan mudah membuat orang familier dengan hal tertentu. Lokalitas tidak lagi sesuatu yang bersifat fisik, tetapi juga maya dan kabur. Diakuinya, tidak mudah mengenal lokalitas hanya dari karya teks. Juga perlu menghayati kultur dan merasakan kehidupannya sehari-hari seperti aslinya. Hal senada diungkapkan Andy Fuller. "Untuk dapat memahami lokalitas tertentu tidak cukup dari teks. Terlebih lagi terkait sastra Indonesia yang kaya tradisi lisan," ujarnya. (INE)
