Pak loekyh, Saya setuju sekali bilapun anak-anak ikut demonstrasi karena orang tuanya harus membawanya. Dan orang dewasalah yang mengerti apa yang hendak disuarakan.
Anak-anak SD seharusnya diperhatikan pendidikan di sekolahnya, mata pelajaran yang bertumpuk-tumpuk membuat mereka kekurangan waktu untuk menjadi diri sendiri dan kreatif dalam bermain. Keponakan saya anak perempuan di bangku SD punya buku pelajaran IPA yang isinya begini: - Kalau menyisir pakai.... (keponakan saya harus menjawab: sisir) Ada lagi pelajaran apa ya, saya lupa namanya. Soalnya seperti ini: - Kalau anak perempuan seperti apa? Keponakan saya harus menjawab: Berambut panjang, memakai pita dan rok mainannya boneka. - Kalau anak laki-laki seperti apa? Dia harus menjawab: Berambut pendek, memakai celana pendek dan mainnya perang-perangan dan mobil-mobilan. Terus saya tanya ke keponakan saya itu. "Tapi sekarang kamu pakai celana pendek dan main mobil-mobilan, padahal kamu anak perempuan? Jadi gimana dong?" Lalu keponakan saya langsung memonyongkan bibirnya dan alisnya berkerut, bahunya dinaikkan, "tau tuh, abis bu guru begitu mintanya..." Betul juga, karena kalau nggak jawabannya dicoret dan nilainya jadi jelek. Mariana Sunday, April 15, 2007, 3:38:38 AM, you wrote: > Potongan tulisan berikut saya tanggapi dg judul lain, maaf. > Walaupun dari awal saya mengkritik IPDN, tetapi melihat maraknya > tayangan TV aksi demo teatrikal oleh anak2 BEBERAPA sekolah-sekolah > dasar, saya jadi prihatin. Sangat jelas bahwa di mana pun dan kapan > pun, demo oleh anak2 tidak pernah spontan, tetapi hasil arahan orang > lain (dalam hal ini, oleh guru2-nya). > Pikiran anak2 adalah pikiran yang masih murni dan mengajak anak2 > untuk suatu demo, apapun maksud dan tujuan `sang sutradara demo', > adl bentuk indoktrinasi anak2. Sebab dengan pola pikir anak2 yang > masih belum dewasa, mereka belum bisa membedakan perbedaan antara > baik dan buruk secara rasional. Jadi mereka dipaksa untuk menerima > mentah2 nilai `baik' atau nilai `benar' yang dipaksakan oleh guru2- > nya. > Misalnya ketika anak2 meminta IPDN `dibubarkan', apakah anak2 tsb > sudah mengetahui makna arti `pembubaran IPDN' (yang multitafsir) > ini? Jangan2 mereka (anak2 SD) mengartikan `pembubaran IPDN' secara > harfiah, yaitu membuat gedung IPDN rata dengan tanah sehingga semua > praja IPDN harus kembali ke orangtua masing. > --- In [email protected], "Agus Hamonangan" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Oleh Sri Hartati Samhadi >> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm
