http://www.kompas.com/ver1/Nasional/0703/26/140315.htm
Kompas, Edisi 15 April 2007
  Demokrasi dilecehkan!
Keadilan sulit didapatkan!
Penindasan yang dilakukan oleh Negara, Pemodal, dan pelaku pasar terhadap 
rakyat miskin semakin menggurita!
Rakyat miskin hanyalah benda yang dapat dipermainkan, yang terus ditindas 
hingga perlahan mati.
  Penghadangan aparat kepolisian terhadap sekitar 100 warga Perum TAS Sidoarjo 
Jawa Timur yang berniat aksi massa ke Istana Merdeka ketika memasuki Stasiun 
Pasar Turi Surabaya oleh 200 personil polisi dari Dalmas Polres Surabaya Utara, 
Polda Jatim dan Satuan Tangkal disertai water cannon yang disiagakan di halaman 
stasiun merupakan bentuk pemberanggusan demokrasi dan ketidakadilan. Perlakuan 
aparat ini berlebihan dan tidak memiliki legitimasi kuat dan adil. Bagaimana 
tidak? Aparat kepolisian membentuk brikade dan memeriksa KTP dari setiap calon 
penumpang yang hendak masuk ke dalam stasiun. Setiap orang yang memiliki KTP 
dari Perum TAS tidak diijinkan masuk dan diarahkan ke satu tempat serta meminta 
mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Padahal setiap warga negara 
dijamin oleh undang-undang untuk berpergian kemana pun di wilayah Indonesia dan 
balik kembali. Apalagi untuk mendapatkan keadilan dari Presiden, pemimpin dan 
penyelenggara negara tertinggi di negeri ini.  
  Mereka adalah korban ketamakan, arogansi, dan ketidakpedulian pemodal, 
seperti PT Lapindo Brantas Inc/Energi Mega Persada dan Negara, baik Pemerintah 
Provinsi Surabaya dan Pemerintah Pusat, yang tidak bertanggung jawab atas 
perampasan kesejahteraan hak milik, kesehatan fisik dan psikologis, dan relasi 
sosial dan budayanya. Mereka sampai saat ini hanya diposisikan sebagai boneka 
“bencana alam” (istilah ini merupakan propaganda pemerintah untuk melepas 
tangung jawab mereka bahwa peristiwa ini adalah peristiwa bencana dari alam).  
 Perampasan pemodal (PT Lapindo Brantas Inc/Energi Mega Persada) dan pembiaran 
Negara dalam kasus ini adalah bentuk pemiskinan hampir sempurna, menunjukkan 
kemesraan Negara dan pemodal yang hanya menjadikan rakyat sebagai objek dalam 
kemiskinan mereka. Yang tidak memerhatikan betapa banyak kerugian yang diterima 
paksa oleh mereka. Inilah fragmen dari keseluruhan masalah yang dialami oleh 
rakyat (miskin) Indonesia.  
  Susahnya hidup di negara ini.
Susahnya hidup sebagai rakyat miskin.
  Revolusi untuk-/dari Sidoarjo!
Revolusi dari satu kota menuju Revolusi Indonesia.
 ---------------------------------------------------------------------------
Aliansi Rakyat Miskin (ARM) adalah pewujudan gerakan persatuan rakyat miskin 
guna menciptakan gerakan perlawanan masif dalam jangka panjang/permanen untuk 
melawan upaya-upaya pemiskinan secara represif, diskriminatif, struktural, dan 
sistematis yang dilakukan Negara, pemodal,dan pelaku pasar terhadap rakyat 
miskin. Aliansi ini awalnya terbentuk dari kebutuhan beraliansi untuk menekan 
Provinsi DKI Jakarta dan Kapolda Metro Jaya dan jajaran dibawahnya untuk 
menuntaskan kasus alm. Irfan Maulana (14), joki 3 in 1, yang dinilai 
menampilkan konspirasi politik dan kebohongan publik yang meminggirkan sisi 
fakta bahwa Irfan, korban keangkuhan dan kekejaman Pemerintah DKI Jakarta, 
dianiaya hingga meninggal dunia oleh petugas Polisi Pamong Praja (Pol. PP), 
bukan karena penyakit ayat dan infeksi usus semata.  Pol. PP adalah eksekutor  
yang selalu berada di depan berhadapan langsung dengan rakyat miskin yang 
berada di jalan hanya untuk mencari makan, sementara  akses pendidikan,
 kesehatan, dan lapangan pekerjaan yang lebih layak sulit didapatkan oleh 
rakyat miskin. Sementara itu, Pol.PP seringkali melakukan pelanggaran HAM dalam 
melakukan tugasnya. Lalu dimanakah peran kepolisian sebagai penyidik? Pembiaran 
eksekusi Satuan Pol. PP yang didasarkan perda-perda dalam proses penyidikan 
menimbulkan kekhawatiran, karena lebih cenderung menampilkan sifat-sifat 
militerisme dan premanisme. Selain itu, anggaran untuk menangkapi orang-orang 
miskin begitu besar, seperti anggaran yang dikeluarkan Pemerintah DKI Jakarta 
sebesar lebih dari 46 miliar rupiah tahun 2007 ini. Lebih baik anggaran sebesar 
ini diperuntukan bagi kesejahteraan rakyat miskin.

ARM sampai saat ini terdiri dari 16 organisasi dan komunitas yang terus 
memerluas jaringan keanggotaannya untuk mewujudkan gerakan persatuan tersebut. 
ARM: JCSC, SRMK, JRMK, UPC, GMKI Jakarta, Arus Pelangi, FMN-R, FMN, KM UIJ, 
SEBAJA, KKJB, pemulung kolong Cikini, SOMASI UNJ, LBH Jakarta, LBH APIK, PDRM 
Aceh.
([EMAIL PROTECTED])
 

 
 
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke