Mas/Mbak Motulz,
   
  Saya rasa pemerintah Amrik ini sangat aneh dalam pembuatan aturan-aturan bagi 
warga Amrik nya. Soalnya berapa saja kecelakaan pesawat di dalam negri Amrik 
sendiri? Mengapa mereka tidak mengumumkan tidak memakai penerbangan milik 
maskapai Amrik untuk dalam negri mereka?
   
  Berapa kali sudah terjadi pembunuhan students di Universitas-universitas di 
Amrik dari tahun 1966, dan yang terjadi baru-baru ini di Virginia Tech 
University siswa Indonesia malah jadi korban. Namun kita kan tidak 
menggembar-gemborkan kepada siswa-siswa di Indonesia untuk tidak belajar ke 
Amrik, bukan?
   
  Memang seperti kata pepatah: "Gajah dipelupuk mata tak nampak tetapi kutu 
diseberang lautan bisa jelas kelihatan".
   
  Begitulah kira-kira sifat pemerintahan Amrik dari dulu. Senanganya 
gembar-gembor dan petentang-petenteng, saja gak bisa melihat bagaimana 
pemerintahan mereka sendiri.
   
  Salam,
  Yuli

"/\\/\\ o + u |_ z" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Hahahahaha... nah ini akibat cara pikir pemerintah yang SANGAT 
PENDEK. Dia pikir cukup dengan melakukan audit akreditasi.. semua jadi lancar, 
terbayar, menumbuhkan kepercayaan atas kinerja pemerintah?

Sementara para pekerja Garuda langsung melayangkan protes dan somasi. Pikiran 
mereka lebih jernih, bahwa keputusan akreditasi itu sangat berdampak buruk bagi 
image penerbangan komersil se-kelas Garuda. Bagi orang asing, keputusan 
akreditasi itu vital dan santag dipegang sebagai jaminan. Nah kalau bangsanya 
sendiri saja tidak bisa menjamin, mereka ingin percaya ke siapa? Wajar kalau 
akhirnya keluar keputusan tersebut. Walau nampak berlebihan saya rasa gak beda 
berlebihannya dengan keputusan DepHub kita.

Kalau udah gini, yang rugi siapa?

Motulz

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/18/ekonomi/3464237.htm

Kirim email ke