Rekans, Saudara Tanjung Utomo benar. Menurutku yang lebih bahaya dan lebih rumit juga adalah realitas "industri" senjata di Indonesia. Di Indonesia, "industri" senjata juga tidak kalah dengan AS. Tidak sedikit warga biasa yang punya senjata api, bahkan di sini ada sebagian warga yang memiliki senjata yang di AS di larang dimiliki oleh warga. Lihat aja di perang ACEH, POSO, termasuk senjata yang dimiliki para teroris, para perampok. Senjata yang mereka miliki bukan lagi senjata yang di AS dijinkan dimiliki warga, tapi senjata perang, yg hanya dipakai oleh tentara. Padahal di Indonesia jelas-jelas ada aturan yang melarang warga biasa memiliki senjata api. Kembali teringat kasus penemuan ratusan senjata api di rumah seorang perwira beberapa waktu lalu.Itu semua menunjukkan bahwa "industri" senjata sudah cukup "menggurita" di Indonesia, walaupun guritanya masih cilik.Pertanyaanya: siapakah pemilik "indusrti" senjata di Indonesia itu? Atau siapakah pemainnya?
Kasus di AS itu sangat baik untuk kita bercermin diri. Salam Mulyadi --- In [email protected], "Tunjung Utomo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > INDUSTRI SENJATA AS = INDUSTRI ROKOK INDONESIA?? > > Saya coba mengambil angle yang berbeda, dengan menarik sisi yang sejenis > dengan yang berlaku di negara kita. > > Saya melihat pemberlakuan pelarangan atau pengontrolan ketat kepemilikan > senjata api di USA sama seperti kampanye pemberlakuan larangan merokok di > tempat-tempat umum di Indonesia. Sama-sama susah!. Karena di dua negara ini > dua industri tersebut (senjata api dan rokok) menempati urutan-urutan > pertama penyumbang pajak dan lapangan kerja terbesar bagi negara pantes aja > kalau lobby-lobby mereka begitu kuat. > > Lebih jauh lagi, di USA sejak jaman perang Vietnam telah banyak pengamat > yang mencoba menelisik andil industri-industri senjata terhadap sikap USA > dalam memandang konflik-konflik bersenjata di dunia. Film "JFK" besutan > sutradara Oliver Stone dan dibintangi Kevin Costner sempat menimbulkan > kontroversi ketika dirilis pada tahun 1991 karena alur ceritanya yang > menafsirkan pembunuhan JFK pada tahun 1963 adalah hasil konspirasi antara > Jendral-jendral hawkish yang ortodoks dengan pentolan-pentolan industri > senjata dan direstui oleh Wakil Presiden yang juga dikenal hawkish Lyndon B. > Johnsonm, untuk memuluskan rencana membawa konflik Vietnam jadi kancah > perang terbuka. Siapa yang diuntungkan, selain para jendral yang tidak suka > kebijakan JFK yang pro-perdamaian dan pro-nonproliferasi nuklir, juga tentu > saja bos-bos pabrik persenjataan yang langsung menangguk kontrak puluhan > juta dollar akibat kebijakan perang tersebut. Nah melihat sejarah tersebut > tentu bukan sesuatu yang aneh bila saat ini begitu susah untuk melakukan > kontrol kepemilikan senjata api apalagi pelarangan kepemilikan. > > Nah sekarang mari kita telisik andil industri rokok dalam sulitnya penerapan > dan kampanye kebijakan-kebijakan anti rokok. Disaat ajang Formula 1 dan > MotoGP saja terancam kehilangan setengah dari sponsorship mereka akibat > pelarangan pemasangan iklan rokok dan produk rokok di negara-negara tuan > rumah GP, di Indonesia produk-produk rokok justru tampil mentereng menggaet > acara-acara olahraga terbesar, acara-acara yang seharusnya justru > mengkampanyekan pentingnya kesehatan dan betapa kesehatan sangat berlawanan > dengan rokok=). Dapat pula kita telisik beberapa grup perusahaan rokok > adalah jua pemilik saham di beberapa konglomerasi industri layanan > kesehatan, apalagi dengan undang-undang anti trust anti monopoli usaha yang > belum matang bahkan tidak bergigi sama sekali di negara kita, jadi bila > jumlah penderita penyakit berkaitan dengan rokok meningkat, tentu kita tahu > siapa yang akan menangguk keuntungan juga bukan?
