--- In [email protected], "vida_junita" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tapi ketika kepemilikan senjata api ternyata berhasil > menyelamatkan banyak orang, media massa cenderung sepi2 saja. > > Orang tersebut tidak merinci sumber info lebih jauh. Tapi dia > mengatakan bahwa baru2 ini terjadi 3 penembakan senjata di sekolah > (entah sekolah mana, negara bagian mana) yang berhasil dihentikan > tanpa jatuh korban jiwa karena ada orang lewat (sipil, bukan polisi > atatau militer) yang kebetulan membawa senjata, masuk ke dalam sekolah > dan berhasil membujuk pelaku untuk menyudahi aksi gilanya (sepertinya > pelaku tersebut "dibujuk" dengan todongan senjata juga...) >
IMO, contohnya ngga pas. Seandainya si penjahat tidak mempunyai senjata, maka penembakan itu tidak akan pernah terjadi... ya ngga? Seandainya penjahat tidak punya senjata api, maka pembaik eh sipil biasa juga tidak perlu tenteng2 senjata api. Memang apapun alat itu bisa berbahaya jika digunakan secara salah. Clurit bisa buat nyabit rumput atau nyabit lawan tawuran. Masalahnya TINGKAT KERUSAKAN yang ditimbulkan senjata api LEBIH BESAR daripada alat2 non-mesiu lainnya. Misalnya saja si Cho itu cuma pegang clurit (ada ga di amrik ya?) ngamuk ke kampus, maka korban jiwa tidak akan sebanyak ini. Bisa ditangkap pake tangan kosong atau alat lain yang setara sebelum korban banyak berjatuhan. Misalkan lagi beli granat diperbolehkan, maka akan lebih parah lagi kerugian akibat penyalahgunaan oleh orang jahat atau sakit jiwa, meskipun "hero sipil" boleh punya granat juga buat melawannya. just my two-yen, salam, fau
